Peringatan Hari Anak Nasional yang jatuh pada 23 Juli mengangkat fokus utama pada pemenuhan dan perlindungan hak-hak anak. Namun, di tengah gempuran pemenuhan hak formal seperti hak atas pendidikan dan kesehatan, ada satu hak mendasar anak yang perlahan runtuh di dalam benteng terdepan mereka: hak atas kehadiran, perhatian dan kasih sayang yang utuh di dalam rumah.
Kondisi anak-anak Indonesia hari ini kian mengkhawatirkan. Data Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) dan laporan UNICEF menunjukkan tren peningkatan kasus kekerasan, cyberbullying, perundungan di sekolah, hingga krisis mental pada usia anak.
Di sisi lain, paparan adiksi game online dan konten digital tak tersaring kian meluas. Fenomena ini bukanlah peristiwa tunggal yang berdiri sendiri. Ia adalah riak dari krisis ruang aman dan hangat di lingkungan keluarga tempat anak-anak tumbuh.
Berbagai fenomena dan permasalahan anak-anak di atas mengajak kita merenungkan kembali, sudahkah rumah menjadi tempat paling aman bagi tumbuh kembang mereka?
Pertanyaan itu terasa semakin relevan di tengah kehidupan modern yang bergerak begitu cepat. Di balik meningkatnya partisipasi perempuan dalam dunia kerja, ada kegelisahan yang diam-diam dipikul banyak ibu. Bukan karena mereka tidak mencintai anak-anaknya, melainkan karena waktu yang mereka miliki semakin terbatas.
Baca Juga: Skandal Korupsi Terus Terjadi
Banyak ibu hari ini yang terpaksa kehilangan momen-momen kecil namun krusial: tidak sempat mendampingi anak sarapan atau menyiapkan bekal sehat, tak lagi memiliki waktu mendampingi anak mengulang pelajaran di sekolah, hingga melewatkan ritual pengantar tidur karena kelelahan usai memenuhi tanggung jawab pekerjaannya.
Ketika akhir pekan tiba, energi yang tersisa sering kali habis hanya untuk beristirahat. Tanpa disadari, gadget dan gawai kemudian disodorkan sebagai pengganti menemani anak bermain. Sebuah pengganti yang semu.
Dampaknya terasa belakangan. Ketika aktivitas anak mulai tak bisa lepas dari gawainya, menarik diri, kecanduan game online, terlibat perkelahian, atau menjadi korban maupun pelaku perundungan, orang tua baru tersadar bahwa mereka sedang berjuang sendirian melawan permasalahan anak yang telah meruncing.
Menyukuri Karunia dan Kehadiran
Di balik sesaknya tuntutan hidup, kita perlu mengambil jeda sebentar untuk merenung. Anak adalah karunia istimewa yang tidak Tuhan amanahkan kepada semua keluarga di dunia ini. Maka, setelah Allah SWT memberikan amanah berupa anak, maka bertanggung jawablah terhadap mereka.
Baca Juga: Dilema Lumbung Pangan: Sawah Kita, Rebutan Semua Orang
Nabi Muhammad SAW bersabda, “Ingatlah bahwa setiap kalian adalah pemimpin, dan setiap kalian akan dimintai pertanggungjawaban atas yang dipimpinnya. Seorang suami adalah pemimpin bagi keluarganya dan dia akan dimintai pertanggungjawaban atas mereka, dan seorang istri adalah pemimpin di rumah suami dan anak-anaknya, serta ia akan dimintai pertanggungjawaban atas mereka”.
Menyukuri kehadiran anak tidak sekadar membiayai kebutuhan fisiknya, tetapi dengan berusaha semaksimal mungkin mengalokasikan waktu berkualitas di antara padatnya rutinitas harian.
Kehadiran fisik dan emosional ibu tidak pernah bisa digantikan oleh teknologi sehebat apa pun. Dari bibir seorang ibu, nilai-nilai kebaikan, moralitas dan batasan etik harus terus dialirkan tanpa lelah. Begitu pula untaian doa yang tak boleh putus mengiringi setiap langkah anak, sesibuk apa pun keadaannya.
Rasulullah SAW bersabda, “Tidak ada suatu pemberian yang diberikan oleh orang tua kepada anaknya yang lebih utama daripada adab (pendidikan moral/akhlak) yang baik”.
Baca Juga: Gelar Pascasarjana Tidak Hanya Dinama: Saatnya Magister dan Doktor Menjadi Manusia Berdampak
Psikolog perkembangan anak, Urie Bronfenbrenner pernah mengatakan, “Every child needs at least one adult who is irrationally crazy about him or her”. Artinya, setiap anak membutuhkan setidaknya satu orang dewasa yang mencintainya tanpa syarat. Sosok itu, bagi sebagian besar anak, adalah ibu dan ayahnya.
Tugas orang tua, khususnya ibu sebagai sekolah pertama (madrasatul ula) adalah menyediakan wadah kasih sayang itu agar anak tidak mencari perlindungan dan pemenuhan emosional di tempat yang salah.
Bukan Beban Tunggal: Sinergi Rumah, Sekolah dan Lingkungan
Memang benar, ibu adalah pendidik generasi yang memegang kunci peradaban sebuah bangsa. Namun, membebankan seluruh tanggung jawab mendidik dan melindungi anak semata-mata kepada pundak ibu adalah sebuah kekeliruan struktural.
Pilar utama keluarga harus ditopang secara seimbang oleh peran ayah. Kehadiran figur ayah (paternal engagement) dalam pengasuhan sama vitalnya dalam membentuk ketahanan mental dan moral anak. Lebih dari itu, perlindungan anak membutuhkan keterlibatan seluruh ekosistem sosial.
Sebuah pepatah bijak dari Afrika yang populer dijadikan judul buku oleh Hillary Clinton menyintesiskan hal ini dengan sangat tepat. It takes a village to raise a child. Perlu keterlibatan satu desa untuk merawat dan mendidik seorang anak.
Sanak keluarga, tetangga, sekolah, hingga masyarakat di lingkungan sekitar harus kembali menghidupkan kepedulian kolektif. Kita perlu membangun lingkungan yang ramah anak, yang setiap orang dewasa merasa bertanggung jawab menjaga kebaikan dan keselamatan generasi muda di sekitarnya.
Peringatan Hari Anak Nasional 2026 ini hendaknya tidak berhenti sebagai agenda seremonial tahunan semata. Ini adalah momentum panggilan kesadaran bagi kita semua. Mari kita sisihkan waktu, rekatkan kembali komunikasi yang renggang, serta perkuat kembali doa dan pelukan di dalam rumah. Bersama-sama ibu, ayah, keluarga, sekolah dan masyarakat, mari kita hantarkan generasi penerus bangsa ini menuju gerbang kesuksesan dan peradaban yang bermartabat.***
Editor : Arif Oktafian