Riau Pekanbaru Nasional Internasional Hukum Ekonomi Olahraga Berita Hiburan Kesehatan Kriminal Pendidikan Sumatera Politik Perca Liputan Khusus Lingkungan Ladies Kebudayaan Begini Ceritanya Kick Out Hoax Interaktif Gaya Hidup Feature Buku Opini Betuah

Urgensi Pendidikan Berkarakter

Redaksi • Senin, 24 November 2025 | 11:20 WIB
Irfan Maaruf, Pendidik SD Negeri 143 Kota Pekanbaru.
Irfan Maaruf, Pendidik SD Negeri 143 Kota Pekanbaru.

​BERTEPATAN dengan bulan November, kita sebagai insan profesi guru akan bersiap untuk merayakan Hari Guru Nasional (HGN) yang istimewa.

​Tema Bulan Guru Nasional tahun ini adalah “Guru Hebat, Indonesia Kuat.” Tema ini diusung oleh Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) sebagai bentuk apresiasi terhadap guru dan tenaga kependidikan serta untuk mendorong transformasi pendidikan yang inklusif, adaptif, dan berkelanjutan. Tema ini menekankan bahwa guru yang hebat merupakan fondasi dasar untuk membangun Indonesia yang lebih kuat. Tujuannya adalah memperkokoh budaya keteladanan, memperluas praktik baik, serta mendorong kolaborasi dan inovasi dalam ekosistem pendidikan. Berbagai acara, mulai dari webinar, seminar, hingga dialog interaktif, sedang berlangsung saat ini dalam rangka membahas masa depan pendidikan di Indonesia yang semakin membaik dan maju bersama GTK secara bertahap, hingga mencapai puncaknya pada tanggal 25 November 2025.

​Dalam dunia pendidikan, peran negara wajib hadir secara menyeluruh karena pendidikan adalah salah satu tolok ukur utama kemajuan sebuah negara, menjadi dasar kesuksesan pembangunan. Berbicara tentang pendidikan, tentu tidak lepas dari unsur utamanya, yaitu profesi guru. Pekerjaan sebagai guru bukan sekadar profesi biasa. Menurut bahasa Sanskerta, “guru” berasal dari “gu” (menuju) dan “ru” (cahaya), bermakna seseorang yang memberikan tuntunan menuju cahaya, yaitu ilmu pengetahuan. Sementara dalam bahasa Jawa, “guru” bisa diartikan sebagai digugu dan ditiru, yang bermakna guru dipercaya dan menjadi contoh.

​Guru adalah pendidik profesional yang memiliki tugas utama mendidik, mengajar, membimbing, mengarahkan, melatih, menilai, dan mengevaluasi peserta didik pada berbagai jenjang pendidikan. Secara umum, guru bertanggung jawab mengembangkan potensi siswa dan menjadi teladan bagi mereka (disiplin dalam tugasnya).

Peran Kunci Guru
​Peran guru sangat esensial dalam ekosistem pendidikan. Guru bertindak pertama, sebagai pendidik profesional yang memiliki kualifikasi akademik, kompetensi, serta mampu mewujudkan tujuan pendidikan nasional. Kedua, sebagai pengajar dan pendidik yang membentuk kepribadian siswa agar memiliki kedewasaan dan akhlak mulia. Fokus utama terletak pada penanaman disiplin, di mana guru harus menerapkan disiplin bagi dirinya sendiri sebagai teladan nyata setiap hari yang dapat dilihat oleh siswa-siswi, agar kelak mereka semua dapat melakukan disiplin sebagai aksi nyata. Ketiga, sebagai pembimbing dan teladan, yang bertugas mengarahkan siswa di jalur yang benar. Keempat, sebagai fasilitator, yang membantu siswa mengembangkan pengetahuan dan menemukan solusi ketika mengalami kesulitan. Kelima, guru berfungsi sebagai pengembang potensi dengan mengikuti norma dan prinsip yang berlaku.

​Menjadi profesi guru saat ini terasa berat karena dunia anak semakin kompleks dan kita harus bisa ikut kuat menghadapinya. Guru hari ini membutuhkan hati yang lapang dan luas. Anak datang dengan luka yang tak kelihatan. Kita belajar membaca tanpa bertanya dan merangkul tanpa menghakiminya. Menjadi guru hari ini bukan soal nilai, tetapi soal menemani untuk tumbuh. Sebab, “yang bandel nakal perlu didengar, serta yang pendiam membutuhkan untuk disapa.”

Transformasi dan Tantangan Karakter Siswa
Sistem pendidikan nasional semakin maju dan terus berkembang pesat. Transformasi pembelajaran secara digital kini terasa di ruang-ruang kelas belajar. Lebih dari 173 ribu sekolah telah memanfaatkan panel interaktif digital (Interactive Flat Panel/IFP), yang terbukti mengubah cara guru mengajar dan cara siswa memahami materi secara lebih cepat, interaktif, dan menyenangkan.

​Namun, yang kita risaukan bukanlah kemajuan sistem teknologi, melainkan sumber daya manusia yang akan melaksanakan sistem itu: guru, siswa-siswi, peran orang tua, serta lingkungan masyarakatnya.

