Riau Pekanbaru Nasional Internasional Hukum Ekonomi Olahraga Berita Hiburan Kesehatan Kriminal Pendidikan Sumatera Politik Perca Liputan Khusus Lingkungan Ladies Kebudayaan Begini Ceritanya Kick Out Hoax Interaktif Gaya Hidup Feature Buku Opini Betuah

Ilusi Minyak Baru

Redaksi • Rabu, 26 November 2025 | 11:29 WIB
Nazaruddin, Pengamat Masalah Sosial dan Politik.
Nazaruddin, Pengamat Masalah Sosial dan Politik.

DI RIAU, kabar tentang “penemuan minyak baru” selalu menjadi percikan yang cepat menyulut emosi publik. Kita hidup di tanah yang pernah menjadi jantung energi Indonesia, tetapi sekaligus menjadi saksi bagaimana harapan yang dilemparkan dari pusat sering berakhir sebagai kekecewaan yang sama dan selalu berulang. Kondisi ini melelahkan dan kadang terasa seperti disengaja. Itu sebabnya, ketika Pertamina Hulu Rokan (PHR) mengumumkan bahwa Blok Rokan memiliki potensi besar minyak nonkonvensional (MNK), reaksi masyarakat terbelah dua: antara harapan baru dan kewaspadaan lama.

​Namun, jika disisir lebih teliti, euforia ini lebih tepat disebut ilusi minyak baru; sebuah narasi yang lebih kencang daripada kenyataan teknisnya.

​MNK bukan minyak ramah yang tinggal dipompa dari bawah tanah. Ia terkunci di shale tua yang keras, rapuh, dan sangat tidak permeabel. Berbeda dengan reservoir klasik Duri atau Minas yang mudah memproduksi, MNK membutuhkan teknologi pengeboran horizontal multi-tahap (multi-stage) dan fracking masif. Tanpa itu, minyak tak akan bergerak satu inci pun ke permukaan. Amerika Serikat bisa sukses karena tiga hal yang belum dimiliki Indonesia: ekosistem shale yang lengkap, biaya pengeboran yang murah, dan regulasi yang memungkinkan ribuan sumur dikerjakan dalam waktu singkat.

​Riau bukan Texas, dan Rokan bukan Permian Basin
​Yang membuat publik makin perlu berhati-hati: PHR tidak membuka data teknis apa pun yang layak diuji publik. Tidak ada angka P90, P50, atau P10. Tidak ada publikasi log petrofisik, core sample, brittleness index, atau geomekanika. Tidak ada hasil uji laboratorium yang menjelaskan apakah shale di Rokan benar-benar memiliki sweet spot.

​Padahal, klaim potensi tanpa data—apalagi di sektor hulu migas—lebih dekat dengan retorika daripada realita.

​Karena itu, sebelum publik Riau dibuat terbang terlalu tinggi, ada satu hal mendasar yang harus dijelaskan: potensi bukan cadangan. Potensi hanyalah gambaran teoretis di atas kertas. Cadangan adalah energi yang telah terbukti dapat diproduksi secara teknis dan ekonomis. Tanpa uji pengeboran, tanpa fracking test, tanpa flow rate yang stabil, MNK Rokan belum bisa disebut sebagai cadangan. Bahkan, belum masuk kategori contingent resources yang bonafide (sesungguhnya).

​Masalahnya tidak berhenti di geologi. Ada sisi politik energi daerah yang ikut tergerak oleh klaim ini.

​Sejak Riau mendapatkan hak atas PI 10% (partisipasi interest 10 %), masyarakat memandangnya sebagai simbol keadilan kecil yang terlambat datang. Puluhan tahun bumi ini dikuras, tetapi defisit keadilan fiskal tetap terasa. Maka, ketika muncul kabar MNK besar, imajinasi publik sudah terbang lebih dulu: bahwa PI 10 % akan meningkat, bahwa dividen BUMD akan tebal, bahwa APBD akan kembali gemuk seperti era kejayaan 1980–2000.

