Ada masa ketika sebuah universitas cukup berdiri kokoh di tanahnya sendiri—mengakar kuat pada sejarah, tumbuh bersama masyarakat, dan menjadi kebanggaan daerah. Dalam konteks itu, Universitas Riau telah menunaikan perannya dengan baik. Ia bukan sekadar institusi pendidikan tinggi, melainkan ruang tumbuh bagi generasi, tempat ide-ide dilahirkan, dan saksi dari perjalanan panjang pembangunan di Bumi Lancang Kuning sejak universitas ini berdiri tahun 1962.
Selama puluhan tahun, Universitas Riau hadir sebagai “rumah intelektual” bagi masyarakat Riau. Dari kampus inilah lahir ribuan alumni yang mengisi ruang-ruang strategis di pemerintahan, pendidikan, bisnis, dan berbagai sektor kehidupan. Dengan lebih dari sepuluh fakultas dan program pascasarjana yang terus berkembang, serta kawasan kampus yang luasnya mencapai lebih dari empat juta meter persegi, Universitas Riau memiliki fondasi institusional yang tidak kecil.
Namun zaman tidak pernah diam. Dunia bergerak dengan kecepatan yang kadang melampaui kesiapan kita untuk beradaptasi. Dalam lanskap pendidikan tinggi global hari ini, ukuran keberhasilan sebuah universitas tidak lagi semata ditentukan oleh luasnya kampus atau banyaknya lulusan yang dihasilkan. Yang menjadi ukuran adalah dampak—seberapa jauh ilmu pengetahuan yang dihasilkan mampu menjawab persoalan nyata, seberapa kuat reputasinya di mata dunia, dan seberapa besar kontribusinya dalam percakapan global tentang masa depan.
Baca Juga: Praktik Upeti Birokrasi
Di titik inilah Universitas Riau berdiri di sebuah persimpangan: melanjutkan langkah yang sudah mapan, atau berani melompat menuju horizon yang lebih luas.
Kondisi Saat Ini
Data memberi kita cermin yang jernih, meski kadang tidak selalu nyaman untuk dilihat. Saat ini, Universitas Riau memiliki lebih dari 1.300 dosen tetap. Dari jumlah tersebut, sekitar 416 orang atau kurang lebih 31 persen telah bergelar doktor. Angka ini tentu patut diapresiasi sebagai capaian, tetapi sekaligus menunjukkan bahwa jalan menuju keunggulan akademik global masih panjang.
Sebab, dalam kompetisi internasional, kualitas sumber daya manusia menjadi faktor yang sangat menentukan. Universitas-universitas yang menempati posisi atas dalam berbagai pemeringkatan dunia umumnya memiliki proporsi dosen doktor yang jauh lebih tinggi, bahkan melampaui 60 hingga 70 persen. Artinya, jika Universitas Riau ingin naik kelas, maka investasi pada peningkatan kualifikasi akademik dosen bukan lagi pilihan, melainkan keharusan.
Di sisi lain, dalam pemeringkatan berbasis riset seperti SCImago, posisi Unri masih berada di sekitar peringkat menengah nasional, yang menunjukkan bahwa produktivitas dan dampak riset sudah cukup baik, namun masih perlu ditingkatkan secara signifikan.
Hal serupa juga terlihat dalam konteks pengakuan global. Kehadiran Universitas Riau dalam QS Asia University Rankings dengan posisi di kisaran peringkat 1300-an di Asia dan sekitar 200-an di Asia Tenggara merupakan sebuah langkah awal yang penting.
Baca Juga: Kredibilitas Anggaran MBG lewat “Institusionalisasi Pengawasan”
Ini menunjukkan bahwa Universitas Riau telah mulai masuk dalam radar global selama kepemimpinan Prof. Sri Indarti, namun capaian ini sekaligus menjadi pengingat bahwa perjalanan menuju universitas bereputasi internasional masih membutuhkan kerja keras, strategi yang tepat, dan konsistensi dalam pelaksanaannya.
Memberdayakan Keunggulan Komparatif
Di balik tantangan tersebut, sesungguhnya Universitas Riau menyimpan potensi yang luar biasa. Ia tidak berdiri di ruang kosong. Ia tumbuh di tengah lanskap Riau yang kaya akan sumber daya alam, kompleks secara ekologis, dan sarat dengan nilai-nilai budaya.
Dari industri kelapa sawit yang menjadi tulang punggung ekonomi nasional, hingga persoalan lahan gambut dan kebakaran hutan yang menjadi perhatian dunia; dari potensi kemaritiman yang luas hingga warisan budaya Melayu yang mendalam—semuanya adalah laboratorium hidup yang tidak dimiliki oleh banyak universitas lain.
Di sinilah letak peluang sekaligus tantangan. Universitas Riau tidak perlu menjadi seperti “universitas seperti yang lain”. Ia justru perlu menemukan dan mengembangkan kekuatan khasnya sendiri. Menemukan keunggulan komparatif, keunikan yang membedakannya dengan yang lain.
