Riau Pekanbaru Nasional Internasional Hukum Ekonomi Olahraga Berita Hiburan Kesehatan Kriminal Pendidikan Sumatera Politik Perca Liputan Khusus Lingkungan Ladies Kebudayaan Begini Ceritanya Kick Out Hoax Interaktif Gaya Hidup Feature Buku Opini Betuah

Arafah Penuh Makna

Rindra Yasin • Rabu, 1 Oktober 2014 | 11:04 WIB
Wukuf di Arafah merupakan satu rangkaian terpenting dari pelaksanaan ibadah haji. Dikatakan terpenting karena wukuf di Arafah ini pada hakikatnya merupakan inti dari ibadah haji. Karenanya haji seseorang dianggap tidak sah kalau ia tidak melaksanakan wukuf di Arafah. Pendapat ini berdasarkan hadis Rasulullah SAW: ”Haji itu adalah Arafah.

Pelaksanaan wukuf yang hanya sebentar ini, mulai dari tergelincir matahari 9 Zulhijjah sampai terbenam matahari 10 Zulhijah merupakan perhentian yang mengesankan dalam pelaksanaan ibadah haji. Wukuf di Arafah pada hakikatnya mengingatkan seluruh umat manusia akan eksistensi ”kematian” yang pasti akan dialami mereka. Kalau sebelumnya ritual Tawaf dan Sa’i yang menyiratkan bahwa kehidupan manusia senantiasa bergerak dan beraktivitas.

Di Arafah mengingatkan akan perhentian semua pergerakan dan aktivitas yang menyibukkan untuk kemudian terpaku sejenak melakukan perenungan mendalam (muhasabah) secara individual tentang  prilaku buruk di masa lalu. Inilah inti dari wukuf. Jadi aktivitas wukuf tidak hanya bersifat qawliyah saja artinya berupa bacaan-bacaan zikir dan kalimat-kalimat musyarrafah saja, tapi harus diikuti dengan aktivitas aqliyah dan qalbiyah. Yaitu berpikir dan merasakan bagaimana sebenarnya potret diri yang sesungguhnya. Semua itu dimaksudkan untuk perbaikan dan pembenahan diri ke arah yang lebih baik dan positif.

Proses penyadaran diri secara individual ini suatu hal yang penting dilakukan oleh manusia. Sebab sewaktu terlahir di atas dunia dahulu, setiap anak manusia berada dalam keadaan fitrah (suci), akan tetapi seiring perjalanan waktu, diri manusia menjadi ternodai dan kotor akibat perbuatan dosa yang dilakukan baik disengaja ataupun tidak, baik nyata maupun tersembunyi. Baik dosa kepada Tuhan maupun dosa kepada sesama manusia. Karena itu momentum wukuf di padang Arafah yang merupakan miniatur situasi di padang mahsyar di alam akhirat nanti merupakan kesempatan yang harus dimanfaatkan dengan sebaik-baiknya untuk evaluasi diri.

 Wukuf di padang Arafah di mana seluruh umat manusia dari berbagai belahan dunia berkumpul di tempat yang sama, pada waktu yang sama dan memakai pakaian yang sama juga mendidik manusia agar menjadi pribadi yang rendah hati dan tawadhu. Pakaian-pakaian keangkuhan harus ditanggalkan sebaliknya pakaian-pakaian ketulusan dan kesederhanaan harus dilekatkan secara permanen pada dirinya. Kemuliaan manusia secara spiritual tidak diukur melalui kedudukan dan status sosial yang disandang tapi diukur dari sejauhmana kedekatan dan ketaatannya kepada Tuhan. Pengakuan jujur akan ketidak berdayaan dan kelemahan manusia di hadapan Sang Khaliq pada saat (momentum) penuh rahmat dan keampunan Allah SWT, akan sangat berarti bagi manusia untuk mendapatkan energi positif yang akan menggerakkannya menjadi muslim yang terbaik dan hebat pada episode-episode-kehidupan selanjutnya menjelang datangnya ajal (kematian).

Tahapan selanjutnya dari penyesalan atas dosa dan kesalahan yang sudah diperbuat di masa lalu dan tekad untuk tidak mengulanginya pada masa yang akan datang adalah membangun komitmen untuk menyatakan (memproklamirkan) perlawanan terhadap setan sebagai musuh nyata dan abadi manusia. Inilah makna di balik melontar jamarat. Jadi, melontar jamaarat tidak hanya merupakan ritual kosong (hampa) tanpa makna tapi merupakan simbol permusuhan kepada makhluk yang senantiasa akan memasang perangkap menyesatkan manusia sepanjang masa dari jalan Tuhan dan menjerumuskan mereka ke lembah dosa dan maksiat.

Kemudian, untuk lebih menguatkan kembali komitmen akan penyesalan diri dan permusuhan abadi terhadap setan, orang yang berhaji harus mencukur rambul atau menggundulkan kepalanya  melalui ritual tahallul. Makna di balik prosesi ini adalah menanggalkan dan meninggalkan sikap dan prilaku buruk dan tercela di masa lalu dan bertekad dengan sepenuh hati untuk menjadi pribadi yang baik dan bersih di masa-masa yang akan datang.

 Inilah sebenarnya out put yang diinginkan dari pelaksanaan ibadah haji ini. Melalui rangkaian ibadahnya, haji ingin membentuk manusia menjadi pribadi yang saleh (baik) secara individual maupun secara sosial. Karena itu, orang yang benar-benar berhaji akan kembali kepada keadaan semula sebagaimana waktu ia dilahirkan. Tidak hanya baik secara invidual, haji juga mendidik seseorang agar menjadi muslim yang baik dan bermanfaat secara sosial. Bila dipahami dengan seksama, ibadah haji kaya akan pesan-pesan moralitas yang menjunjung tinggi nilai-nilai kemanusiaan. Pakaian ihram yang dipakai melambangkan ikatan ukhuwah (persaudaraan), persamaan derajat, kesatuan, ketulusan, kesederhanaan dan kasih sayang sesama muslim.

Sungguh luar biasa ibadah yang satu ini. Sangat kaya akan makna dan pesan-pesan moralitas yang amat tinggi nilainya, oleh karena itu orang benar-benar berhaji  akan merasakan efek (dampak) positif pada dirinya. Karena itu tepat sekali pernyataan Nabi Muhammad SAW; ”Haji yang mabrur tidak ada balasannya kecuali syurga".

Karena itu, amat disayangkan sekali bila ada orang yang berhaji, sudah menghabiskan dana jutaan rupiah, mengorbankan waktu dan tenaga tapi tidak memberikan pengaruh apa-apa terhadap dirinya setelah ibadah ini berakhir. Itu sama juga arti seseorang itu mengalami kebangkrutan secara ruhaniah.***



Amrizal
Ketua NU Bengkalis, juga JCH asal Bengkalis Editor : Rindra Yasin