MANAJEMEN talenta yang dikelola dengan prinsip yang benar serta dedikasi dan disiplin tinggi akan menghasilkan manfaat yang jauh lebih besar daripada biaya yang dikeluarkannya. Talenta organisasi tidak muncul dalam semalam, melainkan diperoleh melalui perubahan paradigma terhadap manusia yang diikuti usaha terus-menerus untuk memikat, mengembangkan, memotivasi, dan mempertahankan talenta terbaik di perusahaan. Tugas pemimpin sedari awal adalah membuat rencana kebutuhan talenta serta membangun citra untuk menarik dan mempertahankan talenta terbaik dari pasar tenaga kerja. Kini, semakin banyak perusahaan menyadari bahwa talenta dan keterampilan karyawan benar-benar berperan dalam mendorong bisnis menjadi lebih sukses. Oleh karena itu, manajemen talenta berperan sebagai suatu proses untuk memastikan bahwa posisi-posisi kunci pada perusahaan dapat diisi secara internal dengan cara memantapkan pusat pengembangan talenta yang memiliki keterampilan tinggi dan berkualifikasi.
Karyawan saat ini tidak sekadar membutuhkan gaji dan pendapatan, tetapi acap kali yang diharapkan justru adalah aktualisasi diri.
Oleh sebab itu, bagi karyawan yang memiliki prestasi bagus, perusahaan jangan segan-segan untuk terus membekali mereka dengan ilmu pengetahuan serta mengirimnya mengikuti berbagai jenis pendidikan dan pelatihan yang sesuai dengan bidang yang digeluti. Bahkan, tidak jarang di antara mereka yang memiliki potensi diikutkan dalam berbagai ajang bisnis global dengan tujuan memastikan tersedianya pasokan talenta untuk menyelaraskan orang yang tepat dengan pekerjaan yang tepat pada waktu yang tepat berdasarkan tujuan strategis organisasi. Saling dukung, saling sapa, dan saling percaya menjadi aspek penting untuk menjaga kelanggengan sumber daya manusia (SDM) pada perusahaan. Berdasarkan hasil penelitian, faktor yang membuat karyawan berkinerja tinggi bertahan antara lain: sejumlah 79 persen bertahan karena mempunyai kesempatan untuk maju, 69 persen bertahan karena pekerjaan mereka dirancang ulang, dan 65 persen bertahan karena mereka mempelajari keterampilan baru dalam pekerjaan saat ini. Sementara itu, penyebab karyawan berkinerja tinggi memilih mengundurkan diri antara lain disebabkan oleh ketidakpuasan terhadap manajemen perusahaan (56 persen) dan kesempatan promosi yang tidak memadai (56 persen). Kita menyadari bahwa terkadang hal yang memberatkan atau justru meringankan karyawan untuk berpindah perusahaan adalah soal keluarga. Karena penempatan yang jauh dari keluarga sering menjadi kendala, acara bersama seluruh anggota keluarga bisa menjadi pilihan untuk mengenalkan lingkungan perusahaan kepada mereka. Berdasarkan hasil penelitian tersebut, dapat disimpulkan bahwa mengembangkan talenta karyawan merupakan persyaratan utama menuju kelanggengan organisasi.
Baca Juga: Peyek Udang Rebon: Solusi Lokal Cegah Stunting
Pertanyaannya, sudahkah para pengambil kebijakan, khususnya para pemimpin di semua level, bersepakat menerapkan pola manajemen talenta dengan benar? Mari kita amati bersama apakah model pengembangan talenta di tempat kita sudah dijalankan dengan sepenuh hati atau masih setengah hati, alias masih didasarkan atas kesepahaman dan kedekatan semata. Siapa yang dekat dengan pusat kekuasaan, maka merekalah yang akan mendapat peluang pengembangan karier. Model seperti ini semestinya harus ditinggalkan demi mempertahankan kelanggengan organisasi serta menjamin keadilan dan pertumbuhan organisasi yang berkelanjutan.
Program manajemen talenta yang berhasil akan membantu perusahaan menjawab tantangan bisnis, memasuki wilayah pasar baru, dan bergerak maju mengungguli kompetitor. Manfaat lainnya adalah kemampuan mengembangkan reputasi publik sebagai tempat kerja yang baik sekaligus memupuk loyalitas karyawan. Talenta akan lebih tertarik pada perusahaan yang menghargai kontribusi mereka dan memberikan kesempatan untuk terus mendaki tangga kesuksesan. Karena itu, sungguh mahal harga seorang karyawan yang bertalenta.
