Riau Pekanbaru Nasional Internasional Hukum Ekonomi Olahraga Berita Hiburan Kesehatan Kriminal Pendidikan Sumatera Politik Perca Liputan Khusus Lingkungan Ladies Kebudayaan Begini Ceritanya Kick Out Hoax Interaktif Gaya Hidup Feature Buku Opini Betuah

Rahasia Jepang Unggul dari Korsel

Tim Redaksi • Senin, 29 Juni 2026 | 11:22 WIB
Penyerang Jepang, Daizen Maeda (kanan),  berebut bola dengan bek Swedia, Gustaf Lagerbielke, dalam penyisihan terakhir Grup F Piala Dunia 2026 di Stadion Dallas, Arlington, Kamis (25/6/2026).  Keduanya bermain imbang 1-1 dan sama-sama lolos ke fase gugur.(Aric Becker/AFP )
Penyerang Jepang, Daizen Maeda (kanan), berebut bola dengan bek Swedia, Gustaf Lagerbielke, dalam penyisihan terakhir Grup F Piala Dunia 2026 di Stadion Dallas, Arlington, Kamis (25/6/2026). Keduanya bermain imbang 1-1 dan sama-sama lolos ke fase gugur.(Aric Becker/AFP )

 WASHINGTON DC (RIAUPOS.CO)- Perjalanan Jepang dan Korea Selatan (Korsel) di Piala Dunia kali ini memperlihatkan kontras yang sulit diabaikan. 

Jepang mampu melewati fase grup tanpa menelan kekalahan, sementara Korsel harus berjuang hingga akhir dan bergantung pada hasil pertandingan tim lain untuk menjaga asa melaju ke babak berikutnya. 

Perbedaan hasil tersebut memunculkan banyak kritik terhadap pelatih Korsel, Hong Myung-bo.

Namun, jika melihat lebih dalam, persoalannya tampaknya tidak sesederhana pergantian pelatih. Kesenjangan yang kini terlihat merupakan hasil dari proses panjang yang dibangun dengan pendekatan berbeda oleh kedua negara.

Baca Juga: JERMAN V PARAGUAY : lampiaskan kemarahan!

Salah satu indikator paling mencolok adalah jumlah pemain yang berkarier di liga-liga elite Eropa. Jepang kini memiliki sekitar 62 pemain yang tersebar di delapan kompetisi utama Benua Biru. Sementara itu, Korea Selatan hanya memiliki sekitar 13 pemain.

Di Premier League, Jepang memiliki empat pemain aktif, sedangkan Korsel hanya diwakili oleh Hwang Hee-chan.

Di Bundesliga, Jepang memiliki sekitar 15 pemain, sedangkan Korsel hanya empat. Bahkan di Liga Belgia, jumlah pemain Jepang mencapai 19 orang, menunjukkan betapa luasnya penyebaran talenta mereka di kompetisi Eropa.

Banyaknya pemain yang tampil secara rutin di level tertinggi membuat kualitas dan pengalaman mereka berkembang lebih cepat.

Para pemain Jepang terbiasa menghadapi lawan dengan intensitas tinggi setiap pekan, sehingga ketika kembali memperkuat tim nasional, mereka membawa standar permainan yang lebih kompetitif.

Keberhasilan tersebut bukanlah sesuatu yang muncul secara instan. Sejak 2005, Asosiasi Sepakbola Jepang telah menetapkan target jangka panjang untuk menjadi juara dunia pada tahun 2050.

Target tersebut kemudian diterjemahkan menjadi berbagai kebijakan yang melibatkan federasi, klub, hingga para pemain.

Klub-klub J League tidak ragu melepas pemain mudanya ke Eropa, bahkan ketika harus kehilangan aset penting. Prioritas mereka bukan hanya keuntungan finansial, melainkan mempercepat perkembangan pemain agar mampu bersaing di level tertinggi dunia.

Baca Juga: BRAZIL V JEPANG : Selecao Belajar dari Tokyo

Di sisi lain, para pemain Jepang juga dikenal berani mengambil tantangan baru. Banyak yang memilih kesempatan berkembang di Eropa dibanding bertahan dengan kontrak bernilai besar di dalam negeri. Budaya tersebut membuat regenerasi pemain terus berjalan.

Langkah Jepang juga tidak berhenti pada pengembangan pemain. Baru-baru ini, inisiatif federasi mereka mendorong kerja sama antara AFC dan UEFA terkait pengakuan lisensi kepelatihan.

Kesepakatan itu membuka peluang lebih besar bagi pelatih Jepang untuk bekerja, belajar, dan menimba pengalaman langsung di Eropa.

Baca Juga: Lionel Messi Kembali Mencetak Gol untuk Mengamankan Kemenangan Sempurna Argentina di Fase Grup Piala Dunia 2026

Sebaliknya, Korsel masih lebih banyak mengandalkan program pelatihan jangka pendek atau kesempatan yang bergantung pada jaringan pribadi. Hal tersebut membuat proses transfer ilmu berlangsung lebih lambat.

Korsel memang masih memiliki pemain kelas dunia seperti Son Heung-min. Namun, keberadaan satu atau dua bintang belum cukup untuk menjaga daya saing sebuah tim nasional dalam jangka panjang.

Sebaliknya, Jepang berhasil membangun sistem yang mampu melahirkan pemain berkualitas secara berkesinambungan tanpa harus bergantung pada satu sosok. Itulah yang kini menjadi pembeda terbesar antara kedua negara.

Hasil di Piala Dunia kali ini menjadi gambaran bahwa keberhasilan sepak bola modern tidak hanya ditentukan oleh kualitas individu ataupun pergantian pelatih.

Fondasi yang dibangun melalui visi jangka panjang, pembinaan yang konsisten, serta keberanian berinvestasi pada masa depan menjadi faktor utama yang membuat Jepang kini selangkah, bahkan beberapa langkah, berada di depan Korsel.(jpg)

 

Editor : Arif Oktafian
#SEPAK BOLA ASIA #korea selatan #pemain jepang #piala dunia #jepang