RIAUPOS.CO - Suluk merupakan implementasi dari tarekat Naqsyabandiyah. Pelaksanaan suluk di negeri tercinta ini dilakukan di pesantren, dayah, surau dan sejenisnya. Ibadah suluk dalam pelaksanaannya dibimbing oleh Mursyid sebagai guru atau wakil Mursyid hingga Khalifah. Tradisi dalam masyarakat, pelaksanaan suluk ada 40 hari, 30 hari, 20 hari hingga 10 hari.
Ibadah suluk apabila kita mengkajinya dalam banyak perspektif baik antropologi, sosiologi dan tarbiyah maupun lainnya tentunya akan melahirkan sebagai the power (kekuatan) yang sangat dahsyat, sehingga sangat wajar dulunya para penjajahan Belanda sangat menakuti tempat atau dayah yang masih menerapkan santrinya dengan pengamalan tarekat baik Naqsyabandiah lewat suluknya, Syattariah, Hadadiyah lewat khulwahnya dan masih banyak lainnya.
Dan syaikh itu merupakan wasithah (perantara) untuk sampai kepada Allah. Menghimpun semua panca indra, memutuskan hubungan dengan semua yang membuat kita ragu kepada Allah, dan menghadapkan semua indra hanya kepada Allah. Kemudian mengucapkan “ilahi anta maqshudi waridhaka mathlubi” sebanyak tiga kali, kemudian berzikir sesuai dengan amaliah masing-masing salik (Tanwirul Qulub, Syekh Amin Qurdi, h. 5110).
Syekh Amin Kurdi juga menyebutkan seorang salik harus mempunyai dua puluh syarat untuk mengarungi samudera ibadah suluk. Salik terlebih dulu harus ada niat ikhlas untuk beribadah dan tidak mengharapkan kemulian dan karamah, berpuasa, berkekalan wudhu disamping beberapa syarat lainnya. (Tanwirul Qulub, Syekh Amin Kurdi, h. 430-431)
Nilai psikospritual yang lahir dari aktifitas suluk ini akan menuntun dan membetuk karakter sang salik untuk lebih khusuk (konsentrasi penuh) dalam beribadah. Sehingga kenikmatan zikir kepada Allah dirasakan oleh sang salik. Berbagai kenikmatan zikir inilah yang membawa para salik untuk selalu beretika dan bernorma sesuai dengan ajaran-ajaran Islam. Sebagian besar pengikut tarekat Naqsyabandiyah berpandangan bahwa akhlak yang mulia pada seseorang merupakan pancaran dari ”cahaya” Tuhan yang limpahkan kepada manusia.
Manusia akan berakhlak mulia apabila nur Ilahi itu mampu menyinari dirinya. Semakin terang cahaya Illahi menerangi jiwa manusia, maka akan semakin luhur akhlak manusia tersebut. Oleh karena itu, dalam ajaran tarekat Naqsyabandiyah akhlak yang mulia tidak bisa hanya dibuat oleh manusia, tetapi harus ada campur ”tangan” sang khalik. Ketika sudah menjadi ‘alumni” pondok suluk, tugas sosial seperti pergaulan, persahabatan dan mengajarkan akhlak tidaklah menghilangkan makna dari suluk tersebut.
Suluk Baca Juga: Kegiatan Suluk 10 Hari Diminati Generasi Muda Rohul
Para ‘alumni” suluk harus mampu mewarnai nilai-nilai yang telah diajarkan dalam ibadah suluk untuk di implementasikan dan menjadi “kamus” akhlakul karimah dalam kehidupan sehari serta suri tauladan masyarakat. Dalamm ritual suluk sendiri juga nilai sosial dengan riadhah (melakukan aktifitas sosial) di waktu menjelang dhuha menjadi modal tersendiri dalam menyampaikan dakwah sosial.
Para penempuh jalan rohani melaksanakan, tugas-tugas individual dan sosial yang terkait dengannya, setelah melaksanakan suluk khusus, selanjutnya mereka akan melaksanakan suluk umum yang penuh tantangan dan ujian. Hendaklah sang salik menunaikan dengan niat tulus dan keikhlasan penuh.
Imam Qusyairi dalam kitabnya berjudul Ar-Risalah al-Qusyayriyyah fi ‘Ilm at-Tashawwuf memberi tahu kepada mereka para pembenci ajaran tasawuf bahwa yang benar bukanlah seperti apa yang mereka ketahui.Sesungguhnya para ahli tasawuf yang muhaqqiqin berjalan di atas manhaj Al-Qur’an dan sunnah Rasulullah SAW.
Mereka tidak keluar dari manhaj utama itu satu jengkal pun. Dan mereka semua berada di atas jalan para generasi as-salafush shalih dalam iman, aqidah, dan suluk mereka. Selain kepada orang-orang yang memusuhi tasawuf, tentu kitab ini terutama ditujukan kepada para ahli tasawuf.***
Oleh: Tgk Helmi Abu Bakar el-Langkawi, Kandidat Doktor UIN Ar-Raniry Banda Aceh