Ada temuan dua teknologi yang memberikan kemudahan bagi manusia dalam melaksanakan kehidupannya sehari-hari, baik yang bersifat positif dan negatif. Semenjak ditemukannya listrik oleh Thomas Alva Edison, kehidupan manusia berubah dari fase kekunoan ke fase modern. Listrik merupakan kebutuhan mutlak dalam menunjang kegiatan manusia melakukan berbagai macam pekerjaan tanpa pembatasan waktu.
Berkat jasa listrik, Alexander Parker menemukan pertama kali plastik melalui pengolahan bahan organik dan selulosa. Kemudian mulai banyak ilmuwan yang mengembangkannya hingga diperoleh plastik seperti sekarang yang bukan lagi berbahan alami, melainkan hasil dari penguraian (cracking) minyak bumi dan berbentuk serbuk putih yang dibentuk menjadi lembaran, lempengan, dan film, berkat adanya jasa listrik.
Plastik merupakan material yang digunakan dalam kehidupan manusia sehari-hari karena sifatnya banyak memberikan keuntungan dan kemudahan bagi manusia. Saat ini, sulit dibayangkan kehidupan manusia modern tanpa plastik dan telah menjadi tulang punggung berbagai kegiatan karena ringan, tahan lama, dan yang terpenting murah. Manusia modern tidak lagi sekadar menggunakan plastik, tapi hidup dalam ekosistemnya. “Kita adalah manusia-manusia plastik,” kata Aquido Atri (Kompas, 18-19 April 2026).
Permasalahan plastik selama ini menurut Manajer Program Yayasan KEHATI, Christian Natralie (Kompas, 18-19 April 2026) bukan semata pada penggunaannya, melainkan pada nasib akhirnya sebagai sampah, tidak lagi bernilai sirkuler. Plastik sekali pakai kerap berujung di Tempat Pembuangan Akhir (TPA), bahkan mencemari sungai, saluran air, dan membentuk gunungan sampah yang belum diangkut di perkotaan yang berdampak pada estetika dan kesehatan.
Bahkan dalam beberapa kasus ikut memicu bencana seperti longsor di timbunan sampah di Bantar Gebang Bekasi merebut nyawa beberapa pemulung. Akhir-akhir ini, berbagai dampak negatif penggunaan plastik di seluruh dunia merupakan masalah lingkungan serius yang harus diakhiri.
Baca Juga: Membangun Manusia Penjaga Lanskap
Hari Lingkungan Hidup Sedunia (World Environment Day) 2026 di bawah naungan PBB (UNEP) akan diperingati pada Jum’at 5 Juni 2026 dengan Republik Azerbaijan sebagai tuan rumah global untuk menyoroti aksi iklim dan restorasi ekosistem. Peringatan ini bertujuan menyatukan dunia melawan krisis iklim, cuaca ekstrem, dan kerusakan iklim global, mendorong perubahan sistemik menuju masa depan yang lebih sehat.
Tema Hari Lingkungan Hidup Sedunia 2026 adalah “Beat Plastic Pollution” atau Mengakhiri/Hentikan Polusi Plastik dengan fokus utama berupa aksi iklim, mengatasi suhu yang meningkat, restorasi ekosistem, dan mengatasi polusi plastik. Tujuannya adalah menggerakkan aksi nyata individu, komunitas, dan pemerintah dalam perbaikan hubungan dengan iklim. Aksi yang dapat dilakukan untuk berpartisipasi meliputi pengurangan sampah plastik, pengelolaan limbah, dan mendorong inisiatif hijau lokal. Tanggal 5 Juni 2026 ini merupakan salah satu hari lingkungan internasional terbesar di dunia.
Tujuan utama peringatan tahun 2026 ini meliputi; Meningkatkan Kesadaran: Mengedukasi masyarakat akan pentingnya kelestarian lingkungan dan dampak aktivitas manusia terhadap alam, Aksi nyata dan Kolaborasi: Mendorong tindakan kolektif dari individu, komunitas, dan pemerintah untuk mengatasi krisis lingkungan seperti polusi dan deforestasi, Solusi Krisis Iklim: Fokus pada inovasi dan solusi untuk mengatasi perubahan iklim, polusi plastik, dan kerusakan keanekaragaman hayati, dan Keberlanjutan Masa Depan: Memastikan sumber daya alam tetap tersedia bagi generasi mendatang dengan mengadopsi pola konsumsi dan produksi yang bertanggung jawab.
Setiap tahun perayaan ini memiliki tema khusus- yang tahun ini kembali difokuskan pada solusi polusi plastic-yang didukung oleh Program Lingkungan PBB (UNEP) untuk mendorong perubahan kebijakan dan perilaku publik. Tema ini dipilih karena polusi plastik telah mencapai krisis global, dengan sekitar 11 juta ton limbah plastik masuk ke ekosistem perairan setiap tahunnya.
