Kecepatan Cahaya Berdasarkan Alquran
Rindra Yasin • Jumat, 13 Juli 2012 | 09:01 WIB
Cahaya adalah bagian dari gelombang elektromagnetik sekaligus sebagai materi tercepat di jagat raya ini, dengan kecepatan gerak sebesar 299279.5 km/detik yang dalam perhitungan dibulatkan menjadi 300000 km/detik.
Nilai kecepatan yang diberi simbol c ini telah diukur-dihitung dan ditentukan serta menjadi konsensus internasional, oleh berbagai institusi berikut: US National Bureau of Standards, c = 299792.4574 + 0.0011 km/det. The British National Physical Laboratory, c = 299792.4590 + 0.0008 km/det. Konferensi ke-17 tentang Penetapan Ukuran dan Berat Standar, di mana “satu meter adalah jarak tempuh cahaya dalam ruang vacum selama jangka waktu 1/299792458 detik”.
Selain beberapa institusi di atas, seorang fisikawan muslim dari Mesir yang bernama Dr Mansour Hassab El-Naby menemukan sebuah cara istimewa untuk mengukur kecepatan cahaya ini.
Menurut Dr El-Naby, nilai c tersebut bisa ditentukan/dihitung dengan tepat berdasar informasi dari dokumen yang sangat tua. Perhitungan ini adalah menggunakan informasi dari kitab suci yang diturunkan 15 abad silam, Alquran, kitab suci umat Islam.
Dalam Alquran dinyatakan: “Dia mengatur urusan dari langit ke Bumi, kemudian (urusan) itu naik kepada-Nya dalam satu hari yang kadarnya seribu tahun menurut perhitunganmu.” (Qs.As Sajadah:5)
Penalarannya, umur rata-rata manusia kurang lebih 65 tahun (bahkan Nabi Muhammad SAW hanya mencapai usia 63 tahun).
Sedangkan untuk mencapai usia malaikat dalam 1 hari, manusia memerlukan waktu 1.000 tahun!
Padahal umur manusia hanya 65 tahun, sangat jauh untuk mencapai 1.000 tahun! Oleh karena itu, secara penalaran manusia tidak mungkin untuk menempuh jarak yang dilalui malaikat dari langit ke bumi dan kembali lagi, dalam waktu satu hari (bagi malaikat) yang sama dengan 1.000 tahun (bagi manusia).
Manusia tidak mungkin mencapai atau menyamai kecepatan cahaya (malaikat). Kecepatan cahaya adalah kecepatan tertinggi yang ada di alam ini.
Berdasar ayat-ayat tersebut di atas, terutama ayat yang terakhir (Qs As Sajadah) dapat disimpulkan bahwa jarak yang dicapai Sang Urusan selama satu hari sama dengan jarak yang ditempuh bulan selama 1.000 tahun, dan karena satu tahun adalah 12 bulan, maka waktu tersebut menjadi 12.000 bulan.
Secara matematis dapat dituliskan sebagai: c . t = 12000 . L di mana: c = kecepatan Sang Urusan t = waktu selama satu hari L = panjang rute edar Bulan selama satu bulan.
Panjang rute edar Bulan selama satu bulan adalah panjang kurva yang dibentuk oleh Bulan selama melakukan revolusi pada sistem periode bulan sideris. Periode bulan sebenarnya ada dua jenis, sideris dan sinodis.
Berbagai sistem kalender telah diuji, namun sistem kalender Bulan sideris menghasilkan nilai c yang persis sama dengan nilai c yang sudah diketahui melalui pengukuran dua macam sistem kalender bulan tersebut adalah sebagai berikut: Pertama, sistem sinodis, yang didasarkan atas penampakan semu gerak bulan dan matahari dari bumi, dimana: 1 hari = 24 jam 1 bulan = 29.53059 hari. Kedua, sistem sideris, yang didasarkan atas pergerakan relatif Bulan dan matahari terhadap bintang dan alam semesta, di mana: 1 hari = 23 jam 56 menit 4.0906 detik = 86164.0906 detik 1 bulan = 27321.661 hari
Ada perbedaan antara periode Bulan sideris dan sinodis. Pada periode sinodis, satu bulan penuh adalah 29.5 hari di mana posisi bulan kembali ke posisi semula tepat pada garis lurus antara Matahari dan Bumi, dan rutenya berupa lingkaran.
Sementara pada periode bulan sideris satu bulan penuh ditempuh selama 27.3 hari dan rutenya bukan berupa lingkaran, melainkan berbentuk kurva yang panjangnya L.
