Memasuki bulan Juli ada perayaan bagi anak Indonesia. Momentum ini disebut dengan Hari Anak Nasional. Hal ini tidak hanya mesti dilakukan tepat di tanggal 23 Juli saja, namun harapan ke depannya benar-benar setiap anak Indonesia berhak mendapatkan ruang aman untuk tumbuh dan berkembang tanpa kekerasan dan diskriminasi.
Hari Anak Nasional 2026 mengusung tema utama “Sayang Anak, Lindungi dan Bangun Masa Depan” yang mencerminkan pentingnya peran keluarga, masyarakat, dan pemerintah dalam memastikan setiap anak tumbuh dengan aman, sehat, dan bahagia.(detik.com, 20/7/2026).
Tema Hari Anak Nasional tahun ini merupakan sebuah harapan akan terwujudnya suasana yang kondusif bagi anak untuk kehidupan yang baik. Adanya ruang untuk merasakan kasih sayang, perlindungan dan masa depan yang cerah. Dengan harapan, hal ini segera dapat terwujud dan dirasakan oleh semua anak Indonesia.
Baca Juga: Hak Anak yang Kerap Terlupakan: Kehadiran Orang Tua
Perwujudan itu dapat dirasakan dalam berbagai bentuk seperti saling menyayangi, menghormati hak anak, melindungi dari kekerasan dan perundungan, bahkan investasi terbaik yang dapat diberikan adalah dengan pendidikan yang berkualitas demi tercapainya generasi emas.
Mahalnya rasa aman menjadi momok yang menghantui bagi anak Indonesia. Faktanya masih banyak anak yang mengalami kekerasan baik di rumah maupun lingkungan sekolah. Kekerasan verbal maupun seksual bahkan perundungan yang sampai menyebabkan kematian. Jauhnya rasa aman ini semakin membuat anak-anak merasa hak untuk tumbuh dan berkembang menjadi terhambat.
Dalam beberapa kasus, anak tidak hanya sebagai korban bisa juga menjadi pelaku kekerasan. Melalui dendam sebagai korban dan luka yang tak kunjung disembuhkan membuat korban membalaskan dendamnya.
Baca Juga: Skandal Korupsi Terus Terjadi
Seperti contoh siswa yang melakukan pengeboman di sekolah beberapa waktu lalu. Inilah fakta pahit kondisi anak-anak Indonesia yang hidup di lingkungan yang tidak mendukung tumbuh kembangnya menjadi anak generasi emas.
Tata Kelola Hidup Jauh dari Islam
Pola kehidupan masyarakat saat ini dipengaruhi oleh pemahamannya. Ketika pemahaman yang merasuk kedalam setiap pemikiran merupakan pemikiran yang rusak maka akan rusak pula pemahaman dan tingkah lakunya.
Sekulerisme merupakan satu pemikiran yang ada di masyarakat yang menempatkan peran agama jauh dari kehidupan. Inilah paham yang merusak masyarakat dan menjadikan kebebasan sebagai dalil dari segala perbuatan baik di ruang digital ataupun kehidupan sehari- hari. Akhirnya banyak terjadi kasus kekerasan yang menyasar anak-anak menjadi korbannya bahkan kadang juga sebagai pelaku kekerasan tersebut.
Jauhnya tempat aman bagi anak untuk melindungi dirinya sendiri ketika jauh dari Islam. Anak tidak memiliki lapisan perlindungan yang kokoh dalam menjalani kehidupannya. Lapisan perlindungan ini dimulai dari keluarga, masyarakat dan negara. Namun, tidak ada jaminan keamanan saat ini bahkan dalam keluarga dan sekolah sekalipun. Karena nyatanya banyak ditemukan kasus kekerasan, perundungan bahkan pembunuhan terhadap anak dimulai dari tempat yang disangka aman.
Selain itu, terdapat sejumlah kasus anak yang berurusan dengan platform digital yang merusak. Sebagai contoh anak yang terlibat judi online, pornografi dan game sarang pedofil. Ini merupakan hal yang serius, namun jika tidak terselesaikan dengan baik maka yang dipertanyakan adalah kemana peran negara sebagai pelindung anak. Harusnya kebijakan negara mampu memberikan perlindungan yang memadai agar hal-hal buruk yang menimpa anak bisa diselesaikan.
Baca Juga: Dilema Lumbung Pangan: Sawah Kita, Rebutan Semua Orang
Kembali kepada Islam
Islam meletakkan peran penting terhadap negara yaitu sebagai pengurus dan pelindung bagi rakyatnya. Rasa aman mampu negara berikan terutama kepada anak-anak karena hal tersebut merupakan hak dasar yang mesti dipenuhi. Selain rasa aman, anak-anak juga butuh perlindungan dari segi nyawa, fisik, mental dan akidahnya.
Negara mampu mewujudkan suasana kondusif dalam pergaulan anak yang akan melindungi anak dari kekerasan. Pergaulan Islam memberikan gambaran bahwa adanya aturan di dalam interaksi baik di dunia digital maupun dunia nyata demi menghindari kekerasan seksual dan perundungan yang marak terjadi.
Landasan kehidupan yang terbaik adalah berdasarkan syariat Islam. Jika syariat memang benar dijalankan maka yang terjadi adalah keteraturan yang membentuk kehidupan yang aman dan tentram. Syariat Islam inilah yang akan melindungi setiap individu baik di keluarga , masyarakat yang akan membentuk kesadaran akan perlunya syariat Islam dalam mengatur setiap kehidupan.
Banyaknya kasus kekerasan yang menimpa anak maka harusnya ada regulasi yang mengaturnya. Negara berhak memberikan aturan dan sanksi yang tegas terhadap pelaku kekerasan terhadap anak. Sanksi yang memberikan efek jera agar kekerasan dapat dijauhkan dari kehidupan anak. Hanya dengan penerapan Islamlah keamanan itu akan terwujud nyata.
Dan dimulai dari sekarang kehidupan mesti bersandar hanya kepada syariat Islam. Jauhkan paham kebebasan dari kehidupan ini dan hanya dengan penerapan Islam lah keamanan yang hakiki akan dirasakan semua pihak. Wallahu a’lam bishawab.
Editor : Arif Oktafian