HORSENS (RIAUPOS.CO) - Sejak berpartisipasi di Piala Thomas pada 1958, baru kali ini Indonesia tersingkir di fase grup. Ya, skuad Merah Putih gagal lolos fase knockout setelah ditaklukkan Prancis dengan skor telak 1-4 pada laga penentuan Grup D di Forum Horsens, Denmark, Rabu (29/4).
Pengamat bulutangkis Broto Happy menilai, itu merupakan sejarah kelam. “Ya, baru kali ini kan, di kepengurusan ini kan, itu sebuah tamparan keras bagi kita,” kata Broto, Rabu (29/4).
Broto menuturkan, secara skuad pemain yang dibawa ke Piala Thomas adalah komposisi terbaik. “Tapi, tersingkir di fase grup, itu menunjukkan bahwa kita bukan negara yang disegani lagi di pentas bulutangkis dunia,” paparnya.
Baca Juga: The Tricky Trees Usung Misi Ganda
Sejak mendengar Indonesia satu grup dengan Prancis, Broto sudah mengingatkan bahwa negara ini bukanlah sekadar kuda hitam. “Tapi bisa jadi penghambat laju Indonesia. Ternyata benar. Jadi sayang banget,” katanya
Broto menegaskan, setelah ini, PBSI disebutnya harus benar-benar evaluasi. “Jangan hanya ngomong evaluasi, kita kan setelah kalah evaluasi, setelah kalah evaluasi, tapi tidak pernah disampaikan ke publik. Evaluasinya apa, hasilnya apa, kemudian setelah itu, apa yang dievaluasi itu apa,” ucapnya.
Dia mencontohkaan jika ada ember yang bocor, tentu harus tahu apa yang harus dilakukan. “Ditambal, atau apa, beli ember baru, kira-kira gitu loh. Tapi kan tidak pernah disampaikan. Yang muncul di permukaan semua, ya setelah kalah kita akan evaluasi, kita akan evaluasi, tapi evaluasinya apa tidak tahu,” cetusnya.
Baca Juga: Mohamed Salah Akan Kembali sebelum Akhir Musim untuk Pertandingan Perpisahan dengan Liverpool
Harus Ada Perubahan Pembinaan
Mantan ganda putra Candra Wijaya juga bersuara. Dia kaget dengan kegagalan tim Thomas Indonesia. “Tapi memang saya tidak tahu kondisi di lapangan seperti apa sebenarnya, saya cukup optimistis dengan tim ini,” tuturnya.
Candra menuturkan, apa yang terjadi dengan tim Thomas Indonesia saat ini adalah hasil pembinaan dari 5-10 tahun ke belakang. Artinya, harus dievaluasi apa yang salah dengan pembinaan selama ini. “Banyak yang perlu dibenahi,” ujarnya.(raf/rid/fiq/bas/jpg)
Editor : Arif Oktafian