Karakter seseorang yang bertalenta tinggi dapat dipandang dari dua sudut pandang. Pertama, karakter bersifat alamiah yang meliputi sikap berwibawa, berjiwa besar, berhati lapang dan bersih, tegas, cermat, jujur, bertanggung jawab, serta berani menegakkan kebenaran. Mereka memiliki kebiasaan dan pertimbangan yang objektif, tidak mudah terpengaruh, mampu membaca perasaan serta jalan pikiran orang lain, bersikap sederhana namun bercita-cita tinggi, serta tidak membiasakan diri lari dari masalah melainkan menyenangi penyelesaian berbagai persoalan. Kedua, karakter yang dapat dikembangkan yang meliputi wawasan luas, kemampuan koordinasi, mengutamakan kelancaran kerja, memiliki dedikasi tinggi, dan selalu berupaya memberikan yang terbaik bagi organisasi. Karakter ini juga mencakup rasa kepedulian yang tinggi, cepat tanggap, dipercaya, disenangi lingkungan, mampu mematuhi segala peraturan dan kepatutan meskipun mengenai hal kecil, serta mampu bekerja berdasarkan aturan dan menjauhi kebiasaan berdasarkan kekuasaan. Mereka mampu mengambil keputusan melalui musyawarah dengan landasan yang kuat dan dapat dipertanggungjawabkan, serta mampu meyakinkan hal-hal yang berkaitan dengan tugas jabatannya. Selain itu, mereka menjauhkan diri dari sikap menuntut, tetapi selalu waspada membela diri agar tidak menjadi korban fitnah demi menegakkan kebenaran.
Baca Juga: Minyak, Perang, dan Rapuhnya APBN Kita
Pada era digitalisasi dan transformasi, dibutuhkan pemimpin yang mampu memberikan pengaruh, menginspirasi, mendorong inisiatif, serta mengembangkan timnya.
Mengutip ungkapan John Maxwell, “kepemimpinan berarti pengaruh, segala sesuatu bangkit dan jatuh bersama dengan kepemimpinan”. Artinya, seorang pemimpin yang baik mampu memengaruhi dan menggerakkan timnya menuju sasaran yang telah ditetapkan dan disepakati bersama. Kemampuan memengaruhi harus dibarengi dengan perilaku pemimpin yang memiliki daya tarik. Daya tarik diibaratkan sebuah magnet yang mampu menarik logam; orang lain akan mendekat dengan sendirinya tanpa disuruh. Daya tarik dapat berupa visi yang jelas dan mampu menginspirasi mereka untuk mencapainya. Visi tanpa tindakan hanya sebuah mimpi, tindakan tanpa visi hanya melewati waktu, sementara visi dengan tindakan dapat mengubah dunia. Pemimpin yang kompeten akan mampu melakukan perubahan seiring dengan tuntutan zaman yang berubah cepat, memiliki karakter terpuji, selalu menyelesaikan masalah, serta terus berupaya membahagiakan anggotanya dengan memperhatikan nasib dan masa depan mereka. Sikap dan tabiatnya selalu menyenangkan pegawai, penuh humor, dan senyum yang ikhlas.
Kejujuran selalu menjadi karakteristik nomor satu dalam memilih karyawan. Seseorang yang kompeten harus dapat memberikan inspirasi bagi pengikutnya. Jadilah pemimpin yang menjadi titik tengah, bersikap sebagai teman bagi anggotanya, mitra kerja, tumpuan organisasi, sekaligus motor penggerak organisasi. Oleh karena itu, pemimpin harus mampu menciptakan sinergi dan harmoni di tengah anggota yang memiliki kepentingan berbeda-beda. Ia berperan sebagai dirigen dalam sebuah pertunjukan orkestra sehingga tercipta satu irama dalam seni pertunjukan. Seorang pemimpin yang bekerja di jalur yang tepat akan bekerja dengan tenaga, hati, dan jiwa, sedangkan mereka yang berada di jalur yang salah akan bekerja dengan tenaga, kritik, dan keterpaksaan. Semoga.***
Oleh : Dosen Prodi Doktor Ilmu Manajemen Fakultas Ekonomi dan Bisnis Unri, Machasin