PEKANBARU (RIAUPOS.CO) - Dua tahun telah berlalu sejak pesta olahraga terbesar di Indonesia, Pekan Olahraga Nasional (PON) XXI Aceh-Sumut 2024, ditutup dengan gemuruh tepuk tangan dan euforia kemenangan.
Di balik kilauan medali yang pernah mengharumkan nama Riau di panggung nasional, tersimpan kisah lain yang jauh dari sorak-sorai. Kisah tentang penantian panjang para atlet dan pelatih yang hingga kini masih menunggu hak mereka berupa bonus atlet berprestasi peraih medali.
Bagi seorang atlet, medali memang menjadi simbol perjuangan. Namun bonus yang dijanjikan pemerintah daerah bukan sekadar hadiah.
Baca Juga: Hadirkan Rifat Sungkar, Hasilnya Beyond Expectation
Bonus adalah bentuk penghargaan atas pengorbanan waktu, tenaga, pikiran, bahkan masa depan yang mereka pertaruhkan demi membawa nama daerah berdiri sejajar dengan provinsi lain.
Namun hingga pertengahan 2026, bonus tahap kedua sebesar 55 persen bagi atlet dan pelatih PON XXI masih belum juga dibayarkan oleh Dinas Pemuda dan Olahraga (Dispora) Riau.
Lebih memprihatinkan lagi, belum ada kepastian kapan hak tersebut akan diterima.
Situasi ini memantik kekecewaan mendalam di kalangan atlet dan pelatih. Mereka merasa perjuangan yang telah dilakukan selama bertahun-tahun seolah kehilangan makna ketika penghargaan yang dijanjikan terus tertunda.
Pelatih senam Riau, Ahmad Markos, mengaku sulit menerima kenyataan bahwa Riau menjadi satu-satunya provinsi yang belum menuntaskan pembayaran bonus PON.
"Sudah dua tahun kami menunggu. Riau menjadi satu-satunya provinsi yang belum menyelesaikan bonus PON. Ini sangat memalukan, apalagi banyak daerah dengan kemampuan fiskal lebih rendah justru sudah menuntaskan kewajibannya kepada atlet dan pelatih," ujarnya dengan nada kecewa.
Baca Juga: Wilayah Riau Berpotensi Diguyur Hujan Disertai Petir dan Angin Kencang
Ucapan itu bukan sekadar keluhan. Di baliknya tersimpan rasa lelah yang selama ini dipendam oleh para insan olahraga.
Mereka telah menjalani latihan bertahun-tahun dengan disiplin tinggi, meninggalkan keluarga, bahkan mengorbankan pekerjaan maupun pendidikan demi mengejar prestasi.
Bagi sebagian atlet, bonus tersebut telah direncanakan untuk berbagai kebutuhan penting.
Baca Juga: Promo Back to School Service Suzuki, Saatnya Naik Kelas
Ada yang ingin membantu ekonomi keluarga, melanjutkan pendidikan, membuka usaha, hingga mempersiapkan masa depan setelah pensiun dari dunia olahraga. Penundaan selama dua tahun membuat berbagai rencana itu terpaksa tertunda.
Kekecewaan juga dirasakan para atlet disabilitas yang berhasil mengharumkan nama Riau pada Pekan Paralimpik Nasional (Peparnas) XVII Solo 2024.
Mereka yang berjuang dengan keterbatasan fisik justru menunjukkan semangat luar biasa untuk mempersembahkan medali bagi daerah. Bagi mereka, bonus bukan sekadar nominal uang.
Baca Juga: UIR Raih Juara Umum LTMI Tingkat LLDIKTI Wilayah XVII
Bonus adalah pengakuan bahwa perjuangan mereka dihargai setara dengan atlet lainnya.
Karena itu, keterlambatan pembayaran turut meninggalkan luka psikologis bagi para atlet yang selama ini telah membuktikan bahwa keterbatasan bukan penghalang untuk berprestasi.
Di sisi lain, Dispora mengakui bahwa kondisi keuangan daerah menjadi penyebab utama belum terselesaikannya pembayaran bonus. Defisit anggaran disebut sebagai persoalan yang berada di luar perkiraan.
Baca Juga: Khas Hotel Hadirkan Promo School Holi Deals Room Package
Kepala Dispora Riau, Yurnalis Basri, mengatakan pihaknya belum mampu memastikan kapan bonus tersebut akan dicairkan.
"Kita menghadapi keadaan yang di luar ekspektasi kita seperti defisit. Tapi kalau diminta kapan pastinya jawaban saya yang paling aman itu Wallahu a'lam bishawab. Tapi kalau kapan pastinya jangan didesak saya,"ujarnya kepada wartawan, Senin (6/7/2026) malam.
Pernyataan tersebut justru menambah kegelisahan para atlet. Mereka tidak hanya membutuhkan penjelasan mengenai kondisi keuangan daerah, tetapi juga kepastian.
Baca Juga: PSPS Tambah Tiga Amunisi Baru
Sebab hingga kini, yang mereka terima hanyalah janji dan penjelasan yang terus berulang tanpa tenggat waktu yang jelas.
Fenomena ini menjadi ironi bagi dunia olahraga Riau. Di satu sisi pemerintah selalu menggaungkan pentingnya pembinaan prestasi, peningkatan kualitas atlet, serta target pencapaian pada ajang nasional.
Namun di sisi lain, penghargaan terhadap atlet yang telah membuktikan prestasi justru belum mampu dituntaskan. Padahal penghargaan terhadap atlet tidak berhenti ketika medali diserahkan di podium.
Baca Juga: Kiper tanpa Klub Jadi Unsung Hero
Penghargaan sejati diwujudkan melalui komitmen memenuhi hak-hak mereka secara tepat waktu. Tanpa kepastian tersebut, kepercayaan atlet terhadap sistem pembinaan olahraga dapat terkikis.
Bukan tidak mungkin kondisi ini juga akan berdampak terhadap motivasi generasi muda yang bercita-cita menjadi atlet.
Ketika prestasi belum sepenuhnya mendapat penghargaan yang layak, muncul pertanyaan sederhana yang sulit dijawab: apakah perjuangan mereka benar-benar dihargai? Olahraga sejatinya dibangun di atas semangat sportivitas, disiplin, dan komitmen.
Baca Juga: Brace ke Gawang Brazil, Pimpin Selebrasi Viking Row
Nilai yang sama semestinya juga menjadi landasan pemerintah dalam memenuhi hak para atlet. Sebab setiap medali yang dipersembahkan bukan hanya hasil kerja individu, melainkan juga kebanggaan seluruh masyarakat Riau.
Kini, dua tahun setelah api PON XXI maupun Peparnas XVII Solo 2024 padam, yang masih menyala adalah harapan para atlet dan pelatih agar pemerintah segera menuntaskan kewajibannya.
Mereka tidak meminta penghargaan lebih. Mereka hanya menunggu hak yang telah dijanjikan hak atas perjuangan yang telah mengharumkan nama Riau di pentas olahraga nasional.
Editor : M. Erizal