Destry Pimpin BI Sementara, Pelaku Pasar Wait and See

Tim Redaksi • Dipublikasikan Selasa, 28 Juli 2026 | 09:56 WIB
Menteri Sekretaris Negara, Prasetyo Hadi, memberikan keterangan pers terkait pengunduran diri Perry Warjiyo dari jabatan Gubernur Bank Indonsia di Jakarta, Senin (27/7/2026). (SETPRES RI)
Menteri Sekretaris Negara, Prasetyo Hadi, memberikan keterangan pers terkait pengunduran diri Perry Warjiyo dari jabatan Gubernur Bank Indonsia di Jakarta, Senin (27/7/2026). (SETPRES RI)

 

JAKARTA (RIAUPOS.CO) - Pergantian kepemimpinan Bank Indonesia (BI) memasuki babak baru. Setelah Perry Warjiyo resmi mengundurkan diri, pemerintah menunjuk Deputi Gubernur Senior BI Destry Damayanti sebagai Pejabat Gubernur Sementara sesuai amanat Undang-Undang Bank Indonesia (UU BI).

Menteri Sekretaris Negara, Prasetyo Hadi, mengatakan, Presiden telah menerima surat pengunduran diri Perry secara resmi. Pemerintah selanjutnya akan menerbitkan Keputusan Presiden (Keppres) tentang pemberhentian Perry secara hormat. 

“Presiden menerima pengunduran diri Bapak Perry Warjiyo disertai ucapan terima kasih dan penghargaan setinggi-tingginya atas dedikasi beliau selama tujuh tahun memimpin Bank Indonesia,” ujar Prasetyo dalam konferensi pers di Jakarta, Senin (27/7).

Baca Juga: BGN Tutup 833 SPPG, Pecat 261 Pegawai

Sesuai UU BI, apabila jabatan gubernur kosong, tugas kepemimpinan dijalankan Deputi Gubernur Senior. “Deputi Gubernur Senior yang dimaksud adalah Ibu Destry Damayanti. Beliau akan menjalankan seluruh tugas sebagai Pejabat Gubernur Sementara,” katanya.

Sementara itu, Destry menjelaskan, penetapannya sebagai Pejabat Gubernur Sementara diputuskan dalam Rapat Dewan Gubernur BI pada 26 Juli 2026, sehari setelah Perry menyampaikan pengunduran diri dengan alasan pribadi. Menurut dia, pergantian kepemimpinan tidak akan mengganggu pelaksanaan tugas BI.

“Bank Indonesia tetap menjalankan seluruh mandat menjaga stabilitas nilai rupiah, sistem pembayaran, dan stabilitas sistem keuangan untuk mendukung pertumbuhan ekonomi,” ujarnya.

Baca Juga: KPK Dalami Keterangan Dirjen Penataan Agraria

Terkait gubernur definitif, Destry mengatakan prosesnya mengikuti Pasal 40 dan Pasal 42 UU BI. Presiden akan mengusulkan calon kepada DPR untuk mendapatkan persetujuan. “Posisi saya saat ini sebagai Pejabat Gubernur Sementara sampai gubernur definitif ditetapkan sesuai mekanisme undang-undang,” katanya.

Dia menegaskan, seluruh keputusan strategis BI tetap diambil melalui mekanisme komite dan Rapat Dewan Gubernur sehingga kesinambungan kebijakan tetap terjaga.

Hingga saat ini, pemerintah belum menyampaikan keterangan lebih lanjut terkait alasan pengunduran diri Perry Warjiyo. Proses penunjukan gubernur definitif yang akan menggantikan posisi tersebut juga masih menunggu mekanisme lebih lanjut.

Baca Juga: Ini yang Menjadi Alasan Kejagung Menahan Eks Jampidsus Febrie Adriansyah di Rutan KPK

Pengunduran diri ini menjadi perhatian publik mengingat peran strategis Perry Warjiyo dalam menjaga stabilitas moneter. Ia telah memimpin bank sentral melalui berbagai tantangan ekonomi dan sistem keuangan nasional selama masa jabatannya.

“Pemerintah memastikan bahwa roda kepemimpinan dan pelaksanaan tugas Bank Indonesia tetap berjalan sesuai ketentuan yang berlaku. Stabilitas dan kepercayaan terhadap sistem keuangan nasional akan terus dijaga,” kata Prasetyo.

Pengunduran Perry Tekan Psikologi Pasar

Guru Besar Universitas Airlangga Rahma Gafmi menilai, pengunduran diri Perry berpotensi memicu tekanan psikologis di pasar keuangan dalam jangka pendek. Investor akan mencermati arah kebijakan bank sentral di tengah tekanan ekonomi global dan pelemahan rupiah.

