DI TENGAH tingginya angka tengkes (stunting) di Indonesia, pendekatan gizi sering kali terjebak pada intervensi yang mahal dan sulit dijangkau. Padahal, solusi dapat hadir dari sesuatu yang sederhana, dekat, dan akrab di lidah masyarakat: camilan sehat. Salah satu yang berpotensi adalah peyek udang rebon—makanan selingan berbasis pangan lokal yang menyimpan nilai gizi penting untuk pertumbuhan tinggi badan, terutama kalsium.
Selama ini, sebagian orang beranggapan bahwa makanan selingan (snack) dipersepsikan sebagai “pengganggu” pola makan utama (sarapan, makan siang, dan makan malam). Namun, perspektif tersebut perlu diperbarui. Literatur gizi menegaskan bahwa konsumsi makanan selingan justru berperan sebagai pelengkap kebutuhan harian. Makanan selingan biasanya dikonsumsi pada pukul 10.00–12.00, 14.00–15.00, dan 20.00–22.00 waktu setempat. Mengonsumsi makanan selingan tiga kali sehari dengan kontribusi masing-masing 10 persen kecukupan harian dapat menyumbang total 30 persen kebutuhan gizi harian. Dengan demikian, camilan bukan sekadar tambahan, melainkan bagian dari pemenuhan gizi.
Setiap waktu makan selingan idealnya menyumbang sekitar 10 persen Angka Kecukupan Gizi (AKG). Menariknya, pola konsumsi masyarakat menunjukkan bahwa camilan biasanya terbagi menjadi dua kategori: manis dan asin, yang masing-masing menyumbang sekitar 5 persen AKG. Di sinilah posisi peyek udang rebon menjadi relevan. Produk ini masuk dalam kelompok camilan asin dengan formulasi yang dikembangkan untuk memenuhi sekitar 5 persen AKG—sebuah angka yang signifikan.
Keunggulan utama peyek udang rebon terletak pada kandungan kalsiumnya. Udang rebon dikenal sebagai sumber kalsium yang baik meski dalam jumlah kecil. Ketika diolah menjadi peyek yang renyah, nilai fungsionalnya meningkat: tidak hanya bergizi, tetapi juga dapat diterima secara sensorik oleh anak-anak. Hasil uji organoleptik dalam penelitian pengembangan produk di Laboratorium Pangan Poltekkes Kemenkes Riau tahun 2026 menunjukkan bahwa produk ini sangat disukai oleh responden.
Baca Juga: Minyak, Perang, dan Rapuhnya APBN Kita
Manfaat peyek udang rebon dapat dioptimalkan jika dikombinasikan dengan minuman yang tepat, seperti air jeruk. Kalsium bersinergi dengan vitamin C untuk meningkatkan penyerapan di saluran cerna dan mendukung kesehatan tulang. Vitamin C membantu menciptakan lingkungan asam yang diperlukan agar penyerapan kalsium lebih efektif. Selain itu, rasa segar air jeruk mampu menyeimbangkan karakter gurih dari peyek sehingga lebih nyaman dikonsumsi oleh anak.
Dari sisi waktu konsumsi, peyek udang rebon sangat ideal dijadikan camilan sore. Pada rentang waktu ini, anak biasanya mulai mengalami penurunan energi setelah aktivitas siang hari, tetapi belum memasuki waktu makan malam. Camilan bergizi ini membantu menjaga kestabilan energi sekaligus menyumbang zat gizi harian.
Berdasarkan hasil uji kimia oleh Laboratorium Penguji Balai Besar Standardisasi dan Pelayanan Jasa Industri Agro (BBSPJIA) di bawah Kementerian Perindustrian Republik Indonesia pada 9 hingga 16 Maret 2026, diketahui bahwa 100 gram peyek udang rebon mengandung 298 mg kalsium. Satu keping peyek dengan berat 10 gram mengandung 29,8 mg kalsium. Untuk anak usia 2–3 tahun, konsumsi satu keping peyek sudah memenuhi 4,58 persen (sekitar 5 persen) AKG kalsium. Sementara itu, anak usia 4–6 tahun perlu mengonsumsi dua keping untuk satu waktu makan selingan.
Baca Juga: Ketika Masa Depan Membuat Remaja Gelisah
Penting untuk dipahami bahwa dalam sehari kita memerlukan tiga kali makan utama dan tiga kali makan selingan. Makan utama berkontribusi sebesar 70 persen AKG (sarapan 20 persen, makan siang 30 persen, dan makan malam 20 persen), sedangkan makanan selingan berkontribusi sebesar 30 persen AKG (masing-masing waktu 10 persen). Peyek udang rebon hadir sebagai pilihan makanan selingan asin yang memenuhi porsi 5 persen AKG tersebut.
Namun, terdapat tantangan yang harus dihadapi. Pertama, persepsi masyarakat harus diubah agar melihat camilan sehat sebagai bagian dari pola makan seimbang. Kedua, inovasi produk harus terus dilakukan, terutama pada kemasan yang menarik bagi anak. Ketiga, edukasi kepada orang tua menjadi kunci utama.
Peyek udang rebon adalah camilan sehat, murah, dan mudah tersedia untuk mendukung tinggi badan optimal. Produk ini telah diproduksi secara profesional di Laboratorium Penyelenggaraan Makanan Poltekkes Kemenkes Riau oleh mahasiswa, alumni, dan laboran untuk dikomersialisasikan. Jika intervensi gizi biasanya mengandalkan susu dan telur, peyek udang rebon hadir melengkapi pilihan tersebut dengan kearifan lokal.
Selain aspek ilmiah, aspek ekonomi juga dikembangkan. Dengan biaya produksi yang terjangkau, produk ini berpeluang besar dikembangkan sebagai Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) berbasis teknologi gizi. Hal ini membuka peluang kemitraan dengan Badan Gizi Nasional (BGN) dalam penyediaan camilan untuk melengkapi menu Makan Bergizi Gratis (MBG) yang saat ini masih rendah kandungan kalsium hewani. Sinergi ini dapat diwujudkan melalui Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) dan Science Techno Park (STP) Poltekkes Kemenkes yang menaungi 38 Poltekkes Kemenkes se-Indonesia.
Biaya produksi peyek udang rebon ini adalah Rp3.448 per keping (dibulatkan menjadi Rp3.500), yang dihitung berdasarkan total biaya produksi Rp68.960 untuk 20 keping. Formulasi yang digunakan merupakan hasil penelitian akademisi secara berkesinambungan, sehingga menghasilkan tekstur yang ramah untuk anak dibandingkan dengan peyek konvensional di pasar.
Pada akhirnya, upaya perbaikan gizi anak tidak selalu harus datang dari program besar berskala nasional. Terkadang, solusi hadir dari dapur kecil yang mengolah bahan lokal menjadi pangan bernilai tinggi. Peyek udang rebon adalah contoh nyata camilan sederhana yang jika dikembangkan dengan tepat, dapat menjadi solusi besar dalam mengatasi masalah stunting di Indonesia. Sudah saatnya kita melihat camilan bukan sebagai masalah, melainkan sebagai peluang untuk kemajuan bangsa.***
Oleh: Aslis Wirda Hayati, Guru Besar Gizi Masyarakat di Jurusan Gizi Poltekkes Kemenkes Riau