Riau Pekanbaru Nasional Internasional Hukum Ekonomi Olahraga Berita Hiburan Kesehatan Kriminal Pendidikan Sumatera Politik Perca Liputan Khusus Lingkungan Ladies Kebudayaan Begini Ceritanya Kick Out Hoax Interaktif Gaya Hidup Feature Buku Opini Betuah

Tetap Puasa, Dapat Perak Olimpiade

Redaksi • Senin, 23 Juli 2012 | 07:26 WIB
LONDON (RP) - Olimpiade London 2012 bertepatan dengan bulan Ramadan 1433 H. Takut performa menurun, banyak atlet yang absen puasa bulan ini. Namun, mereka berjanji menggantinya setelah Olimpiade.

Saat ini, tak mudah menjalani Ramadan di London, Inggris. Karena bertepatan dengan musim panas, siang bisa berlangsung minimal 18 jam. Artinya, muslim tidak diperbolehkan menyentuh makanan dan minuman selama itu.

Kondisi itu disadari penuh oleh atlet yang akan berlaga di Olimpiade 2012. Bagi mereka, mustahil untuk puasa tanpa kehilangan kemampuan kompetitif maksimal. Oleh karena itulah, sebanyak 3.500 atlet muslim yang berlaga di London, sebagian besar memilih tidak berpuasa tahun ini.

“Saya tidak bisa berpuasa. Saya perlu banyak hal di tubuh ini. Protein, karbohidrat, dan mineral,” kata atlet kayak asal Mesir, Mustafa Saied seperti dilansir Associated Press.

“Saya akan menggantinya setelah Ramadan. Saya yakin Allah akan menerimanya. Sebab saya memiliki alasan yang sangat penting dan kuat,” imbuhnya.

Selain Mustafa atlet Mesir lainnya Yasser Hefny (pentathlon) juga tidak berpuasa. Namun dia bertekad untuk membayar fidyah yakni memberi makan orang miskin sebagai ganti ibadahnya. “Memang tidak mungkin rasanya untuk berpuasa di London,” ucapnya.

Berbeda dari atletnya, pelatih pentathlon Mesir, Sherif al-Eryan menegaskan dia tetap akan berpuasa. Namun, al-Eryan menegaskan dia akan tetap menyediakan menu lengkap untuk sarapan dan makan siang atlet.

“Saya kira tidak ada masalah. Kami sepakat bahwa para atlet tidak puasa. Namun para pelatih tetap akan menjalaninya. Toh kami tidak mengeluarkan banyak tenaga seperti atlet,” jelasnya.

Suleiman Nyambui mantan pelari jarak jauh asal Tanzania, mendorong atlet muslim untuk tetap menjalankan rukun Islam itu. Dia mencontohkan, saat Olimpiade 1980 di Moskow, Suleiman berpuasa dan lantas berlomba. Hasilnya fantastis. Pria yang sekarang berusia 59 tahun tersebut meraih medali perak. “Jika Anda memutuskan melakukan sesuatu, Allah akan berada di belakang Anda,” ungkapnya.

Suleiman menambahkan, berlatih di bulan Ramadan lebih berat ketimbang berkompetisi. Sedangkan hari pertama paling menyiksa karena tubuh membutuhkan adaptasi.

Di sisi lain banyak atlet profesional yang terkenal tetap menjalankan puasa meski bertanding dalam kompetisi yang keras. Misalnya mantan bintang NBA yang juga anggota tim nasional basket Amerika Serikat, Hakeem Olajuwon dan Shareef Abdur-Rahim.  

Pihak penyelenggara sudah menegaskan komitmennya untuk mengakomodasi umat Islam saat puasa ini. Semua atlet, media, penonton, dan sukarelawan disediakan air, buah, dan biskuit. Perkampungan atlet melayani order selama 24 jam untuk katering dan daging halal.

“Ramadan tidak hanya absen dari makan dan minum. Tetapi juga membangun kesadaran dan kepekaan kita terhadap orang-orang yang tidak beruntung,” kata satu dari lima imam Masjid di Olympic Park, Younis Dhudwala.(nur/ted) Editor : RP Redaksi