Nilai L ini secara matematis dapat dituliskan sebagai: L = v . T di mana: v = kecepatan gerak bulan. T = periode revolusi bulan = 27.321661 hari sudut yang dibentuk oleh revolusi bulan selama satu bulan sideris, adalah: a = 27.321661 hari / 365.25636 hari x 360º a = 26.92848º.
Sebuah catatan yang perlu diketahui adalah tentang kecepatan bulan (v). Ada dua tipe kecepatan Bulan, yaitu: pertama, kecepatan relatif terhadap Bumi yang bisa dihitung dengan rumus berikut: ve = 2 . p . R / T di mana R = jari-jari revolusi Bulan = 384264 km T = periode revolusi Bulan = 655.71986 jam. Jadi ve = 2 x 3.14162 x 384264 km / 655.71986 jam = 3682.07 km/jam.
Kedua, kecepatan relatif terhadap bintang atau alam semesta. Kecepatan ini yang akan diperlukan untuk menentukan perhitungan kecepatan cahaya (sang urusan).
Menurut Albert Einstein, kecepatan jenis kedua ini dapat dihitung dengan mengalikan kecepatan jenis pertama dengan Cos a, sehingga secara matematis: v = ve x Cos a di mana: a = sudut yang dibentuk oleh revolusi Bumi selama satu bulan sideris, = 26.92848º. Selanjutnya dengan mengingat beberapa parameter yang sudah diketahui berikut ini: L = v . T, v = ve . Cos a, ve = 3682.07 km/jam, a = 26.92848º, T = 655.71986 jam, dan t = 86164.0906 detik, maka nilai kecepatan sang urusan akan menjadi: c.t = 12000 . L c.t = 12000 . v.T c.t = 12000 .(ve.Cos a).T c = 12000.ve.Cos a.T/t c = 12000 x 3682.07 km/jam x 0.89157 x 655.71986 jam/86164.0906 det c = 299792.5 km/det. Jadi: c = 299792.5 km/det.
Kita bandingkan c (kecepatan Sang Urusan) hasil perhitungan ini dengan nilai c (kecepatan cahaya) sebagaimana yang sudah diketahui! Nilai c hasil perhitungan c = 299792.5 km/det Nilai c hasil pengukuran: US National Bureau of Standards, c = 299792.4574 + 0.0011 km/det The British National Physical Laboratory, c = 299792.4590+0.0008 km/det 3. Konferensi ke 17 tentang Ukuran dan Berat Standar “Satu meter adalah jarak tempuh cahaya dalam ruang hampa selama 1/299792458 detik”.
Dari hasil pengukuran tersebut di atas, tampak bahwa pengukuran kecepatan cahaya berdasarkan Alquran adalah yang paling mendekati sebenarnya. Hal ini menunjukkan bahwa Alquran benar-benar dapat dipakai sebagai acuan ilmu pengetahuan, sebagai wahyu yang wajib dipelajari dengan analisis yang tajam, sekaligus sebagai bukti bahwa kandungan ayat-ayat kaunniyyah Alquran itu benar-benar adanya, karena penulisnya adalah Sang Pencipta alam semesta ini. Subhanallah Allahu Akbar.
Semangat para ilmuan muslim dalam melakukan kegiatan ilmiah melalui pengamatan alam semesta, ternyata juga dilandasi oleh pesan Nabi Muhammad SAW seperti yang tertulis dalam hadist-hadist ini: “barang siapa yang kedatangan ajalnya, sedang masih menuntut ilmu, maka akan bertemu dengan Allah di mana tidak ada jarak antara dia dan para nabi kecuali satu derajat kenabian.”
Bila disimak hadist Nabi Muhammad di atas, jelaslah bahwa manusia yang mau mengamati, menyelidiki dan membaca seluk beluk penciptaan alam semesta ini, akan mengenal Allah melalui ilmu pengetahuan yang didalaminya.
Bukankah dengan berbekal ilmu pengetahuan dan hasil pengamatan tentang alam semesta ini, manusia dapat mengenal berbagai fenomena yang terdapat dalam dirinya sendiri?
Sedangkan fenomena alam dan juga fenomena yang ada dalam diri manusia, mengantarkan kepada pemikiran bahwa semua fenomena tersebut pasti ada sumbernya, ada yang menciptakan.***
'
Rony Ardiansyah Peminat Sains Alquran/Dosen Pascasarjana Magister Teknik Sipil UIR. Editor : Rindra Yasin