Hadiah Kemerdekaan

Redaksi • Dipublikasikan Senin, 17 Agustus 2026 | 09:17 WIB
Syahrizul, Kepala SMA An Namiroh Pekanbaru.
Syahrizul, Kepala SMA An Namiroh Pekanbaru.

 

Agustus 1995. Saya masih sangat kecil. Masih duduk di sekolah dasar. Saya menyaksikan N-250 mengudara melalui TVRI. Televisi kami masih hitam putih. Saya belum mengerti politik. Belum mengerti teknologi. Tetapi saya mengerti rasa bangga. Bangga menjadi anak Indonesia. Pesawat itu seperti berkata kepada dunia: Indonesia bisa. Indonesia mampu. Indonesia tidak harus selamanya menjadi bangsa yang hanya membeli dan memakai karya orang lain.

N-250 mengudara ketika Indonesia merayakan 50 tahun kemerdekaan. Hari ini kita sudah jauh meninggalkan masa itu. Tetapi pertanyaan besarnya justru semakin keras: apa yang terjadi dengan keberanian kita? Mengapa mimpi besar itu seperti semakin mengecil? 

Mengapa bangsa yang pernah berani membuat pesawat justru sering terjebak dalam pertengkaran yang tidak penting? Kita gaduh soal siapa yang paling benar. Kita sibuk saling menghujat. Kita lupa bahwa bangsa ini membutuhkan sesuatu yang jauh lebih besar daripada sekadar kemenangan dalam perdebatan.

Kita punya kekayaan alam yang luar biasa. Kita punya anak-anak muda yang cerdas. Kita punya pasar yang besar. Kita punya sumber daya manusia yang terus tumbuh. Tetapi korupsi tetap menggerogoti dari dalam. Uang rakyat diperlakukan seperti milik pribadi. Jabatan diperebutkan bukan selalu untuk mengabdi, tetapi untuk menguasai sumber daya. Kekuasaan sering menjadi tujuan. Rakyat hanya menjadi alasan dalam pidato.

Yang lebih berbahaya adalah ketika hukum kehilangan rasa takut terhadap kebenaran. Ketika hukum bisa dipengaruhi kepentingan. Ketika perkara menjadi alat tawar. Ketika kasus menjadi kartu untuk saling menyandera. Ketika orang kuat merasa hukum adalah sesuatu yang bisa dinegosiasikan. Di titik itu, yang rusak bukan hanya institusi. Yang rusak adalah kepercayaan rakyat. Dan ketika rakyat tidak lagi percaya kepada hukum, sesungguhnya negara sedang kehilangan salah satu tiang utamanya.

Lalu pemilu datang. Janji kembali bertebaran. Wajah-wajah baru muncul dengan slogan baru. Rakyat kembali diminta percaya. Kita memilih. Kita berharap. Kita menunggu. Lalu siklus itu berulang. Pemilu demi pemilu. Janji demi janji. 

Sementara terlalu banyak persoalan tetap berada di tempat yang sama. Kita seolah bergerak maju, padahal hanya berjalan dalam lingkaran. Demokrasi menjadi ramai. Tetapi kese­jahteraan belum tentu bertambah. Politik menjadi gaduh. Tetapi kehidupan rakyat tidak otomatis menjadi lebih baik.

Saya sering teringat kepada N-250 itu. Bukan hanya karena pesawatnya. Tetapi karena perasaan yang ditinggalkannya. Perasaan bahwa bangsa ini mampu bermimpi besar. Bahwa anak Indonesia boleh bercita-cita membuat sesuatu yang dikagumi dunia. 

Bahwa kita tidak harus selalu menundukkan kepala di hadapan bangsa lain. Hari ini, yang saya takutkan bukan sekadar kehilangan teknologi. Saya takut kita kehilangan keyakinan bahwa kita mampu. Kita terlalu lama disuguhi sinisme. Terlalu sering melihat orang jujur kalah. Terlalu sering melihat orang licik justru naik ke atas.

Maka hadiah kemerdekaan yang paling penting bukanlah pesta. Bukan baliho. Bukan pidato yang penuh kata-kata besar. Hadiah kemerdekaan adalah mengembalikan rasa malu kepada mereka yang mencuri uang rakyat. Mengembalikan keberanian kepada mereka yang membela kebenaran. 

Mengembalikan hukum kepada tempatnya. Mengembalikan politik sebagai jalan pengabdian, bukan jalan memperkaya diri. Saya ingin suatu hari nanti anak-anak Indonesia kembali melihat sesuatu yang membuat mereka berkata, “Kita bisa.” 

Bukan hanya karena sebuah pesawat pernah mengudara pada 1995. Tetapi karena bangsa ini akhir­nya berani bangkit dari korupsi, keserakahan dan kepengecutan. Indonesia pernah menunjukkan kepada dunia bahwa kita bisa. Jangan biarkan sejarah mencatat bahwa setelah itu kita memilih untuk tidak mampu.*** 

Oleh: Syahrizul, Kepala SMA An Namiroh Pekanbaru.

Editor : Arif Oktafian
hadiah opini kemerdekaan