Universitas yang besar bukanlah universitas yang seragam, melainkan universitas yang memiliki keberanian untuk menjadi unik. Ketika isu-isu lokal diolah dengan perspektif global, maka lahirlah pengetahuan yang tidak hanya relevan bagi daerah, tetapi juga bermakna bagi dunia.
Bayangkan jika Universitas Riau menjadi pusat kajian sawit berkelanjutan yang diakui secara internasional. Bayangkan jika riset tentang gambut dan perubahan iklim dari Riau menjadi rujukan global. Atau jika kajian tentang budaya Melayu menjadi referensi penting dalam diskursus peradaban. Semua itu bukanlah sesuatu yang mustahil—tetapi membutuhkan arah yang jelas dan keberanian untuk fokus.
Baca Juga: Tantangan Tata Kelola Ekonomi Karbon Gambut Riau
Investasi Serius pada Sumber Daya Manusia
Namun, transformasi tidak bisa hanya bertumpu pada potensi. Ia harus digerakkan oleh manusia. Tidak ada universitas unggul tanpa dosen yang unggul. Di Universitas Riau, para dosen adalah aktor utama perubahan. Mereka adalah pengajar, peneliti, sekaligus pemikir yang menentukan arah keilmuan. Oleh karena itu, upaya peningkatan jumlah doktor dan profesor harus diiringi dengan pembangunan ekosistem akademik yang sehat.
Ekosistem ini harus mendorong kolaborasi, bukan sekadar kompetisi; menghargai kualitas, bukan hanya kuantitas; dan memberikan ruang bagi setiap individu untuk berkembang. Dalam banyak kasus, masalah produktivitas riset bukan semata-mata persoalan kapasitas individu, tetapi persoalan sistem. Ketika sistem mendukung—melalui penganggaran yang cukup, insentif yang tepat, mentoring yang berkelanjutan, serta kolaborasi yang terbuka—maka produktivitas akan tumbuh secara alami.
Menjadi Smart University
Pada saat yang sama, transformasi universitas tidak dapat dipisahkan dari perkembangan teknologi. Dunia hari ini bergerak menuju era digital yang serba cepat dan terintegrasi. Dalam konteks ini, universitas tidak cukup hanya mengadopsi teknologi sebagai alat bantu, tetapi harus menjadikannya sebagai bagian dari strategi.
Baca Juga: Sisi Gelap dari Kekuasaan
Di Universitas Riau, upaya digitalisasi telah dilakukan, seperti kehadian sistem Satu Unri, tetapi masih menghadapi berbagai tantangan. Sistem yang belum sepenuhnya terintegrasi, layanan yang masih sebagian manual, serta pengalaman pengguna yang belum optimal menunjukkan bahwa transformasi digital masih perlu dipercepat.
Ke depan, Universitas Riau perlu bergerak menuju konsep smart university—sebuah universitas yang berbasis data, adaptif terhadap perubahan, dan mampu mengambil keputusan secara cerdas. Ini bukan sekadar soal teknologi, tetapi soal perubahan cara berpikir.
Internasionalisasi Bukan Pilihan, Dia Keharusan
Selain itu, dalam dunia yang semakin terhubung, internasionalisasi menjadi kebutuhan yang tidak bisa dihindari. Universitas tidak lagi berdiri sendiri, tetapi menjadi bagian dari jaringan global. Pertukaran mahasiswa, kolaborasi riset lintas negara, serta kehadiran dosen internasional bukan hanya meningkatkan reputasi, tetapi juga memperkaya pengalaman akademik.
Namun internasionalisasi tidak boleh dimaknai sebagai kehilangan identitas. Justru di tengah arus globalisasi, identitas menjadi semakin penting. Universitas Riau memiliki akar budaya Melayu yang kuat. Nilai-nilai ini bukan sekadar warisan, tetapi dapat menjadi sumber inspirasi dalam membangun keunggulan akademik yang berkarakter. Ketika nilai lokal dipadukan dengan perspektif global, maka lahirlah universitas yang tidak hanya kompetitif, tetapi juga bermakna.
Transformasi Tiada Henti
Akhirnya, kelanjutan transformasi Universitas Riau bukanlah tentang mengejar angka semata, meskipun indikator seperti QS World University Rankings tetap penting sebagai alat ukur. Lebih dari itu, transformasi adalah tentang keberanian—keberanian untuk berubah, untuk menetapkan standar yang lebih tinggi, dan untuk melangkah keluar dari zona nyaman.
Perjalanan ini tentu tidak mudah. Akan ada keterbatasan, tantangan, bahkan keraguan. Tetapi sejarah selalu berpihak kepada mereka yang berani mengambil langkah. Universitas Riau telah menjadi kebanggaan daerah. Kini saatnya melampaui itu—menjadi universitas yang berdampak, relevan, dan diakui di tingkat Asia.
Karena pada akhirnya, sebuah universitas tidak diingat karena bangunannya, tetapi karena gagasan dan kontribusinya bagi dunia. Dan mungkin, pertanyaan paling jujur yang perlu kita ajukan hari ini adalah: apakah kita siap untuk bertransformasi dan siapa yang layak memimpin keberlanjutan transformasi ini?***
Oleh: Afrianto Daud, Guru Besar FKIP Universitas Riau