​Sayangnya, logika ekonomi migas tidak berbicara dalam bahasa harapan. Ia bicara dalam bahasa data dan profit.

​PI 10 % dibayarkan dari keuntungan, bukan dari konferensi pers atau dari angka potensi yang diumumkan dengan percaya diri. Jika MNK ternyata tidak ekonomis dan biaya investasinya membengkak, profit PHR dapat tergerus. Ini berarti terdapat dua konsekuensi utama. Pertama, tidak ada tambahan pendapatan untuk daerah. Kedua, pendapatan bahkan bisa jadi menyusut, jika cost recovery dan depresiasi meningkat.

​Dengan kata lain, tanpa first oil, tidak ada first money. PI 10 % tidak akan bertambah hanya karena ada pernyataan optimistis.

​Inilah ilusi ganda yang secara halus sedang bekerja: ilusi cadangan dan ilusi dividen.

​Riau harus waspada. Jangan sampai masyarakat digiring untuk percaya bahwa ada babak baru kemakmuran yang siap datang, padahal fondasi teknisnya belum ada.

​Riau sudah terlalu sering dijejali optimisme yang basi. Kita pernah mendengar janji bahwa enhanced oil recovery (EOR) akan mengembalikan kejayaan Rokan. Hasilnya? Produksi tetap turun dari tahun ke tahun. Kita pernah dijanjikan eksplorasi besar yang akan membawa angin segar bagi APBD daerah. Nyatanya? Hampir tidak ada temuan signifikan dalam 20 tahun terakhir. Pun setelah 5 tahun era dikelola PHR.

​Kini, kita kembali dihadapkan pada narasi yang sama, hanya dengan nama baru: MNK.

​Riau tidak boleh terus-menerus menjadi penonton dalam drama panjang migas nasional. Tanah ini telah memberi miliaran barel minyak kepada republik, tetapi yang tersisa bagi masyarakat adalah jalan rusak, lingkungan rusak, dan pendapatan yang perlahan menurun. Karena itu, Riau berhak atas kejujuran dan transparansi, bukan sekadar slogan hasil rapat direksi.

​Masyarakat berhak tahu apakah fracking aman dilakukan di wilayah gambut dan permukiman, berapa biaya sebenarnya untuk satu sumur MNK, adakah kajian ekonominya yang valid, apa risiko lingkungannya, dan adakah jaminan bahwa proyek ini tidak justru menjadi beban fiskal bagi daerah.

​Pertanyaan-pertanyaan itu tidak pernah dijawab. Tetapi publik sudah diminta percaya.

​Tugas media dan publik Riau adalah menjaga agar euforia ini tidak menjadi legitimasi politik atau manuver korporasi yang tidak berbasis data. Kita tidak menolak inovasi, tidak anti-teknologi, dan tidak alergi pada optimisme. Yang kita tolak adalah optimisme tanpa dasar; optimisme yang membuat masyarakat Riau kembali menjadi korban dari narasi energi yang tidak jujur.

​Sampai reservoir shale Rokan terbukti matang, sampai uji produksi memberikan hasil komersial, sampai angka keekonomian menunjukkan profit yang nyata, MNK Rokan tetap harus diposisikan sebagai hipotesis awal.

​Bukan masa depan energi.
Bukan kartu as.
Bukan tonggak kebangkitan.
​Hanya dugaan yang belum terbukti.
​Dan di negeri yang telah puluhan tahun hidup dari janji minyak, dugaan seperti ini tidak boleh kembali dijual sebagai masa depan.

​Sebab yang lebih menyakitkan dari cadangan kecil adalah cadangan yang dibesar-besarkan. Dan sampai hari ini, MNK di Rokan masih berada tepat di wilayah itu: ilusi minyak baru.***

Oleh: Nazaruddin, Pengamat Masalah Sosial dan Politik.

Editor : Arif Oktafian
#PHR #minyak #opini #ilusi #riau