Riau Pekanbaru Nasional Internasional Hukum Ekonomi Olahraga Berita Hiburan Kesehatan Kriminal Pendidikan Sumatera Politik Perca Liputan Khusus Lingkungan Ladies Kebudayaan Begini Ceritanya Kick Out Hoax Interaktif Gaya Hidup Feature Buku Opini Betuah

Riau Kurang Destinasi Wisata?

Rindra Yasin • Selasa, 25 April 2017 | 11:23 WIB
RIAUPOS.CO - Liburan panjang yang kini terjadi hampir setiap pekan di April, membuat banyak warga menghabiskannya di luar kota dan tempat-tempat wisata. Terutama sekali untuk warga di ibu kota Provinsi Riau, Pekanbaru. Setiap akhir pekan, jalanan rute arah Sumatera Barat, akan dipenuhi kendaraan dengan plat BM. Kenapa ke arah Barat?

Hal ini tak lain tak bukan karena pesona alam yang masih terjaga keasriannya serta banyaknya destinasi wisata yang tersebar di seantero negeri Minang tersebut. Ditambah lagi dengan jarak tempuh yang tidak terlalu jauh serta historis masa lalu, di mana penduduk Kota Pekanbaru terdapat banyak keturunan Minangkabau yang telah beranakpinak dan telah bercampur baur dengan keturunan suku-suku lainnya di kota homogen ini. Bahkan banyak para perantau dan keturunan Minangkabau ini yang menjadi tokoh, pedagang besar serta pemimpin negeri Lancang Kuning ini.

Tidaklah heran jika ada waktu luang seperti liburan panjang atau waktu libur hari raya, daerah-daerah di Sumatera Barat disesaki kendaraan plat BM. Hotel-hotel di kota tujuan wisata akan fullbooking. Macet pun kerap kali melanda. Namun hal ini tidaklah menyurutkan warga Riau mendatangi Sumatera Barat. Baik pergi secara perorangan, bersama keluarga, klub-klub mobil dan motor serta bus-bus pariwisata. Bukannya hal yang aneh terlihat di berbagai lokasi wisata, bus-bus dengan spanduk besar bertuliskan nama oraganisasi, sekolah atau instansi dari Riau. Kendaraan berplat BM, jangan ditanya lagi. Mungkin mengalahkan keberadaan plat BA di berbagai macam lokasi wisata.

Apakah negeri Lancang Kuning kurang tempat wisata? Kalau bisa diurut, Riau punya berbagai tempat wisata andalan dengan berbagai iven berskala nasional dan internasional. Sebut saja agenda pacu jalur di Kuantan Singingi, Bakar Tongkang di Bagan Siapiapi, atau Bono di Teluk Meranti. Walaupun angka tujuan wisata ke Riau berkurang drastis sejak pisahnya Provinsi Riau dengan Kepulauan Riau, pemerintah mengaku selalu berusaha membenahi wisata yang sudah ada serta membuat agenda wisata baru.

Namun mengapa, daerah luar masih menjadi daya tarik tersendiri dibanding negeri sendiri. Kemungkinan besarnya adalah, daerah Riau sendiri kurang memiliki alam yang asri dan indah. Hampir di seantero Negeri Lancing Kuning ini sudah disesaki dengan pohon sawit, karet ataupun kelapa. Riau memang miskin hutan yang asri walaupun ada beberapa hutan lindung dan suaka margastawa, namun kurang terperhatikan dan kian hari makin tergerus dengan penyerobotan lahan ataupun penebangan liar. Sangat ironis jika mengingat dulunya Riau adalah surganya hutan tropis dan hutan rawa yang sangat luas.

Ditambah lagi dengan kurangnya inisiatif membaca keinginan warga. Seperti liburan panjang yang saat ini selalu merayu-rayu warga untuk keluar sementara dari rutinitas. Tidak adanya agenda atau iven khusus yang disediakan oleh pemerintah, khususnya dinas pariwisata setempat untuk menghibur warganya. Contohnya saja Pekanbaru. Jika pemerintahnya jeli, bisa saja dioptimalkan Bus Air Senapelan (BAS) bantuan pemerintah pusat yang kini mangkrak. Jika ditawarkan agenda wisata menjelajah Sungai Siak serta agenda wisata kunjungan ke berbagai situs lama dan sejarah kota ini, mungkin banyak warga yang tertarik. Atau dilakukan pesta rakyat di tepian sungai serta adanya kapal pompong  atau kayu yang menjelajahi sungai di malam hari di mana pengunjung bisa menikmati makan jagung bakar di atas kapal sambil menikmati malam di sepanjang sungai. Ataupun agenda hiburan menarik lainnya seperti festival di Cina Town Jalan Karet ataupun juga diskon besar-besaran belanja hingga 80 persen di mal-mal dan pusat belanja. Atau apalah itu yang bisa menghibur warganya yang mungkin suntuk setelah enam hari dilanda rutinitas.

Belajar dari Malaysia, wisatanya tidaklah begitu alamiah. Tidak ada danau yang hebat, gunung yang menjulang dan megah, padi yang menguning, lembah yang asri ataupun air mancur yang membuat hati tenang. Tapi mengapa banyak yang berduyung-duyun datang ke sana. Satu hal yang pasti, wisata mereka dibuat seperti yang diinginkan wisatawan. Bukan yang diinginkan pihak pemerintah atau sekadar mengejar proyek semata untuk mendapatkan fulus. Setelah itu, hilang dan hancur seiring perjalanan waktu. Seharusnya pemerintah sadar akan hal itu. Semoga.*** Editor : Rindra Yasin