Riau Pekanbaru Nasional Internasional Hukum Ekonomi Olahraga Berita Hiburan Kesehatan Kriminal Pendidikan Sumatera Politik Perca Liputan Khusus Lingkungan Ladies Kebudayaan Begini Ceritanya Kick Out Hoax Interaktif Gaya Hidup Feature Buku Opini Betuah

Kenegarawanan Sultan Syarif Kasim II

Rindra Yasin • Kamis, 13 November 2014 | 09:48 WIB
Kesultanan Siak termasuk kerajaan yang selalu menjadi incaran kolonial Belanda karena letak wilayahnya sangat strategis di pesisir Timur Pulau Sumatera dan berhadapan dengan lalu lintas perekonomian internasional Selat Melaka. Belanda beranggapan menguasai wilayah Kerajaan Siak berarti menguasai lalu lintas laut yang dapat membuka akses guna memuluskan aktivitas perekonomian internasional.

Belanda ingin menguasai dan memblokade semua akses kegiatan pemerintahan Sultan Syarif Kasim II, di Pulau Bengkalis ditempatkan Asisten Residen Belanda untuk mengantisipasi berbagai aktivitas pertahanan laut  Kerajaan Siak di Bukit Batu. Jalur perekonomian Selat Bengkalis yang bermuara ke Selat Melaka diawasi kapal-kapal milik kolonial Belanda. Jalur daratan menuju Langkat, Tanjungpura, Deli Serdang  Aceh, dikuasai oleh Residen Belanda di Sumatera Timur berpusat di Medan. Belanda mendidik Syarif Kasim II pada sekolah Belanda di Batavia Institut Beek En Volten asuhan Snouck Hugronje yang terkenal dengan menjalankan misi untuk menaklukan Aceh dan kerajaan Islam lainnya di nusantara. Jiwa raga maupun pola pikir Syarif Kasim II tidak berpengaruh atas didikan Belanda karena pada diri Syarif Kasim II sudah tertanam dan membekas kebencian kepada Belanda dan mencintai rakyat serta kerajaannya. Leluhur beliau sejak Sultan Siak ke-2 Abdul Jalil Muzaffar Syah 1746-1765 sampai kepada ayahanda beliau Sultan Syarif Hasyim Abdul Jalil Syaifudin menjadi korban kelicikan dan keserakahan Belanda. Perang Guntung yang bersimbah darah dan kematian mesiterius ayahanda Syarif Hasyim di Singapura menjadi beban moral bagi Syarif Kasim II dalam mengembang tugas kesultanan di Kerajaan Siak.

Ketika Perang Dunia  II pecah Belanda terlibat langsung perang terbuka melawan Jerman, Belanda membujuk Syarif Kasim II agar membentuk Lasykar Tentera Sukarela (Staat Wacht) dan Belanda mengkoordinir sultan-sultan di Pesisir Timur Sumatera agar membuat perjanjian kontrak  Zelf Gesturs Regelen, Syarif Kasim II menolak kedua rencana  licik Belanda tersebut. Dalam Perang Dunia  II  Belanda bertekuk lutut dan menyerah kepada Jepang.

Bumi Nusantara Indonesia otomatis dikuasai Jepang demikian juga Kesultanan Siak. kekuasaan Jepang di Kerajaan Siak memotivasi Syarif Kasim II membentuk Tentera Dai Nippon, Heiho, Gyugun, dan KNI ( Komite Nasionl Indonesia ) melindungi dan membina permberontak  Sikoyan di Belitung dan Sikodai di Sungai Mandau. Tanggal 17 Oktober 1945,  tiga bulan setelah Indonesia merdeka Bendera Merah Putih berkibar di Istana Siak dengan Inspektur Upacara Sultan Syarif Kasim II. Sultan bersumpah setia, berjanji sehidup semati mendukung kemerdekaan Republik Indonesia. Sultan bergerak cepat membentuk TKR (Tentara Keamana Rakyat ) PRI (Pemuda Rakyat Indonesia ) Lasykar Hisbullah, Heiho, Gyugun, organisasi pertahanan bersatu dengan TNI melumpuhkan pemberontakan Cina Kuo Min Tang di Bagansiapi-api, bertempur melawan Belanda pada Agresi Belanda II di Tanjung Layang, Bengkalis, Selatpanjang, Sungai Pakning, Pekanbaru dan di wilayah kerajaan lainnya.

Sultan Syarif Qasim ke Jakarta menyerahkan dana segar berjumlah  13.000.000 Golden atau Rp197.600.000.000 beserta mahkota emas bertahta intan berlian dan sekaligus beliau menyerahkan tahta Kerajaan Siak, ke pangkuan Ibu Pertiwi Negara Republik Indonesia. Atas penyerahan dan pengorbananya itu Bung Karno mengangkat Syarif Kasim II sebagai Penasehat Presiden, diberikan sebuah rumah di Menteng  Jalan Pasuruan, sebuah mobil, dan uang bantuan  3.000 pounsterling per bulan atau Rp45.600.000 (kurs sekarang). Pada tahun 1964 Sultan kembali ke Siak menjadi rakyat biasa tanpa tahta, harta.

Pada 6 November 1998 setelah 30 tahun beliau wafat Pemerintah Republik Indonesia menganugerahi gelar Pahlawan Nasional dan tanda kehormatan Bintang Maha Putra yang dilegalisisr oleh presiden  BJ Habibie.

Pada tahun 1964 di istana kecil yang langsung penulis dengar dan saksikan beliau berpesan, “Wahai Orang Siak jaga kampung halaman dengan baik, tanah-tanah jangan dijual, sekolahkan anak-anak pada sekolah agama dan sekolah umum. Beta jangan disembah tapi sembah lah  Allah SWT. Beta tidak lagi sebagai raja, Belanda itu jahat, hormati Soekarno presiden kita. Tidak berapa lama setelah beta meninggal dunia maka Siak ini akan ramai kembali’’. Pada 1980, yaitu 12 tahun setelah beliau wafat ditemukan ladang minyak di Pusako, Pedada oleh PT CPI / Block CPP, maka terbentang jalan Caltek dari Kandis, Minas, Perawang, Siak, Sungaiapit dan Siak menjadi lintas utama terbuka akses laut dari Tanjungpinang, Batam, Karimun, Pekanbaru melalui pelabuhan Tanjung Buton. Pada 12 Oktober 1999 Siak resmi menjadi kabupaten dan terbukti apa yang telah diwasiatkan Sultan Syarif Kasim Abdul Jalil Syaifuddin.***


Hasrin Saily
Tokoh masyarakat Siak Editor : Rindra Yasin