Mendorong Pendidikan Ekologis di Riau

Tim Redaksi • Dipublikasikan Rabu, 30 September 2026 | 12:33 WIB
ABDUL HAMID NASUTION. (JPG)
ABDUL HAMID NASUTION. (JPG)

Bagi anak-anak sekolah di Riau, asap bukan sebatas berita viral dan fenomenal. Asap yang disebabkan kebakaran hutan dan lahan (Karhutla) jadi alasan, mengapa pembelajaran di sekolah terhenti, mengapa bermain di luar rumah tidak bebas lagi, dan mengapa harus selalu pakai masker. 

Mirisnya, saat asap sudah menyesakkan dan mengkhawatirkan terhadap kese­lamatan dan kecerdasan anak-anak sekolah, pendidikan lingkungan masih terjebak pada pesan dan ajakan yang sangat sederhana, mari menanam pohon, buang sampah pada tempatnya.

Harusnya, asap akibat karhutla tidak hanya jadi alasan bagi pemerintah dan sekolah untuk menghentikan pembelajaran di ruang kelas, tetapi juga menjadi pemicu untuk merancang pembelajaran ekologis yang lebih nyata dan serius. Pembelajaran ini tidak boleh sekadar berhenti pada urusan biologi atau sains, tetapi harus menyentuh akar adab, akhlak, dan spiritual.

Baca Juga: MK di Tengah Tarik-menarik Kepentingan Politik: Menjaga Konstitusi atau Menguji Batas Kekuasaan?

Sudah mafhum bahwa asap bagi masyarakat Riau, ibarat musim yang terus berulang. Sayangnya, tiap kali karhutla terjadi, hanya sibuk bicara soal indeks kua­litas udara, pemadaman api, kesehatan, dan penegakan hukum. Anak-anak hanya diposisikan sebagai pihak yang harus diselamatkan, disuruh diam di rumah, saat keluar pakai masker, dan belajar daring. Melindu­ngi mereka memang wajib, tetapi yang lupa ditanyakan adalah apa sebenarnya yang sedang dipelajari anak-anak dari semua ini tentang adab mereka terhadap alam?

Saat asap memaksa mereka tidak dapat belajar di sekolah, ini tidak sekadar memindahkan tempat belajar ke depan layar gawai. Mereka kehilangan pengalaman berharga untuk berinteraksi, bergerak, dan mengamati lingkungan secara langsung. Padahal, ketika kabut asap sudah menyusup dan merampas ruang bernapas mereka, saat itulah isu karhutla wajib masuk ke dalam ruang kelas sebagai materi pelajaran. Anak-anak tidak boleh selamanya dibiarkan bersembunyi di balik masker; untuk jangka panjang, mereka justru harus dipersiapkan menjadi bagian dari solusi krisis lingkungan ini.

Anak-anak perlu paham seperti apa hubungan manusia dengan alam. Penting mereka ketahui dari mana asal udara yang dihirupnya, alasan hutan itu penting bagi kehidupan manusia, dan akibat jika hutan dan lahan dibakar. Tentu anak-anak juga harus paham, bahwa tindakan satu orang di suatu tempat akan memberikan dampak yang besar kepada banyak orang di tempat lain. 

Baca Juga: Jalan Sunyi Ditengah Mengejar Popularitas 

Hal-hal tersebut menjadikan isu lingkungan tidak sekadar materi pelajaran, namun lingkungan juga jadi bagian dari kehidupan yang harus dipahami dan dijaga. Semestinya ini menjadi satu pintu masuk untuk membangun pendidikan ekologis yang lebih kontekstual bagi anak-anak di Riau. Krisis lingkungan di sungai, hutan, dan lahan gambut jadi sumber belajar yang sangat dekat dengan mereka.

Oleh karena itu, pendidikan ekologis yang nyata harus berani mengajak anak-anak berpikir lebih kritis tentang akar persoalan. Anak-anak bisa diajak berdiskusi tentang realita di sekitar mereka, mengapa hutan dan lahan gambut di Riau bisa sering terbakar? Siapa sebenarnya yang membakar, dan untuk apa? Karena, sering kali hutan sengaja dibakar untuk membuka lahan perkebunan yang luas. Sehingga anak-anak belajar satu hal penting, yakni krisis asap bukanlah bencana alam biasa, melainkan akibat keserakahan. 

Sebagai aksi nyata, kampanye kecil mereka di sekolah bukan lagi berisi pesan buanglah sampah, melainkan ajakan berani untuk berhenti merusak hutan gambut. Hal ini untuk menumbuhkan kesadaran, bahwa mereka mempunyai hubungan erat dengan lingkungan dan mempunyai tanggung jawab terhadapnya.

