Riau Pekanbaru Nasional Internasional Hukum Ekonomi Olahraga Berita Hiburan Kesehatan Kriminal Pendidikan Sumatera Politik Perca Liputan Khusus Lingkungan Ladies Kebudayaan Begini Ceritanya Kick Out Hoax Interaktif Gaya Hidup Feature Buku Opini Betuah

Sensitivitas Bahasa Antar-Budaya

Rindra Yasin • Sabtu, 25 Mei 2013 | 08:49 WIB
SESEORANG yang menyebut dirinya ”kawan lama” mengirim SMS ke telepon genggam saya yang berbunyi: “Apa kabar?” Saya balas dengan singkat juga: “Baik. Maaf, dengan siapa ini.” Seseorang tadi menjawab lagi juga cukup singkat: “Kawan lama.” Sebutan ”kawan lama” tentu sangat menyita pikiran saya karena harus menggali kuburan memoribilia yang sudah berhimpitan sejak masa kanak-kanan, TK, SD, SMP, SMA, kuliah, teman seprofesi dan pergaulan informal.

Kemudian saya kirim SMS lagi: “Kawan lama saya banyak sekali. Maaf ini siapa ya..?” Saya berharap sebenarnya seseorang yang misterius itu langsung menyebut nama atau memperkenalkan diri sebenarnya. Sebab, saya merasa waktu saya semakin banyak tersita untuk hal-hal yang tidak terlalu prinsipil. Lantas, apa reaksi ”kawan lama” saya ini? Eh, dia marah-marah dengan menyebut  secara terang-terangan bahwa diri saya angkuh dan sombong. Bahkan, saya dianggap tak mau tahu lagi dengan ”kawan lama” yang tetap saja misterius hingga kini.

Begitulah awal  munculnya  konflik komunikasi atau kesalahpahaman antara seseorang dengan seseorang yang lain. Hal ini dalam jangka panjang bisa memunculkan stereotipe yang berujung pada saling curiga, cemburu atau bermusuhan. Lihat saja, konflik psiko-budaya antara orang Indonesia dengan Malaysia, boleh jadi dimulai dari sensitivitas bahasa. Sebab, dalam komunikasi verbal memang dominan menggunakan bahasa. Padahal, secara historis, orang-orang yang berada di dua negeri berjiran itu sejak dulu memang negeri serumpun yang direkat oleh budaya Melayu yang kental.

Masih ingat, bagaimana tersinggungnya orang Indonesia ketika dipanggil dengan sebutan ”Indon” oleh orang Malaysia. Ini sering terjadi dalam hubungan komunikasi sehari-hari antara orang Malaysia saat merasa jengkel atau marah atas sikap orang Indonesia. Bahasa para penguasa cenderung menciptakan ”jurang” yang menggiring ke arah tumbuhnya sikap inferioritas (rendah diri).

Ada apa dengan ”Indon”? Secara normatif, ”Indon” itu pada mulanya dimaksudkan untuk menyingkat panggilan bagi orang-orang Indonesia. Namun, dalam perkembangan psikologi, sebutan ”Indon” memiliki makna konotatif yang menunjukkan strata sosial. Apalagi sebutan itu selalu ditujukan bagi orang-orang Indonesia yang bekerja di sektor informal  yang banyak ditempati para Tenaga Kerja Indonesia (TKI) seperti pembantu rumah, pelayan restauran, buruh kasar, kuli bangunan dan masih banyak lagi.

Sikap ingin ”merendahkan” bagi para TKI itu muncul di kalangan orang-orang Malaysia mengingat jumlah TKI di sana mencapai 2 juta orang lebih. Separuh di antaranya berstatus sebagai TKI ilegal atau ”pendatang haram”.

 Sebab, mereka tidak memiliki dokumen-dokumen resmi mulai dari dokumen keimigrasian hingga dokumen perizinan kerja lainnya. Secara psikologis, cara untuk merasa lebih hebat atau terhormat di saat  merasa kalah bersaing, tak lain dengan cara ‘merendahkan’ dengan berbagai cara.

