"BERI dia (Hakim Ziyech, red) kebebasan, maka dia akan memberikan nyawanya untukmu..."
Arsitek Maroko, Walid Regragui, mengatakan hal itu setelah timnya menang 2-1 atas Kanada di penyisihan terakhir Grup F Piala Dunia 2022. Dalam pertandingan yang dipentaskan di Stadion Al Thumama, Doha, 1 Desember 2022 itu, Ziyech mencetak gol pembuka pada menit keempat, yang dilengkapi oleh Youssef En-Nesyri pada menit ke-23.
Kemenangan yang membuat dunia tercengang: Maroko menjuarai Grup F dengan salah satunya memulangkan tim favorit Belgia yang dikalahkannya 2-0. Kroasia, sang finalis Piala Dunia 2018, harus puas menjadi runner-up grup. Komposisi ini membuat Maroko harus bertemu Spanyol yang secara mengejutkan dikalahkan Jepang, dan menjadi runner-up grup.
Maroko kemudian membuat Spanyol yang diisi hampir seluruh pemain Barcelona --termasuk pemain cadangan klub Catalans itu-- pulang lebih cepat. Mereka menang adu penalti 3-0, setelah bermain 0-0 di 120 menit. Di perempatfinal, lawan sekelas Spanyol sudah menghadang: Portugal. Dan, gol tunggal En-Nesyri lewat lompatan tingginya, memcatatkan sejarah bagi Singa Atlas ini: Afrika pertama yang lolos ke semifinal Piala Dunia. Di luar Eropa dan Amerika Latin, sebelum Maroko, hanya Amerika Serikat dan Korea Selatan (Korsel) yang bisa lolos ke semifinal.
Apa yang dikatakan Walid Regragui kepada Ziyeck, sejatinya adalah lecutan semangat yang diberikan kepada seluruh pemain Maroko. Dia tahu potensi para pemainnya meskipun tidak semuanya bermain di klub besar dan jadi bintang seperti halnya pemain-pemain Spanyol dan Portugal. Dia tak punya bintang sekelas Cristiano Ronaldo, Bernardo Silva, Alvaro Morata, atau Marco Asensio.
Tapi dia punya Ziyech, mantan bintang yang bersinar bersama Ajax Amsterdam namun jarang dimainkan oleh Chelsea saat ini. En-Nesyri yang diplot sebagai striker utama, setelah dua musim lalu begitu diandalkan Sevilla, kini juga tak lagi menjadi penyerang utama di klub Spanyol tersebut. Lalu, Yassine Bounou, kiper yang menjadi pahlawan saat tos-tosan dengan Spanyol, sebenarnya juga harus menunggu lama untuk menjadi kiper nomor satu di Sevilla.
Sofyan Amrabat, sang gelandang pengangkut air yang tak kenal menyerah di setiap pertandingan, bukanlah bintang terang di Serie A Italia. Meski menjadi salah satu nyawa lini tengah Fiorentina dalam tiga musim terakhir, namun lelaki kelahiran Belanda ini --sama dengan negara lahir Ziyeck-- jarang mendapatkan sorotan media. Dia dianggap pemain biasa saja. Begitu juga dengan Romain Ghane Paul Sasiss, sang kapten yang mengalami cedera saat melawan Portugal. Bek kelahiran Prancis ini juga bukan pemain hebat sekelas Pepe atau Rodrigo. Sepanjang karirnya dihabiskan di klub-klub semenjana seperti Angers SO, Le Havre, Wolverhamton, hingga Besiktas sekarang.
Nama-nama lain seperti Sofiane Boufal (Angers SCO), Azzedine Ouhani (Wydad Casablanca), Yahya Attiat-Allah El Idrissi (Wydad Casablanca), Walid Cheddira (Bari), Abdessamad Ezzalzouli (Osasuna), dan pemain-pemain lainnya bahkan bermain di klub-klub kecil dan lokal Maroko yang sebelumnya mungkin tak pernah terdengar di telinga kita.
Jika klub besar yang menjadi ukuran --selain Ziyech, Bono, dan En-Nesyri-- hanya Achraf Hakimi yang bisa disebut bintang. Hakimi seperti dilahirkan untuk bermain di klub-klub besar. Dimulai dari Real Madrid (klub kota kelahirannya), lalu bermain luar biasa di Borussia Dortmund selama dua musim, ikut membawa Inter Milan juara Serie A pada musim 2020/2021, dan selama dua musim ini bermain reguler bersama Lionel Messi, Kylian Mbappe, Neymar Jr dan bintang-bintang besar lainnya di Paris Saint-Germain (PSG).
Regragui sadar, secara materi pemain, Maroko bukanlah lawan yang seimbang dibanding Spanyol atau Portugal. Dia juga harus membenahi Maroko sebagai sebuah tim setelah Federasi Sepakbola Maroko memecat pelatih yang mengantarkan ke Piala Dunia, Vahid Halillhodzic. Pelatih asal Bosnia ini diberhentikan tiga bulan sebelum Piala Dunia 2022 dimulai. Alasannya: tak mau membawa Ziyeck dalam timnya. Semua orang Maroko tahu pertikaian keduanya. Ziyeck bahkan nyaris gantung sepatu di usia muda untuk tim nasional dan tak bermain di Qatar jika pelatih asal Bosnia itu masih menangani tim.
Itulah mengapa mantan pelatih Wydad Casablanca dan FUS Rabat ini mengatakan bahwa para pemain harus dibebaskan di lapangan karena mereka yang bermain. Pelatih hanya memberikan skema, taktik, dan strategi, dan melatih mereka. Kebebasan ini yang tak didapatkan Ziyeck di era Halillhodzic. Dia bahkan dituduh berbohong dengan beralasan cedera saat dipanggil ke timnas.
Di luar itu, Regragui dan seluruh pemain Maroko merasa senang karena "separuh" dunia kini mendukung mereka. Sebelum berhadapan dengan Portugal, Maroko mendapat dukungan dari seluruh negara Arab yang berada di Afrika atau Timur Tengah. Maroko juga mendapatkan dukungan dari semua negara dunia ketiga dalam sepakbola yang sudah tersingkir di Piala Dunia 2022 atau mereka yang tak lolos ke kejuaraan empat tahunan itu. Ini membuat semangat bermain mereka berlipat ganda.
Apa yang didapat Ziyech dkk lolos ke semifinal ini, adalah puncak yang mungkin tak terpikirkan sejak awal. Mereka bisa sejauh ini karena kerja keras. Jika pun nanti kalah dari Prancis di semifinal, setidaknya mereka sudah mengukir sejarah. Sama seperti apa yang didapat Korsel tahun 2002 lalu di kandang sendiri. Sebuah pencapaian langka yang hingga kini belum bisa diulangi lagi.
Partai semifinal ini akan menarik karena "legiun asing" Maroko (pemain-pemain Maroko yang lahir di Eropa, termasuk Prancis) akan bertarung melawan juara bertahan. Sama seperti saat berhadapan dengan Spanyol maupun Portugal, Maroko jelas tak diunggulkan. Tapi, segalanya bisa saja terjadi.***
Editor: Edwar Yaman
Editor : RP Edwar Yaman