RIAUPOS.CO - Kemuliaan bulan suci Ramadan dapat terlihat dari berbagai aspek. Salah satu aspek penting yang menjelaskan tentang kemuliaan itu dijelaskan tentang kemuliaan satu malam lailatul qodar. Terdapat satu surat khusus yaitu surat al-Qodr ayat 1 – 5 yang menjelaskan tentang apa, maksud dan tujuan lailatul qodar. Pada ayat ke tiga yang artinya “lailatul qodar lebih baik dari pada seribu bulan” Imam Nawawi al-Bantani dalam Kitab Maroh Labid halam 651 menjelaskan hal ini.
Sebab turunnya ayat ini untuk mengibur dan menguatkan hati Nabi Muhammad saw dan kaum muslimin, ketika mendengar lalu merasa kagum dengan seorang laki-laki bani Israil yang beribadah selama 1000 bulan, dan Allah ta’ala mempertegas bahwa satu malam itu bagi umat Nabi Muhammad saw lebih baik dari 1000 bulan tersebut.
Oleh karena itu Nabi Muhammad saw menguatkan melalui hadis yang artinya “Dari Abu Hurairah r.a berkata: Nabi Saw bersabda “Siapa yang beribadah pada malam lailatul qodr dengan penuh keimanan dan berharap ridho Allah ta’ala maka dosa-dosanya yang telah berlalu diampuni” (muttafaqun ‘alaih).
Para Ulama memiliki definisi dan perbedaan pandangan tentang pengertian lailatul Qodar. Syaikh Abdullah Sirojuddin al-Husaini menjelaskan dalam Kitabnya al-Shiyam halaman 43 “al-Qodr maknanya derajat/posisi, keutamaan dan kemuliaan, tingginya derajat dan kedudukan” karena orang yang menghidupkan lailatul qodar akan memperoleh derajat mulia lagi tinggi disisi Allah ta’ala, atau juga setiap amal sholih pada malam itu mengantarkan derajat kemuliaan serta sangat bernilai disisi Allah ta’ala makanya lebih baik dari seribu bulan.
Al-qodr juga dimaknai sebagai ketentuan-ketentuan Allah ta’ala karena pada malam itu akan ditentukan berbagai ketentuan Allah ta’ala bagai manusia berupa ajal, rezeki, hidup-mati, hujan dan seluruh kejadian-kejadian alam semesta kemudian para Malaikat diminta untuk menulis dan melaksanakan berbagai ketentuan tersebut (Surat al-Dukhon ayat 4).
Dalam kitab Durrotun Nasihin halaman 284 dijelaskan disebut lailatul qodar karena pada hari itu ditentukan segala perkara, hukum-hukum, daftar rahmat, adzab, tumbuh-tumbuhan, rezeki, hujan, angin/cuaca, ruh, ajal sampai tahun yang akan datang, penjelasan ini menambah kuat pengertian lailatul qodar berisi ketentuan-ketentauan Allah ta’ala yang akan disampaikan kepada hamba-Nya.
Kemuliaan lailatul qodar berdasarkan penjelasan surat al-Qodr ayat 1 -5 dapat dilihat dari tiga bagian penting: pertama, pada malam itu diturunkan al-Qur’an sebagai petunjuk pada jalan mulia, keselamatan dan keberuntungan bagi siapa yang terus membaca, menelaah/mempelajari dan mengamalkannya.
Kedua, malam itu lebih baik daripada seribu bulan, segala amal ibadah jika dikerjakan dengan penuh keimanan dan berharap ridho dari Allah ta’ala maka lebih baik dari beramal selama seribu bulan. Ketiga, Malaikat Jibril turun ke bumi membawa pesan (salam) dari Allah ta’ala kepada setiap orang beriman yang melakukan ketaatan, siapa yang menjumpai salam tersebut akan diampuni segala dosanya kecuali para pemabuk, pekerja maksiat, pemutus tali silaturrahim dan mendiamkan saudaranya melebihi tiga hari, jika keempat tipe itu dihindari maka mereka akan memperoleh ketenangan jiwa, keselamatan dan rasa aman sampai terbit fajar.
Kapan waktu lailatul qodar itu? Sayyid Abu Bakar Utsman Bin Muhammad Syatho dalam kitab I’anatut Thalibin Juz 2 halaman 257 menjelaskan para ulama berbeda pendapat mengenai waktunya, ada yang mengatakan lailatul qodr terjadi pada malam ke 15, 17, 19, Imam Mahalli mengatakan semua malam adalah malam lailatul qodr, akan tetapi para ulama sepakat bahwa lailatul qodar berada pada malam-malam ganjil di 10 akhir bulan Ramadan.
