Riau Pekanbaru Nasional Internasional Hukum Ekonomi Olahraga Berita Hiburan Kesehatan Kriminal Pendidikan Sumatera Politik Perca Liputan Khusus Lingkungan Ladies Kebudayaan Begini Ceritanya Kick Out Hoax Interaktif Gaya Hidup Feature Buku Opini Betuah

Mendadak Padam Listrik, Mahasiswa UIN Suska Riau Tetap Antusias Tonton "Pesta Babi"

Hendrawan Kariman • Rabu, 13 Mei 2026 | 18:46 WIB
Seorang penonton film Dokumenter "Pesta Babi" yang digelar di UIN Suska Riau, Rabu (13/5/2026), terpaksa berdiri karena keterbatasan tempat duduk. Foto Hendrawan Kariman
Seorang penonton film Dokumenter "Pesta Babi" yang digelar di UIN Suska Riau, Rabu (13/5/2026), terpaksa berdiri karena keterbatasan tempat duduk. Foto Hendrawan Kariman

PEKANBARU (RIAUPOS.CO) -- Puluhan mahasiswa memenuhi ruang teater yang berada di Kampus Pertanian dan Peternakan UIN Suska Riau, Kota Pekanbaru, Rabu (13/5/2026). Ruang yang terbatas membuat beberapa harus berdiri.

Mereka, tidak hanya mahasiswa tapi juga beberapa aktivis dan profesional, menyaksikan pemutaran film dokumenter besutan Dhandy Dwi Laksono berjudul "Pesta Babi". Film ini menggambarkan secara provokatif perambahan hutan dan lahan gambut di Marauke yang berdampak secara sosial dan ekonomi masyarakat tempatan.

Saat sedang asyik menonton, tiba-tiba layar menghitam. Ruangan yang berada di komplek gedung jauh di tengah kampus raksasa UIN Suska Riau itupun turut gelap. Tidak sampai satu menit panitia menyimpulkan listrik padam.

Baca Juga: Begini Cara Pilih Hewan Kurban yang Tepat Menurut Dosen UMM, Jangan Tertipu hanya Melihat Badan Besar Saja

Tidak kehabisan akal, panitia langsung melanjutkan kegiatan siang itu dengan diskusi. Diskusi yang penuh keringat. Bukan hanya soal tema yang menyerempet pada aksi kesewenang-wenangan korporasi maupun pemerintah terhadap masyarakat adat Papua, tapi karena ruangan juga tanpa AC maupun kipas

Namun, tidak satupun mahasiswa meninggalkan ruangan. Apalagi dalam diskusi itu langsung hadir Dhandy Dwi Laksono, orang yang berada di balik film dokumenter "Pesta Babi" yang memang sedang hangat diperbincangkan.

Diskusi ini juga dihadiri tokoh pergerakan mahasiswa Riau Khariq Anhar yang kini sedang menghadapi persekusi di Jakarta. Tampil mengatur tempo diskusi, Mantan Ketua Aliansi Jurnalis Independen (AJI) Pekanbaru yang juga Mantan Ketua KPU Riau, Ilham M Yasir.

Baca Juga: Mentan Amran Optimistis Swasembada Pangan Indonesia Menguat, Gudang Sewa Bulog Terisi Penuh

Diskusi berlangsung cukup lama, penuh keringat dan semangat, sebelumnya akhirnya listrik kembali hidup. Dandhy, jurnalis investigasi yang juga turut melempar film dokumenter Sexy Killer dan Dirty Vote ini, mengakhiri keberadaanya diantara mahasiswa karena keterbatasan waktu.

Ditemui usai meninggalkan ruangan nonton bersama itu, Dandhy mengapresiasi kehadiran para penonton. Tidak hanya mahasiswa, tapi juga hadir para jurnalis dari AJI Pekanbaru, aktivis dan organisasi seperti Walhi Riau hingga LBHI Pekanbaru yang disebutnya telah berkolaborasi. Ia turut menyentil insiden listrik padam yang menginterupsi kegiatan nonton bersama itu.

"Kolaborasi ini terlalu gede untuk dilawan. Tapi mudah-mudahan mati lampu tadi bukan bagian dari melawan koalisi besar ini, tapi sekarang lampu sudah nyala. Teman-teman bisa melanjutkan nonton lagi dan saya senang juga teman-teman bisa mengaitkan antara apa yang terjadi di Papua dengan refleksi 40 tahun pengerukan Riau," ujarnya.

Baca Juga: Antusias Warga Tinggi, Waste Station Bakal Ditambah

Kata-kata '40 tahun pengerukan Riau' ini turut ditimpali Ilham M Yasir. Menurutnya, apa yang terjadi di Papua atau tepatnya di Marauke saat ini, dulu juga terjadi di Riau di era 70-an. Hanya saja, pada masa itu bukanlah era teknologi informasi.

"Sangat kontekstual. Mungkin yang terjadi di Riau masa lalu ya, tapi tidak seperti pendekatan yang ada di Papua kan. Kalau Papua kan sangat kasar ya pendekatannya. Sebenarnya kan besar juga ya peralihan hutan-hutan kita ya, ada adat dan lain sebagainya, gitu. Tapi kita sudah masa lalu ya, mungkin masa-masa Orde Baru," ujar Ilham.

Ilham sendiri tidak begitu terkejut dengan antusiasme para penonton, terutama kalangan mahasiswa. Karena dalam Podcast yang dilakukan Dhandy Laksono sendiri memang para mahasiswa yang bangak melakukan review. Ilham berharap film ini dapat membuka cakrawala dan membangkitkan daya kritis para mahasiswa di Riau, khususnya UIN Suska Riau.

Baca Juga: KPPP SDM Kemenhut Dorong Lulusan SMK Bekerja di Sektor Kehutanan 

Soal film ini, salah seorang penonton Adha Nuraya, sepakat soal membangkitkan daya kritis. Film ini memaksa penonton untuk memikirkan atas apa yang didokumentasikan secara rapi dan dengan dukungan data.

"Ini untuk melihat sisi hukumnya ya, bagaimana perusahaan itu berdiri, kok begitu gampang. Itu harus dikaji lagi betapa mudahnya perusahaan berdiri untuk mengambil HTI, untuk mengambil istilahnya pemanfaatan hutan. Maka mahasiswa harus lebih kritis," ujarnya.

Kegiatan nonton bersama itu turut dihadiri sejumlah Ketua AJI Pekanbaru pada masanya yang saat ini memimpin sejumlah media di Riau. Diantaranya Firman Agus dan juga Fakhrurrozy.

Editor : Rinaldi
#flim pesta babi #listrik padam #mahasiswa uin suska