Riau Pekanbaru Nasional Internasional Hukum Ekonomi Olahraga Berita Hiburan Kesehatan Kriminal Pendidikan Sumatera Politik Perca Liputan Khusus Lingkungan Ladies Kebudayaan Begini Ceritanya Kick Out Hoax Interaktif Gaya Hidup Feature Buku Opini Betuah

Pertanyakan soal Pengawasan Keamanan Pangan MBG 

jpg • Jumat, 24 April 2026 | 10:25 WIB
CHARLES HONORIS. (JPG)
CHARLES HONORIS. (JPG)

 
JAKARTA (RIAUPOS.CO) - Wakil Ketua Komisi IX DPR RI Charles Ho­noris mempertanyakan kinerja Kepala Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM), Taruna Ikrar, terkait lemahnya pengawasan keamanan pangan dalam program Makan Bergizi Gratis (MBG). Hal itu disampaikan dalam Rapat Dengar Pendapat (RDP) di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta. 

Charles menegaskan, BPOM seharusnya sudah menjalankan tugas pengawasan terhadap Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG), sebagaimana dibahas dalam setiap rapat di parlemen.

“Sebetulnya hari ini saya ingin meminta pertanggungjawaban dari Pak Kepala BPOM, karena di rapat yang lalu seharusnya BPOM sudah diberikan penugasan untuk melakukan pengawasan terkait keamanan pangan di SPPG-SPPG,” kata Charles, Rabu (22/4).

Ia juga memperta­nyakan masih terjadinya insiden yang menimpa siswa penerima manfaat program tersebut. “Apa yang menyebabkan masih terjadi keracunan sampai hari ini?” tegasnya.

Charles menyoroti dugaan minimnya keter­libatan BPOM dalam perumusan dan pelaksanaan kebijakan MBG. Ia menilai, belum ada­nya kewajiban sertifikasi bagi dapur operasional menjadi salah satu celah serius.

“Kalau perlu dapur-dapur SPPG itu harus memiliki sertifikasi dari BPOM sebelum diizinkan beroperasi. Namun kenyataannya tidak. Seolah-olah ada kejar target mendirikan dapur sebanyak-banyaknya dalam waktu singkat,” ucap Charles.

Baca Juga: MBG Sudah Berjalan, Wabup Inhu Berharap Tetap Ada Pengawasan dari Balai POM

Selain itu, ia juga mengkritik komposisi anggaran BPOM. Dari total Rp1,95 triliun, sekitar 54 persen dialokasikan untuk belanja pegawai, yang dinilai tidak sejalan dengan prinsip tata kelola yang baik.

“Ini sangat tidak sehat dan tidak mencerminkan good governance. Pedoman dari World Bank menyebutkan belanja pegawai seharusnya tidak lebih dari 20 hingga 30 persen,” tuturnya.

Charles turut mempertanyakan apakah BPOM telah melakukan pengawasan preventif melalui pengambilan sampel secara acak di lapangan.

“Bukan setelah kejadian, tapi sebelum kejadian. Apakah BPOM pernah secara acak mendatangi SPPG, mengambil sampel, lalu menguji kelayakan dan keamanannya? Apakah itu masuk dalam program BPOM?” ujarnya.

Menanggapi hal tersebut, Kepala BPOM Taruna Ikrar menyatakan bahwa beban tugas lembaganya tidak sebanding dengan ketersediaan anggaran. “Dengan anggaran yang ada sebenarnya sudah kami upayakan mencukupi. Namun dalam praktiknya, terdapat proses efisiensi yang mengharuskan kami melakukan penyesuaian,” jelasnya.(jpg) 

Editor : Arif Oktafian
#Mbg #rdp #bpom