Baca Juga: Tahun Ini, Materi Edukasi Pencegahan LGBTQ Diterapkan di Sekolah

Menurut Rahma, pelemahan rupiah hingga mendekati Rp17.600 hingga Rp 18.150 per dolar AS menjadi salah satu tekanan terbesar yang dihadapi BI. Kondisi itu berdampak terhadap harga barang impor, utang luar negeri, dan daya beli masyarakat. 

Selain itu, konflik global dan perang AS-Iran yang mengganggu jalur energi di Selat Hormuz turut mendorong kenaikan harga minyak dunia dan memperkuat dolar AS. Meski mendapat sorotan, Rahma menilai BI telah bekerja maksimal menghadapi tekanan eksternal. “Permasalahan utamanya adalah external shock yang sulit dihindari serta kebijakan fiskal yang tidak selalu sejalan dengan target moneter BI,” ujarnya.

Pasar Masih Fluktuatif 

Rahma memperkirakan pasar saham, rupiah, dan Surat Berharga Negara (SBN) akan bergerak lebih volatil dalam jangka pendek. “Pasar kemungkinan masih wait and see sambil melihat arah kebijakan moneter setelah pergantian pimpinan BI,” katanya.

Menurut dia, penunjukan Destry memberi sinyal kesinambungan kebijakan karena berasal dari internal BI. Namun, investor tetap menunggu efektivitas langkah-langkah stabilisasi yang akan ditempuh. “Investor akan melihat bagaimana BI menjaga kredibilitas rupiah dan pengendalian inflasi di tengah ketidakpastian global.”

Rahma menilai gubernur BI berikutnya menghadapi sejumlah pekerjaan rumah. Pertama, memperkuat transmisi kebijakan moneter agar lebih cepat dirasakan sektor riil. Kedua, menjaga agar instrumen seperti SRBI, SVBI, dan SUVBI tidak mengurangi penyaluran kredit perbankan. 

Selain itu, BI harus menjaga likuiditas perbankan, mempercepat transmisi penurunan suku bunga ke bunga kredit, serta memperkuat implementasi kebijakan Devisa Hasil Ekspor (DHE) guna menjaga cadangan devisa. “Independensi BI merupakan fondasi utama agar pasar percaya terhadap arah kebijakan makroekonomi Indonesia,” tegasnya.

Pasar Cermati Pengganti Perry

Ekonom Universitas Brawijaya Noval Adib menyebut pengunduran diri Perry cukup mengejutkan karena selama ini BI dinilai berhasil meredam tekanan terhadap rupiah melalui kebijakan moneter yang agresif. “Kondisi ini tentu menjadi perhatian serius pelaku pasar,” ujarnya.

Menurut Noval, Perry bukan hanya pejabat, tetapi juga simbol kredibilitas BI. Karena itu, pasar akan mencermati siapa gubernur definitif yang ditunjuk pemerintah. Sementara itu, penunjukan Destry dinilai mampu meredam kepanikan karena merupakan bagian dari tim Perry dan telah dikenal pelaku pasar. 

Meski demikian, investor tetap menunggu sosok gubernur definitif. “Jika mampu menjaga independensi BI, pasar akan merespons positif. Sebaliknya, bila dipersepsikan sebagai perpanjangan tangan pemerintah, respons pasar bisa negatif,” katanya. Noval menambahkan, pergerakan IHSG yang masih sideways menunjukkan investor memilih menunggu kepastian arah kebijakan BI.

Anggota Komisi XI DPR Marwan Jafar mengatakan, siapa pun gubernur BI yang terpilih harus mampu menjaga independensi bank sentral. “Independensi BI bukan sekadar prinsip kelembagaan, melainkan syarat agar kebijakan moneter diambil secara objektif,” ujarnya.

Menurut dia, proses pemilihan gubernur definitif harus mengedepankan profesionalisme, integritas, kompetensi, dan kepentingan nasional.

Publik Pertanyakan Alasan Perry Mundur

Pengunduran diri Perry juga menjadi sorotan publik karena tergolong langka dalam sejarah BI. Akun X @abulmuzaffar10 menulis, sejak 1958 hanya dua gubernur BI yang mengundurkan diri sebelum masa jabatannya berakhir, yakni Boediono yang maju sebagai calon wakil presiden dan Perry Warjiyo yang menyampaikan alasan pribadi.

Akun tersebut juga membandingkan Perry dengan gubernur BI pada masa krisis 1966 maupun krisis moneter 1997 yang tetap bertahan memimpin bank sentral. Cuitan itu menyebut pergantian pimpinan BI di tengah kondisi ekonomi saat ini berpotensi memunculkan persepsi adanya intervensi terhadap independensi bank sentral. Persepsi tersebut dinilai dapat memengaruhi kepercayaan pasar.(mim/jpg)

Editor : Arif Oktafian
Destry Damayanti perry warjiyo bi bank indonesia