Sedikitnya 400 juta ton plastik diproduksi setiap tahun di seluruh dunia dan sebagian dirancang untuk sekali pakai. Hanya sekitar 12 persen plastik dimusnahkan dengan cara dibakar, sisanya hanya sekitar 9 persen yang telah didaur ulang. Secara keseluruhan, diperkirakan setiap tahun sebanyak 19-23 juta metrik ton sampah plastik yang tidak didaur ulang berakhir di TPA, danau, sungai, hingga laut.
Hari Lingkungan Hidup Sedunia 2026 merupakan kelanjutan/konsistensi peringatan pada tahun 2025 yang juga berfokus pada pengakhiran polusi plastik (Ending Plastic Pollution). Republik Korea menjadi tuan rumah perayaan global 2025. Selama beberapa dekade, diketahui polusi plastik telah meresap ke setiap sudut dunia, mencemari air yang kita minum, makanan yang kita makan, dan tubuh kita. Meskipun polusi plastik merupakan masalah besar, ini juga merupakan salah satu tantangan lingkungan saat ini yang paling mudah diatasi, dengan beberapa solusi yang jelas tersedia.
Hari Lingkungan Hidup Sedunia bergabung dengan “Beat Plastic Pollution” yang dipimpin UNEP pada tahun 2025 tersebut ditujukan untuk memobilisasi komunitas di seluruh dunia agar menerapkan dan mengadvokasi solusi. Hari Lingkungan Hidup Sedunia menyoroti bukti ilmiah yang semakin banyak tentang dampak polusi plastik dan mendorong momentum untuk menolak, mengurangi, menggunakan kembali, mendaur ulang, dan memikirkan kembali penggunaan plastik.
Juga memperkuat komitmen global yang dibuat pada tahun 2022 untuk mengakhiri polusi plastik melalui perjanjian global tentang polusi plastik. Tujuannya: Mengurangi sampah plastik di sumbernya, mendorong ekonomi sirkular, dan mempercepat perjanjian global untuk mengakhiri polusi plastik. Sedangkan Aksinya: Kampanye berfokus pada “Beat Plastic Pollution”, mengajak individu hingga perusahaan mengurangi penggunaan plastik sekali pakai.
Hari Lingkungan Hidup Nasional 2026
Hari Lingkungan Hidup Nasional tahun ini ditetapkan pemerintah Indonesia pada tanggal 10 Januari 2026. Peringatan ini seringkali bertepatan dengan Hari Gerakan Satu Juta Pohon dan menjadi refleksi tahunan untuk komitmen perlindungan lingkungan hidup di Indonesia. Momen ini bertujuan untuk meningkatkan kesadaran melestarikan alam Indonesia dengan fokus pada pengurangan penggunaan plastik sekali pakai, pengelolaan sampah, dan aksi penghijauan seperti gerakan satu juta pohon.
Di Indonesia, sampah plastik menempati posisi kedua sebagai jenis sampah yang paling banyak dihasilkan masyarakat. Sistem Informasi Pengelolan Sampah Nasional (SIPSN) mencatat, Indonesia menghasilkan sekitar 34,21 juta ton timbulan sampah pada tahun 2024 (Kompas, 20 Juni 2025).
Hari Lingkungan Hidup Nasional 2026 diperingati sebagai momentum refleksi dan komiten bersama dalam menjaga keberlanjutan alam Indonesia. Tema utamanya adalah “Lestarikan Alam Indonesia, Wariskan Hijau untuk Masa Depan”. Tema tahunan ini menegaskan bahwa alam bukan hanya sumber daya, melainkan warisan berharga yang harus dijaga dan diteruskan kepada generasi mendatang. Kerusakan lingkungan yang terjadi hari ini akan menjadi beban di masa depan, jika tidak kita hentikan bersama.
Pelestarian lingkungan membutuhkan peran semua pihak; pemerintah, lembaga pendidikan, komunitas, dunia usaha, dan masyarakat. Dari kebijakan yang berkelanjutan hingga tindakan yang sederhana dalam kehidupan sehari-hari, semua memiliki kontribusi yang bermakna.
Poin penting peringatan Hari Lingkungan Hidup Nasional 2026 adalah: Fokus Aksi: Mengurangi polusi sampah plastik, memperluas aksi penghijauan, dan mengedukasi masyarakat tentang pentingnya menjaga ekosistem, Momentum Bersama: Aksi nyata yang didorong meliputi pemilahan sampah di rumah, menjaga kebersihan, dan menjaga kualitas air, tanah, serta udara, dan Bertujuan: Memperkuat komitmen bersama untuk menciptakan lingkungan yang sehat dan berkelanjutan bagi generasi mendatang
Mari kita jadikan Peringatan Hari Lingkungan Hidup Nasional 2026 sebagai penguat komitmen untuk bertindak nyata, konsisten, dan berkelanjutan demi Indonesia yang hijau, sehat dan lestari. Namun, kita bangsa Indonesia perlu lebih perhatian terhadap peran plastik yang dibutuhkan dalam kehidupan sehari-hari. Hampir semua kemasan berupa kantong plastik hasil pertanian, pupuk, pakan, pangan, botol, pipa, dan berbagai macam produk industri yang menggunakan plastik dalam banyak bentuk dan kualitas.