Pendapat masyhur dari kalangan Ulama lailatul qodar tepatnya yang paling mendekati adalah pada malam ke 27 Ramadan berdasarkan hadis Ubai bin Ka’ab seperti diriwayatkan Imam Muslim, Ahmad, Abu Daud dan al-Tirmidzi, sementara menurut Ibnu Abbas dan Imam Syafi’I lebih condong bahwa lailatul qodar terjadi pada malam ke 21 atau 23 Ramadan.
Sementara menurut Imam al-Ghozali malam lailatul qodar dapat ditentukan dan diketahui dari permulaan bulan Ramadan, jika Ramadan dimulai pada hari Ahad atau hari Rabu maka lailatul qodar berada pada malam ke 29, jika dimulai pada malam Senin maka lailatul qodar pada malam ke 21, jika dimulai hari Selasa atau Jum’at maka lailatul qodar terjadi pada malam ke 27.
Jika dimulai malam kamis maka lailatul qodar terjadi pada malam ke 25, jika dimulai pada hari Sabtu maka lailatul qodar terjadi pada malam ke 30. Demikian penjelasan para Ulama mengenai waktu lailatul qodar pendapat tersebut tentu berdasarkan disiplin ilmu yang mereka kuasai sehingga memperkaya informasi agar lebih semangat beribadah kepada Allah ta’ala untuk mencapai dan menemukan kemuliaan pada lailatul qodar, inilah rahasia mengapa malam lailatul qodr tidak pasti kapan waktunya agar manusia bersemangat untuk beribadah kepada Allah swt.
Perbedaan aktifitas atau pekerjaan seseorang terkadang muncul anggapan bahwa akan sangat sulit menemukan malam lailatul qodr, sangat baik jika seseorang mampu beri’tikaf di masjid pada hari sepuluh akhir bulan Ramadan dengan membaca Al-Quran, berdzikir atau dengan ibadah sunah lainnya, tetapi jika tidak mampu maka ada baiknya memperhatikan dan mencontoh munajat Nabi Musa ‘alaihissalam agar mampu meraih lailatul Qodr.
Seperti yang dijelaskan oleh Syaikh Usman bin Hasan bin Syakir al-Khubari dalam kitab Durrotun Nasihin halaman 286 “Nabi Musa A.s bermunajat kepada Allah ta’ala dalam munajatnya beliau bermohon “Ya Allah aku ingin mendekat (taqarrub) kepadamu, Allah menjawab : kedekatanku bagi orang yang terjaga/bangun (beribadah) pada malam lailatul qodr, Ya Allah aku ingin rahmatmu, Allah ta’ala menjawab rahmatku bagi orang yang menyayangi orang-orang miskin, Ya Allah aku ingin duduk di bawah naungan pohon surga hingga kumakan buahnya, Allah menjawab hal itu bagi orang yang bertasbih pada malam lailatul qodr, ya Allah aku ingin selamat dari api neraka, Allah ta’ala menjawab keselamatan dari neraka bagi orang yang beristighfar memohon ampun kepadaku pada malam lailatul qodr, ya Allah aku ingin ridho-Mu, Allah ta’ala menjawab ridhoku bagi orang yang sholat dua rakaat pada malam lailatul qodr”
Setidaknya pada munajat itu dapat diambil pelajaran penting jika terdapat hal yang menghalangi seseorang untuk beri’tikaf di masjid, maka orang-orang yang sibuk dengan pekerjaannya, mungkin karena lembur dan tanggung jawab pekerjaan, mencari nafkah keluarga atau aktifitas lain yang menghalanginya untuk beri’tikaf di masjid, maka mencapai dan meraih kemuliaan lailatul qodar dapat juga dilakukan dengan terjaga dan terpaut hatinya untuk mengingat Allah ta’ala walau sedang bekerja, muncul sikap bahagia dan sayang kepada orang miskin lalu menyisihkan harta kepada mereka, dapat juga diraih dengan bersedekah kepada mereka yang beri’tikaf di Masjid, dapat juga diraih dengan terus membaca kalimah istighfar seraya bermohon ampun kepada Allah ta’ala pada setiap aktifitas yang dilakukan atau jika mampu, diraih dengan solat sunah mutlak dua rokaat atau solat dua
roka’at lailatul qodr.
Dengan demikian atas berbagai berbedaan tanggung jawab pekerjaan, tidak ada alasan apapun dan bagi siapapun untuk tidak mencapai dan meraih kemuliaan lailatul qodr. Semoga***
Oleh: Ahmad Sholeh, Dosen Pendidikan Agama Islam FAI UIR
Editor : RP Arif Oktafian