RIAUPOS.CO - Portugis untuk bertempur dengan armada Melaka/Bintan. Meskipun menang, banyak kapal perang laksamana Jorge Batelho yang hancur, dan merugikan Portugis.
Raja Abdullah ditangkap dan dibuang ke Goa. Sementara armada Maharaja Isap, dihadang armada Portugis di laut Lingga, dan Maharaja Isap dipaksa menyerah. Kemudian Portugis berhasil membujuk Maharaja Isap untuk memihak Portugis, dan dijanjikan akan dibantu menyerang Inderagiri dan menjadikannya sebagai sultan di Indragiri. Akhirnya Maharaja Isap bersedia bekerja sama dengan Portugis dan menjadi tangan kanannya.
Tahun 1518, Mahmudsyah yang marah atas penghianatan Maharaja Isap yang pernah dilantiknya dan diberi kepercayaan sebagai laksamana dan tindakan Portugis yang terus memburunya mengirim sekaligus dua armada perang. Satu ekpedisi dipimpin Laksamana Hang Nadim, menyerang benteng Portugis di Melaka, dan satu ekspedisi lainnya dipimpin Laksamana Sang Setia menyerang Lingga untuk menghukum Maharaja Isap yang berkhianat. Dalam ekspedisi ke Lingga, Nara Singa ii ikut dengan satu angkatan perang khusus yang berangkat dari Reteh. Tapi, lagi-lagi mereka dikalahkan oleh armada Portugis yang ternyata sudah datang lebih dahulu ke Lingga atas permintan Maharaja Isap. Terjadi pertempuran hebat di perairan Lingga, dan armada sang setia dan Nara Singa ii kalah. Mereka harus mundur kembali. Sang Setia mundur ke Bintan dan Nara Singa II ke Inderagiri. Sementara ekspedisi yang dipimpin Laksamana Hang Nadim, yang menyerang Melaka juga gagal dan harus kembali ke Bintan.
Meskipun mereka kalah, namun MahÂmudsyah, sangat berterima kasih kepada Laksamana Hang Nadim yang berhasil memporak-poranda benteng Formosa di Melaka, dan kepada Sang Setia dan Nara Singa ii, yang juga berhasil menghancurkan sejumlah armada Portugis.
Apalagi mereka juga berhasil menawan seorang panglima portugis, bernama Jendral Pedro Marlos (Suwardi ms, 2016) tawanan itu dibawa ke Inderagiri. Atas bantuan dan kesetiaan Nara Singa ii itu, Mahmudsyah i mengawinkan puteri tertuanya Tun Khadijah, janda Sultan Pahang Mansyursyah yang wafat dibunuh tahun 1518, itu dengan Nara Singa ii, sebagai balas jasa dan diplomasi politik, serta rasa bersalahnya pada Nara Singa ii sebelumnya, karena telah merampas kekasih Nara Singa II, Tun Gemala Negeri.
Mahmudsyah mempunyai dua orang puÂteri gahara hasil perkawinannya dengan Tun Fatimah, dan seorang putera. Yang tertua Tun Khadijah, dan yang muda Tun Putih, serta seorang putera bernama Raja Ali. Dalam kaitan diplomasi politik persahabatan, Tun Khadijah dahulunya dinikahkan dengan Sultan Pahang, Mansyursyah, putera dari Sultan Ahmadsyah Pahang. Dan ketika Mansyursyah wafat dibunuh tahun 1518, Tun Khadijah yang janda itu, dipanggil kembali ke Bintan, dan dinikahkan dengan raja Nara Singa ii. Sedangkan anaknya Tun Putih, dinikahkan dengan Raja Haru, salah satu kerajaan yang jadi negeri taklukan Melaka juga. Sementara Raja Ali, dilantik menjadi Raja Muda menggatikan Raja Muda Ahmadsyah yang wafat di Bintan.
Nara Singa ii kembali ke Inderagiri dan memperkuat armada perangnya di Reteh. Ketangguhan Kerajaan Inderagiri dan angkatan perangnya, memang diakui Portugis.
Komandan benteng Portugis di Melaka, Roy de Berito misalnya, pernah melaporkan kepada raja Portugis, tetang posisi dan kehebatan Kerajaan Inderagiri dan angkatan perangnya.
***
Keterlibatan Raja Nara Singa ii dan KeraÂjaan Inderagiri dalam perang melawan PorÂtugis itu bukan saja saat Melaka jatuh ke tangan Portugis, 1511, tetapi juga setelah Kerajaan Melaka memindahkan ibukotanya ke Bintan tahun 1512 , meski agak terlambat, Nara Singa ii mengirim pasukannya membantu Mahmudsyah mempertahankan Pagoh dari serangan Portugis. Mereka gagal. Tahun 1513, bersama Patih Kadir (Panglima Melaka keturunan Jawa) dan Raja Muda Ahmadsyah, Nara Singa ii kembali ikut bertempur melawan Portugis di Melaka, meskipun mereka kalah dan mundur. Tahun 1514, Nara Singa ii bersama gabungan pasukan Dipatiunus (Sultan Demak), Melaka dan berberapa negeri taklukan lainnya kembali bertempur melawan Portugis. Hampir saja benteng Portugis di Melaka jatuh, namun karena kehabisan logistik, akhirnya mereka terpaksa mundur. Tahun 1516, kembali Sultan Mahmud menyerang Portugis. Kali ini Nara Singa ii diangkat sebagai panglima darat, yang memimpin pasukan Inderagiri, dan negeri sekutu Melaka lainnya, menyerang benteng Portugis dari Pagoh. Sementara Laksamana Hang Nadim, menyerang dari laut. Hampir saja mereka berhasil menguasai benteng Formosa. Namun di saat kritis itu, datang bantuan pasukan Portugis dari Pagu, Burma, akhirnya pasukan Melaka dipukul mundur.
Terus menerus Nara Singa II bersama Sultan Mahmud bertempur melawan Portugis, baik dengan menyerang Portugis di Melaka, maupun menghadapi Portugis yang menyerang kerajan Melaka di Bintan. Meski mereka masih terus menerus kalah dan gagal karena berbagai sebab.
Portugis saat itu memang salah satu kekuatan perang yang merajai Selat Melaka, dan negara-negara lain di India Selatan, Siam dan lainnya. Dan bahkan ke kawasan nusantara lainnya, seperti Sulawesi dan Maluku. Akhirnya, tahun 1526, Portugis di bawah pimpinan Laksamana Mascharenhas, dengan lebih 20 kapal perang besar, dan 3.000 prajurit, menyerang Bintan, pusat pertahanan Mahmud. Sebagai strategi melumpuhkan dukungan logistik dan pasukan perang, mereka lebih dahulu menyerang Reteh, merebut Siak, Bengkalis, kemudian Batam dan Pulau Bulang serta Tanjung Uban, sebelum akhirnya menyerang Kopak dan Kota Kara, pusat pertahanan Mahmud. Akhirnya Bintan jatuh, dan Mahmudsyah harus mengungsi jauh ke kaki gunung Bintan. Setelah 2 minggu menghancurkan Kopak dan Kota Kara, Portugis pergi dan kembali ke Melaka. Dalam serangan itu, Portugis dibantu Maharaja Isap, yang telah berkhianat dan bersekongkol dengan Portugis. Bahkan dikatakan, ketika Bintan sudah dikalahkan, negeri taklukan Melaka itu, diserahkan di bawah kuasa Maharaja Isap, sebagai balas budi Portugis.***
Editor : Rindra Yasin