Baca Juga: Silent Leadership: Pemimpin Berdampak Nyata

Prakarsa ini memerlukan tindakan konkrit di lingkungan belajar. Ketimbang sekadar mencatat teori, anak-anak dapat diajak melakukan pengamatan sederhana, seperti menghitung berapa hari pembelajaran jarak jauh dilaksanakan akibat asap karhutla, dan memetakan dampak yang ditimbulkannya. Ana-anak juga bisa membuat forum diskusi untuk mencari solusi atas krisis lahan gambut. Pengalaman belajar seperti ini jauh lebih membekas, melatih nalar kritis, sekaligus menumbuhkan empati mereka terhadap krisis yang terjadi di sekitarnya.

Tanggung jawab pendidikan ekologis ini tidak cukup hanya dibebankan pada guru. Saat kabut asap menebal dan mengharuskan anak-anak belajar dari rumah, ruang keluarga berfungsi sebagai perpanjangan proses edukasi tersebut. Orang tua memegang peran penting untuk mengajak anak bertukar cerita tentang mengapa udara di luar tidak sehat, dan siapa yang dirugikan, daripada sekadar menghalangi mereka bermain di luar tanpa penjelasan. Kolaborasi antara orang tua dan sekolah inilah yang akan menguatkan sikap peduli lingkungan dalam diri anak.

Kepedulian ekologis ini seirama dengan budaya masyarakat Riau. Tunjuk Ajar Melayu menyebutkan “Kalau binasa hutan yang lebat, rusak lembaga hilanglah adat”. Pesan ini mengingatkan bahwa alam ini adalah ruang hidup, sumber marwah, dan kebudayaan. Adat budaya Riau dapat dipadukan dalam isu ekologis, sehingga pembelajaran tidak terasa asing. Anak-anak bisa diajak menyadari bahwa menjaga kelestarian alam tidak sekadar urusan zaman mutakhir, melainkan cara mempertahankan jati diri budaya melayu yang merawat ekosistem lingkungan.

Baca Juga: PDRB Riau Besar, APBD Jangan Jalan di Tempat 

Karena itu, musim asap yang berulang, akan jadi pengalaman berharga bagi mereka,  Sekarang pesan yang sangat penting untuk mereka bukanlah harus pakai masker, tetapi mereka juga perlu mendapatkan pendidikan yang membuat mereka paham, bahwa udara yang sehat harus diperjuangkan, dan harus mencintai dan menjaga lingkungan. 

Tak ada salahnya, jika kegelisahan dijawab memakai pendekatan ajaran agama. Islam  cukup relevan melihat hal ini. Islam memandang bahwa pendidikan lingkungan sejatinya adalah bagian yang tak terpisahkan dari pendidikan adab. Alam tidak dipandang sekadar benda yang tersedia untuk dieksploitasi dan dimanfaatkan sesuka hati.

Lebih dari itu, alam sebagai makhluk ciptaan Allah merupakan amanah. Anak-anak perlu ditumbuhkan kesadarannya bahwa manusia memiliki tanggung jawab moral untuk menjaga titipan tersebut. Al-Qur’an sendiri dengan tegas sudah mengingatkan manusia agar tidak membuat kerusakan di muka bumi setelah Allah memperbaikinya.

Baca Juga: Ketika Safety Bertemu Realitas Lapangan 

Sehingga, saat anak-anak diajak menanam pohon atau belajar tentang gambut, mereka paham bahwa itu bukan sekadar sebagai rutinitas aksi penghijauan. Mereka sadar bahwa itu adalah upaya memulihkan kembali keseimbangan alam yang sudah dirusak oleh keserakahan manusia. Sekaligus jadi wujud nyata  dalam merawat kehidupan alam ini yang merupakan amanah besar dari Allah. Pemahaman adab yang baik, membuat anak-anak sadar membakar hutan dan lahan merupakan bentuk pengkhianatan terhadap amanah Allah.

Inilah hakikat pendidikan ekologis, sekolah bergerak dari sekadar menuntut anak hafal slogan, menjadi ruang untuk membentuk manusia yang kritis, peka melihat ketidakadilan lingkungan, dan tahu aksi nyata apa yang harus dilakukan. Sebab, merawat bumi Riau bukan sekadar menjaga tempat tinggal, melainkan menjaga amanah Allah.***

 

Editor : Arif Oktafian
ekologi pendidikans pendidikan lingkungan riau