ISLAMABAD (RIAUPOS.CO) - Pada Kamis (9/4) dan Jumat (10/4) ini, warga Islamabad dan Rawalpindi, Pakistan, mendapat libur dadakan. Semua aparat keamanan, tim penyelamat, dan rumah sakit di kedua kota juga diminta siaga penuh.
Itu bagian dari persiapan Pakistan menjadi tuan rumah pertemuan mahapenting antara Amerika Serikat (AS) dan Iran besok (11/4) di Islamabad. Pada Rabu (8/4), kedua pihak telah menyepakati gencatan senjata dua pekan yang dimediatori Pakistan.
Delegasi AS akan dipimpin Wakil Presiden (Wapres) JD Vance dengan Jared Kushner, menantu Presiden AS Donald Trump, serta Utusan Khusus Trump Steve Witkoff ada di dalamnya. Adapun negosiator Iran bakal dipimpin Menteri Luar Negeri (Menlu) Abbas Araghchi.
Islamabad dan Rawalpindi dua kota bertetangga yang dijuluki “sister city.” Karena itu, mengamankan Islamabad berarti harus mengamankan pula Rawalpindi. AS diketahui telah mengirim tim pendahulu beranggotakan 30 orang ke Islamabad. Mereka bertugas mengukur tingkat pengamanan di sekitar lokasi.
Duta Besar AS untuk Pakistan Natalie Baker juga menemui langsung Menteri Dalam Negeri Pakistan Mohsin Naqvi di Islamabad kemarin (9/4). Dalam pertemuan tersebut, Naqvi menjamin keamanan semua pihak yang terlibat negosiasi.
Baca Juga: JCH Tak DibebaniKenaikan Biaya Penerbangan
Perbedaan Narasi
Sementara itu, perbedaan narasi antara Iran dan AS muncul. Iran menyebut, pembukaan jalur Selat Hormuz dilakukan dengan keterbatasan teknis. Sedangkan Presiden AS Donald Trump mengklaim adanya pembukaan yang lengkap, segera, dan aman. Hingga kini, belum jelas detail teknis, termasuk soal kemungkinan biaya transit.
Di level diplomasi global, upaya mengamankan Selat Hormuz juga menemui jalan buntu. Dilansir News UN, Dewan Keamanan PBB gagal mengesahkan resolusi terkait keamanan jalur tersebut. Sebanyak 11 negara mendukung, namun diveto Rusia dan Cina, sementara Kolombia dan Pakistan abstain.
Resolusi yang diajukan Bahrain bersama negara Teluk itu dinilai berat sebelah karena hanya menyoroti Iran. Duta Besar Iran untuk PBB Amir Saeid Iravani menilai resolusi itu sebagai upaya menyudutkan negaranya. “Untuk menghukum korban karena membela kedaulatan dan kepentingan nasional vitalnya di Teluk Persia dan Selat Hormuz,” katanya.
Israel Malah Terus Serang Lebanon
Di tengah momentum jelang negosiasi antara Iran dan Amerika Serikat (AS) di Pakistan, Israel justru tetap berulah yang bisa membahayakan upaya perdamaian. Negeri Yahudi itu terus melancarkan serangan ke Lebanon dan menewaskan ratusan orang.
Baca Juga: Periksa 4 Tenaga Pendidik dan Beri Trauma Healing, Kasus di SMP Sains Tahfizh Islamic Center Siak
Mengutip Euro News, tanda awal meredanya ketegangan terlihat dari mulai dibukanya kembali jalur pelayaran di Selat Hormuz. Tanker NJ Earth berbendera Yunani dan Daytona Beach berbendera Liberia menjadi yang pertama melintas setelah kesepakatan gencatan senjata dua pekan Iran-AS diumumkan Rabu (8/4) lalu.
Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi menegaskan, pelayaran dibuka dengan pengaturan ketat. “Kapal-kapal akan diizinkan melewati selat tersebut dengan aman selama dua minggu melalui koordinasi dengan angkatan bersenjata Iran dan dengan mempertimbangkan keterbatasan teknis,” ujarnya, seperti dikutip dari Al Jazeera.
Sebagai bentuk tanggung jawab, Korps Garda Revolusi Iran bahkan merilis peta jalur aman untuk membantu kapal menghindari ranjau laut. Kapal diarahkan mengambil rute lebih utara yang mendekati wilayah Iran.
Meski demikian, Lloyd’s List melaporkan, lebih dari 800 kapal masih tertahan di kawasan Teluk. Pelaku industri memperkirakan lalu lintas belum akan kembali normal dalam waktu dekat. Kepala Divisi Kelautan dan Penerbangan Lloyd’s Market Association Neil Roberts menyebut, gencatan senjata memang kabar baik, tetapi belum cukup.
“Dari sudut pandang asuransi, gencatan senjata tentu saja disambut baik. Tetapi, sangat tidak mungkin perdagangan ke Teluk akan langsung berlanjut,” ujarnya, seperti dikutip dari France24.
Korban Berjatuhan
Menteri Kesehatan Lebanon Rakan Nassereddine menyebut, korban terus berjatuhan. Sedikitnya 203 orang tewas dan lebih dari 1.000 lainnya terluka.
Hizbullah dan pemerintah Lebanon menilai Israel kerap menyasar warga sipil ketika gagal mencapai target militer. Dalam situasi ini, Hizbullah disebut sangat bergantung pada Iran untuk mendorong tercapainya gencatan senjata di Lebanon. Dan, Iran dilaporkan sudah menambahkan klausul penghentian serangan ke Lebanon ini dalam negosiasi dengan AS.(lyn/ttg/jpg)
Kecaman juga datang dari PBB. Dilansir Tasnim News Agency, Sekretaris Jenderal PBB Antonio Guterres menyatakan, serangan Israel mengancam proses damai.(lyn/ttg/jpg)
Editor : Arif Oktafian