Dalam konsep Komunikasi Antarbudaya, komunikasi pada hakikatnya merupakan kegiatan ”pertukaran makna”. Menurut Alo Liliweri dalam buku Makna Budaya dalam Komunikasi Antarbudaya, makna itu ada di dalam setiap orang yang mengirim pesan. Jadi, makna bukan sekadar kata-kata verbal atau perilaku nonverbal, tetapi makna adalah pesan yang dimaksudkan oleh pengirim dan diharapkan akan dimengerti pula oleh penerima. Persoalannya adalah bagaimana setiap orang mampu membuat kata-kata menjadi bermakna? Itu hanya terjadi jika ada pengalaman bersama dalam kehidupan komunikasi.

Dalam komunikasi sehari-hari, kesalahpahaman bisa terjadi gara-gara tidak mematuhi makna budaya yang menjadi akar berpijak masing-masing penutur bahasa. Hal ini tidak sebatas komunikasi verbal melain bisa merasuk ke aspek non-verbal termasuk bahasa simbol (semiotika), body language (bahasa tubuh) dan aspek-aspek psiko-sosial lainnya.

Sebutlah kebiasaan menggunakan kata ”ya”  yang bisa ditafsirkan secara berbeda. Bagi orang Amerika, kata ”ya” bermakna tanda menyetujui atau menerima pernyataan lawan bicara. Sementara ”ya” bagi orang Jepang justru bermkna sebaliknya atau tidak setuju. Kata tersebut hanya sekadar menunjukkan bahwa mereka mengerti dengan kata-kata yang ditujukan kepadanya.

Contoh lain, orang Amerika cenderung menyampaikan sesuatu dalam penuturan kalimat dan bahasa secara blak-blakan. Sementara kebiasaan budaya orang Arab dan Jepang, cenderung tidak blak-blakan karena berkomunikasi secara luwes berarti kesediaan pihak lawan bicara untuk berhubungan dalam jangka lama. Apabila orang Amerika ”memaksakan” pola berkomunikasi yang kilat pada orang Arab dan Jepang bisa ditafsirkan penghinaan dan bisa mengancam hubungan baik kedua belah pihak.

Oleh sebab itu, dalam komunikasi antarbudaya yang berbeda secara signifikan selalu dibutuhkan seseorang yang bukan sekadar menjadi translator (peneremah) melainkan interpreter (juru bahasa atau juru tafsir).

Banyak silang-sengketa baik dalam hubungan formal maupun informal diawali dari salah memahami dalam konteks komunikasi budaya. Apalagi dalam perkembangan komunikasi di era konvergen media (media convergency) yang menjadikan segala sesuatu serba cepat dan terbuka, pola komunikasi terutama verbal berdampak pada perilaku ingin memahami sesuatu secara cepat dan dalam waktu yang singkat.

Oleh sebab itu, pola komunikasi era modern kadangkala terkesan paradoksal dengan komunikasi cara tradisional yang memegang teguh penggunaan kiasan, pepatah-petitih atau ungkapan adat tradisi yang mengalun-alun dan berkepanjangan. Situasi ini dipastikan dapat menimbulkan sikap sensitif (sensivitas) kesalah-pahaman di antara pihak-pihak yang berkomunikasi.

Sensitivtas bahasa dalam berkomunikasi bisa pula terjadi sebagai akibat penambahan makna konotatif atas satu kata atau ungkapan yang bisa ditafsirkan secara berbeda atau keliru.

Beban makna konotatif itu justru bisa berujung pada ketersinggungan pribadi atau massal yang bersifat rasial atau terkesan merendahkan satu kelompok. Contoh nyata daam hal sebutan ”Indon” yang diberikan makna konotif yang menghadapkan dua kepentingan: superioitas-inferioritas.

Di negeri kita, panggilan gelar pada seseorang atau kelompok orang karena perbedaan suku, ras atau bangsa dan profesi bisa mengarah pada upaya merendahkan satu pihak.***


Fakhrunnas MA Jabbar
Kolomnis dan budayawan, tinggal di Pekanbaru Editor : Rindra Yasin