FOXBOROUGH (RIAUPOS.CO) - Kylian Mbappe dan Achraf Hakimi bersahabat di Paris Saint-Germain (PSG). Hakimi masih membela PSG sejak musim panas 2021, sedangkan Mbappe telah meninggalkan klub peraih juara Liga Champions dua musim terakhir tersebut (2017–2024) untuk bergabung dengan Real Madrid.
Dini hari nanti (10/7), dua besti itu akan berduel untuk kali pertama di level timnas setelah berpisah dari PSG. Mbappe sebagai kapten Prancis menghadapi Hakimi yang jadi pemimpin Maroko pada perempat final Piala Dunia 2026 di Gillette Stadium, Foxborough (siaran langsung TVRI Nasional/TVRI Sport pukul 03.00 WIB).
”Dia (Mbappe) sudah bukan lagi sahabatku ketika di lapangan,” kata Hakimi saat diejek komedian Maroko Mimo Lazrak terkait relasi antara dirinya dengan Donatello, julukan Mbappe.
Memori di semifinal Piala Dunia 2022 menunjukkan kedekatan mereka. Pasca-kekalahan Singa Atlas, julukan Maroko 0-2 oleh Prancis, Hakimi bertukar jersey dengan Mbappe. Keduanya pun terlihat di kamera saling bercanda. Hanya, itu terjadi saat keduanya masih di Camp des Loges, sebutan markas latihan PSG.
Baca Juga: Comeback Ternoda Kontroversi
Tahun lalu, keduanya sempat bersua di semifinal Piala Dunia Antarklub. Duel di MetLife Stadium, East Rutherford, saat itu dimenangi Hakimi dan PSG dengan kemenangan empat gol tanpa balas atas Real yang dibela Mbappe.
Berkaca dari kejadian melawan Paraguay pada 16 besar (5/7), entraineur Prancis Didier Deschamps merancang strategi untuk mengamankan Mbappe dari cedera akibat permainan keras lawan. Dilansir dari Livefoot, Deschamps menugaskan dua pemain untuk jadi pengawal Mbappe. Kedua pemain tersebut adalah bek tengah Ibrahima Konate dan striker Jean-Philippe Mateta.
Bukankah Konate dan Mateta bukan pemain pilihan starting XI? Deschamps mempersiapkan kedua pemain memang sebagai opsi pengganti di babak kedua. Itu dengan asumsi pemain biasanya mulai lepas kendali setelah turun minum ketimbang berisiko terusir akibat kartu pada 45 menit pertama. ”Semua pemain (di lapangan) melindungi kapten kami. Jadi, tidak hanya kami berdua,” ucap Mateta.
Gelandang serang Maroko Brahim Diaz masih berpeluang menggeser gelandang serang Prancis Michael Olise di posisi tertinggi kandidat playmaker terbaik Piala Dunia 2026. Brahim dengan empat umpan gol, terpaut satu umpan gol dari Olise.
Baca Juga: Bruno Guimaraes Angkat Bicara tentang Kegagalan Penalti yang Menyakitkan saat Melawan Norwegia
Uniknya, Olise maupun Brahim sama-sama jebolan akademi sepakbola Manchester City. Brahim pun sudah tercatat dalam sejarah sebagai pemain Afrika pertama yang mampu mencatat empat umpan gol dalam satu edisi Piala Dunia.
Sementara Olise hanya perlu satu umpan gol lagi supaya dapat sejajar dengan rekor Pele sebagai pencatat umpan gol terbanyak pada satu edisi Piala Dunia (edisi 1970). ”Olise selalu ingin jadi pembeda laga,” kata mantan gelandang Les Bleus, julukan Prancis Patrick Vieira kepada L’Equipe.
Casablanca 1 April 1937
Prancis menarasikan laga di Casablanca itu sebagai petrie atau fatherland alias Tanah Air melawan “anak-anak Maroko yang butuh bimbingan.” Sebuah koran prokolonialis bahkan menyebut para pemain tim tuan rumah sebagai “anak-anak sekolah yang tunduk.”
Pada 1937 itu, Maroko masih jauh dari kata merdeka, masih di bawah penjajahan Prancis yang mendirikan pemerintahan protektorat di Negeri Maghribi tersebut sejak 1912. Seperti dikutip dari tulisan sejarawan Catherine Pipps di New Lines Magazine, Prancis sebelumnya sudah tiga kali mengirim tim ke Maroko dan selalu menjadi pemenang.
Kemenangan-kemenangan itu seolah semakin menegaskan hegemoni Eropa kulit putih atas warga negeri jajahan, narasi yang berusaha terus ditanamkan Prancis di Maroko. Tapi, tidak pada 1 April 1937 di Casablanca itu.
Di kota terbesar di Maroko tersebut, para pemain tuan rumah, yang ditempa di liga setempat yang mulai diputar pada 1916, tampil cepat dan trengginas menaklukkan Prancis B, wakil negeri penjajah, 4-2.
Baca Juga: Presiden FIFA Gianni Infantino Bisa Menghadapi Investigasi Terkait Kontak dengan Donald Trump
Satu abad dan satu dekade kemudian, Prancis akan kembali berduel dengan Maroko, kali ini di perempatfinal Piala Dunia 2026. Ini merupakan ulangan empat tahun sebelumnya ketika keduanya bertarung di semifinal ajang yang sama yang dimenangi Prancis.
“Kami bukan lagi tim kejutan sekarang dan itu membanggakan,” kata pelatih Maroko Mohamed Ouahbi setelah tim asuhannya menundukkan Kanada 3-0 di 16 besar, seperti dikutip Al Jazeera.
Pendekatan pascakolonialisme tentu tak bisa diterapkan secara hitam putih dini hari nanti WIB: penjajah melawan bekas jajahan. Ada proses “tungkar tangkap” antarkeduanya yang terus berlangsung sampai kini.
Enam pemain Singa Atlas lahir dan besar di Prancis, Ayyoub Bouaddi salah satunya. Mayoritas penggawa Les Bleus juga merupakan keturunan Afrika, Ousmane Dembele di antaranya. Klub-klub Negeri Anggur pun banyak menemukan bakat dari para keturunan Maroko di Prancis maupun di Maroko.
Penafsiran Ulang
Prancis versus Maroko juga menjadi pengingat bahwa makna “tanah air” tak luput dari penafsiran ulang terus menerus. Kalau tidak, sulit rasanya memahami mengapa Bouaddi memilih membela Singa Atlas sebulan sebelum Piala Dunia 2026.
Padahal, tak hanya lahir dan besar di Prancis, negeri yang lebih glamor secara nama dan prestasi di lapangan hijau, gelandang 18 tahun itu juga sudah membela Les Bleus kelompok umur sejak U-16 hingga U-21.
Ada “panggilan” yang tak mudah dijelaskan, sebagaimana mungkin yang dialami juga oleh Rayan Cherki. Ada darah Aljazair dan Italia di dalam tubuhnya, tapi demikian patriotiknya dia membela juara dunia dua kali itu.
“Kami ingatkan, Prancis tak cuma bisa bermain sepak bola. Kalau ada yang menantang berperang, kami juga siap,” katanya seusai kemenangan atas Paraguay di babak 16 besar.
Tak perlu ditanyakan bagaimana kesiapan Bouaddi untuk juga berperang membela Maroko. Dia sudah membuktikannya sejak fase grup. Dan, jika masih butuh tambahan suntikan motivasi, dia dan rekan-rekan setim tinggal mengingat apa yang terjadi di Casablanca pada 1 April 1937.(ren/dns/ttg/jpg)
Editor : Arif Oktafian