Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement

Jerubu 2026: Mengapa Kita Kembali ke Titik yang Sama?

R
Penulis: Redaksi❯
Arifudin, Dosen Universitas Riau Peneliti CPDS LPPM UNRI.
Arifudin, Dosen Universitas Riau Peneliti CPDS LPPM UNRI.

Advertisement

 

Tujuh tahun lalu, tepatnya 12 Agustus 2019, saya menulis di kolom Opini Riau Pos dengan judul “Membuka Jalan Buntu Penyelesaian Jerubu”. Saat itu Riau kembali diselimuti asap akibat kebakaran lahan gambut. Saya mempertanyakan satu hal sederhana: setelah bertahun-tahun menghadapi bencana yang sama, mengapa kita masih seperti mencari jalan keluar?

Agustus 2026, pertanyaan itu kembali relevan. Jerubu kembali hadir. Kebakaran hutan dan lahan kembali terjadi di berbagai wilayah Riau. Kualitas udara memburuk, aktivitas pendidikan terganggu, masyarakat kembali mengenakan masker, dan berbagai sumber daya kembali dikerahkan untuk pemadaman.

Advertisement

Situasi ini seharusnya membuat kita bertanya lebih dalam: mengapa setelah hampir tiga dekade menghadapi karhutla, kita masih kembali ke titik yang sama? 

Jerubu Bukan Sekadar Persoalan Api
Cara kita memahami masalah akan menentukan cara kita menyelesaikannya. Jika karhutla dipandang hanya sebagai persoalan api, jawabannya tentu pemadaman. Kita mengerahkan personel, patroli, water bombing, modifikasi cuaca, dan berbagai teknologi untuk menghentikan api.

Semua itu diperlukan dalam kondisi darurat. Tetapi setelah pengalaman panjang sejak bencana asap besar 1997, 2015, 2019 hingga 2026, kita semestinya telah bergerak dari sekadar memadamkan api menuju mengelola risiko.

Advertisement

Sebab akar persoalannya bukan hanya api. Akar persoalannya adalah bentang gambut yang kehilangan air. Secara alami gambut merupakan ekosistem basah. Ketika gambut dikeringkan melalui kanal dan drainase untuk berbagai kepentingan ekonomi, muka air tanah turun. Gambut menjadi kering, mudah terbakar, dan ketika terbakar sangat sulit dipadamkan.

Kondisi iklim seperti El Nino memperbesar risiko tersebut. Tetapi El Nino bukanlah akar persoalannya. El Nino tidak membuat kanal. El Nino tidak mengeringkan gambut. Kerentanan itu sebagian besar kita ciptakan sendiri melalui cara kita mengelola bentang alam.

Jangan Hanya Mencari Siapa yang Membakar 
Selama bertahun-tahun perhatian publik banyak diarahkan kepada pertanyaan: siapa yang membakar? Pertanyaan tersebut penting. Pembakaran yang melanggar hukum harus ditindak. Namun ada pertanyaan lain yang tidak kalah penting: Siapa yang membuat gambut menjadi sedemikian kering sehingga mudah terbakar?

Di sinilah persoalannya menjadi lebih struktural. Dahulu masyarakat Melayu mengenal praktik memerun, yakni mengumpulkan seresah dan membakarnya secara terkendali sebagai bagian dari praktik pertanian tradisional. Namun kondisi ekologis gambut saat ini telah berubah. Pada gambut yang telah mengalami drainase dan degradasi, api kecil dapat masuk ke lapisan gambut dan merambat di bawah permukaan.

Advertisement
Sudahkah Anda mengikuti channel whatsapp kami?
WhatsApp
Riau PosIkuti

Jadilah pembaca setia, gabung sekarang juga di channel kami!


Advertisement

Artikel Terkait

Kabut Asap Dikhawatirkan Mengganggu Kesehatan, Penutupan Sekolah di Johor Diperpanjang

Kabut Asap Dikhawatirkan Mengganggu Kesehatan, Penutupan Sekolah di Johor Diperpanjang

Kabut asap juga menyelimuti Malaysia, akibatnya Pemerintah Negara Bagian Johor memperpanjang penutupan institusi pendidikan selama lima hari

Jerebu Pekat, Bupati Siak Minta Maaf

Jerebu Pekat, Bupati Siak Minta Maaf

Jerebu pekat menyelimuti Siak meski tersisa satu titik api. Bupati Afni meminta maaf dan mendorong evaluasi serta penegakan hukum karhutla.

Pegawai Pemkab Siak Tidak Apel Pagi dan Petang selama Jerebu Pekat

Pegawai Pemkab Siak Tidak Apel Pagi dan Petang selama Jerebu Pekat

Bupati Siak Afni Z mengatakan pihaknya meniadakan apel pagi dan petang agar tidak berdampak pada kesehatan.akibat pekatnya jerebu .

Advertisement

Berita Terkini

Advertisement
Advertisement

Populer