Terakhir, kita mulai merasakan keberadaan plastik di pasaran sebagai dampak dari penutupan Selat Hormuz menyebabkan negara-negara di Asia, termasuk Indonesia, kekurangan bahan baku plastik. Beberapa perusahaan petrokimia Asia terpaksa mengurangi produksi. Kenaikan harga plastik dan bahan baku plastik ini merupakan dampak perang Amerika Serikat-Israel versus Iran sejak 28 Februari 2026 dengan kenaikan harga minyak mentah.
Kondisi ini tentu akan sangat berpengaruh pada kehidupan sosial-ekonomi masyarakat. Tetapi, dari aspek lingkungan pengurangan penggunaan plastik untuk keperluan sehari-hari bermanfaat karena dapat mengurangi sampah/polusi plastik terutama yang sekali pakai. Mari pula kita tingkatkan upaya mengurangi polusi plastik melalui program penggunaan kembali (reuse), pengurangan (reduce), dan didaur ulang (recycle). Jadikan sampah plastik sebagai sumber perekonomian masyarakat melalui Sistem Ekonomi Sirkuler.
Saat ini harga nafta (bahan baku plastik) menyentuh 901,9 dolar AS per ton pada 10 April 2026 atau naik 5,7 persen dari posisi akhir Maret (Kompas, 14/4/2026). Harga tersebut melonjak lebih dari 80 persen sejak eskalasi konflik AS-Israel versus Iran dimulai akhir Februari lalu. Kenaikan ini menjalar ke sektor lain, seperti produsen kemasan, manufaktur, dan pelaku usaha menengah kecil (UMK). Sudah saatnya bangsa Indonesia kembali berupaya menghemat penggunaan plastik, khususnya plastik sekali pakai.
Direktur Eksekutif Dietplastik Indonesia, Tiza Mafira menilai, solusi dari krisis ini bukan menunggu ketegangan di Selat Hormuz mereda, tetapi dimulai dari diri sendiri untuk mengurangi ketergantungan terhadap plastik sekali pakai. Sistem isi ulang harus digalakkan agar ekonomi lokal tetap berjalan sekaligus memperbaiki lingkungan dari sampah plastik. Produksi kemasan plastik dengan sistem curah (refill) atau guna ulang (reuse) dapat mendorong sistem untuk senantiasa memperpanjang masa pakai kemasan dan mengurangi ketergantungan terhadap bahan baku minyak.
Selain itu, yang perlu dilakukan dalam krisis ini adalah mengubah sistem produksi dan konsumsi supaya sejalan dengan ekonomi sirkuler. Sebab sebelum plastik membanjiri Bumi, sebenarnya masyarakat sudah sejak lama melakukan sistem yang ramah lingkungan tersebut. Produsen harus menerapkan ekonomi sirkuler yang nyata, dimulai dari memastikan produk dan kemasan dapat digunakan berulang kali, membangun sistem distribusi curah dan isi ulang yang aman sampai dengan mengembangkan sistem logistik kemasan guna ulang yang memadai. Kepatuhan produsen ini hanya bisa terwujud jika ada ketegasan dari pemerintah untuk mewajibkannya.
Jenis plastik yang belum dapat dieliminasi, perbaikan tata kelola daur ulang tetap diperlukan. Namun, daur ulang tidak dapat menjadi solusi tunggal karena sangat tergantung pada pemilihan dan pengangkutan terpilah dari sumber sampah. Selain itu, sudah saatnya dipercepat inovasi kemasan biodegradable yang dapat kembali dibuang ke lingkungan tanpa menimbulkan pencemaran karena segera terurai, di mana bahan bakunya cukup banyak tersedia secara lokal sebagai alternatif pengganti bahan baku impor.
Masyarakat Indonesia dihimbau agar mengurangi penggunaan plastik sekali pakai, mendaur ulang, dan beralih ke alternatif dari plastik yang ramah lingkungan. Upaya lain yang tak kalah penting adalah pengelolaan sampah dari hulu. Pemilahan sampah dimulai dari rumah tangga menjadi fondasi bagi pengelolaan lanjutan, termasuk pemanfaatan teknologi waste-to-energy (WTE) yang telah diterapkan di sejumlah negara maju, salah satunya di Singapura. Metode ini sekarang sudah mulai diterapkan di beberapa TPA kota besar di Indonesia, termasuk di Kota Pekanbaru.***
Oleh: Adnan Kasry, Dosen Ilmu Lingkungan PPs Unri.