​Bentuk kekhawatiran dan kerisauan yang mendesak saat ini adalah karakter siswa-siswi. Pola utamanya menarik sekaligus menantang, serta turut memprihatinkan, meliputi:

​Pertama, terjadi hilangnya kesantunan dan sopan santun. Siswa cenderung menggunakan bahasa singkat dan kurang hormat karena terbiasa dengan gaya komunikasi cepat di media sosial (pengaruh gawai), diperparah kurangnya contoh perilaku di rumah. Kedua, muncul individualisme yang kuat. Anak-anak cenderung fokus pada diri sendiri, mengejar likes dan followers, mengurangi rasa kebersamaan dan empati, yang memicu bullying dan kesulitan bekerja sama. Ketiga, adanya krisis moral dan karakter. Indeks karakter siswa menurun, ditandai peningkatan kasus tawuran, penyalahgunaan narkoba, dan perilaku negatif lainnya, menandakan nilai-nilai etika belum terinternalisasi secara kuat. Keempat, terjadi perubahan paradigma guru-siswa. Guru kini dituntut menjadi fasilitator, menuntut mereka untuk lebih proaktif dalam membimbing etika dan empati.

​Kunci mengatasi tantangan ini terletak pada sinergi antara keluarga, sekolah, dan komunitas, dengan pendidikan karakter yang terintegrasi dalam kurikulum dan contoh perilaku sehari-hari. Pada hakikatnya, pendidikan berkarakter hadir sepenuhnya di lingkungan keluarga dan menjadi tanggung jawab orang tua juga. Harapan kita bersama adalah peran kolaborasi guru dan orang tua harus terjalin utuh, tanpa adanya pelimpahan tanggung jawab ke pihak sekolah.

Inti dan Tujuan Pendidikan Berkarakter
​Pendidikan berkarakter adalah konsep yang fokus pada penanaman dan penguatan nilai moral, etika, dan perilaku baik (seperti kejujuran, disiplin, tanggung jawab, serta rasa hormat) demi membangun karakter manusia agar menjadi pribadi yang berguna dan bermanfaat. Ini bertujuan untuk membentuk karakter manusia seutuhnya yang seimbang dan berakhlak mulia. Sistem pendidikan kita akan jauh lebih berarti jika setiap guru, orang tua, dan peserta didik sama-sama bergerak dalam kepercayaan bahwa belajar adalah proses menjadi lebih baik setiap hari.

​Unsur-unsur pendidikan berkarakter mencakup pengetahuan (memahami nilai), kesadaran/kemauan (melaksanakan nilai), dan tindakan (menerapkan nilai dalam kehidupan, seperti piket kebersihan dan kerapian).

​Tujuan pendidikan berkarakter, antara lain: Pertama, membangun karakter yang sejalan dengan nilai-nilai Pancasila dan budaya bangsa. Kedua, meningkatkan kualitas penyelenggaraan di sekolah, yang pada akhirnya menampakkan hasil pendidikan bermutu. Ketiga, mengembangkan potensi peserta didik agar memiliki akhlak mulia dan berperilaku baik. Keempat, membantu siswa-siswi mengambil keputusan secara bijaksana. Kelima, mengatasi krisis moral dengan menumbuhkan integritas, empati, dan tanggung jawab.

Fungsi dan Urgensi
​Fungsi pendidikan karakter meliputi fungsi pembentukan (mengembangkan potensi peserta didik), fungsi perbaikan (memperkuat peran keluarga, sekolah, dan masyarakat), dan fungsi penyaring (membantu masyarakat menyaring budaya luar yang tidak sesuai dengan nilai-nilai luhur bangsa).

​Pendidikan berkarakter sangat penting di Indonesia saat ini karena: Pertama, mengatasi krisis moral dan karakter yang ditandai dengan peningkatan kasus kekerasan dan intoleransi. Kedua, untuk pembentukan karakter bangsa yang berlandaskan nilai-nilai Pancasila. Ketiga, untuk pengembangan sumber daya manusia yang berkualitas, produktif, dan berdaya saing. Keempat, untuk menghadapi tantangan global seperti perubahan iklim dan konflik, dengan menanamkan nilai empati, toleransi, dan kerja sama.

​Pendidikan karakter harus diimplementasikan secara holistik, tidak hanya di sekolah, tetapi juga di rumah dan masyarakat. Guru, orang tua, dan masyarakat harus bekerja sama.

Aspek dan Strategi Pelaksanaan
​Aspek penting dalam pendidikan berkarakter adalah pertama, mengembangkan karakter yang baik (jujur, disiplin, empati). Kedua, meningkatkan kualitas pendidikan. Ketiga, mengembangkan keterampilan sosial (komunikasi, kerja sama). Keempat, meningkatkan kesejahteraan siswa. Prinsip-prinsip pendidikan berkarakter juga sejalan dengan empat aspek ini.

​Strategi implementasi mencakup pertama, mengintegrasikan pendidikan berkarakter ke dalam kurikulum. Kedua, mengembangkan program pendidikan berkarakter yang efektif. Ketiga, melatih seluruh guru dan staf TU. Keempat, mengembangkan kemitraan dengan masyarakat.

​Imam Syafi’i pernah berkata bahwa ilmu tanpa adab ibarat bangunan tanpa pondasi. Kecerdasan sejati adalah ketika ilmu membuat kita menjadi lebih rendah hati.

​Oleh karena itu, pendidikan berkarakter adalah pendekatan yang bertujuan mengembangkan karakter siswa yang baik dan positif. Peran guru sebagai pelaksana langsung, yang setiap hari bertemu dengan siswa-siswinya, akan terlihat tampak melalui aksi nyatanya. Lingkungan sekolah yang nyaman dan bersih hadir karena kesadaran setiap peserta didik bahwa kebersihan adalah faktor penunjang kesehatan mereka.

​Menjadi guru untuk hari ini makin melelahkan, tapi juga semakin membuat jatuh cinta, karena tiap anak punya cerita dan saya selalu ada di tengahnya.***

​Oleh: Irfan Maaruf, Pendidik SD Negeri 143 Kota Pekanbaru

Editor : Arif Oktafian
#berkarakter #opini #hari guru nasional #Urgensi Pendidikan