JAKARTA (RIAUPOS.CO) – Mesin ekonomi Indonesia masih melaju, namun kecepatannya mulai turun. Setelah tumbuh 5,45 persen pada semester pertama 2026, ekonomi nasional diperkirakan menghadapi perlambatan pada paruh kedua tahun ini.
Permata Bank memproyeksikan pertumbuhan ekonomi sepanjang 2026 berada di level 5,26 persen. ’’Kami masih melihatnya cukup objektif dan konservatif. Artinya, di kuartal III dan kuartal IV akan melandai sehingga full year-nya di 5,26 persen,’’ kata Chief Economist Permata Bank Josua Pardede di Jakarta kemarin (12/8).
Perlambatan bahkan berpotensi berlanjut hingga 2027. Salah satu faktor yang memengaruhi adalah dampak kenaikan suku bunga acuan pada tahun ini. Meskipun demikian, pertumbuhan ekonomi diperkirakan kembali menguat pada 2028 dengan proyeksi mencapai 5,33 persen.
Baca Juga: Daihatsu Tutup GIIAS 2026 dengan Tiga Prestasi
Head of Macroeconomics & Market Research Permata Bank Faisal Rachman mengatakan fondasi ekonomi Indonesia hingga semester pertama masih cukup kuat. Ekonomi tumbuh 5,45 persen secara tahunan. Namun, jika dilihat per kuartal, lajunya mulai melambat.
Pertumbuhan ekonomi turun dari 5,61 persen pada kuartal I menjadi 5,29 persen pada kuartal II. Menurut Faisal, ketahanan ekonomi pada paruh pertama terutama ditopang permintaan domestik dan kebijakan fiskal pemerintah. ’’Sedangkan dari sisi eksternal, sumbangan ke growth malah negatif,” ujarnya.
Tekanan terhadap ekspor tidak lepas dari perang dagang yang terjadi pada awal tahun. Gangguan rantai pasok global akibat meningkatnya ketegangan geopolitik turut menjadi beban. Perlambatan ekonomi sejumlah mitra dagang utama, seperti Amerika Serikat dan Cina, juga ikut menekan kinerja eksternal Indonesia.
Baca Juga: Pertalite untuk Desil 9-10 Bakal Dibatasi Bertahap
Di dalam negeri, konsumsi rumah tangga masih menjadi penopang utama. Pertumbuhannya tetap berada di atas 5 persen dan telah kembali ke level sebelum pandemi. Investasi juga masih tumbuh. Namun, Faisal menilai peningkatan tersebut belum sepenuhnya mencerminkan penguatan investasi swasta. Sebagian pertumbuhan justru didorong program pemerintah, termasuk pembangunan fasilitas pendukung program Makan Bergizi Gratis (MBG) dan Koperasi Desa/Kelurahaan Merah Putih.
’’Memang masih cukup resilient, tetapi resiliency itu sangat ditopang oleh kebijakan pemerintah, terutama program-program pro-growth yang ditopang fiscal driven,’’ jelas Faisal.
Untuk menjaga daya beli masyarakat pada semester II, pemerintah telah menyiapkan paket stimulus senilai Rp 26,34 triliun. Sekitar 70 persen anggaran tersebut diarahkan untuk kebutuhan pangan dan biaya hidup. Namun, stimulus tersebut dinilai belum cukup kuat untuk mengakselerasi pertumbuhan.
Kebijakan itu lebih berfungsi sebagai penahan laju perlambatan agar ekonomi tidak jatuh di bawah level 5 persen.(mim/dio/jpg)
Editor : Arif Oktafian