Kebakaran Gambut dan Nestapa Keanekaragaman Hayati

Tim Redaksi • Dipublikasikan Jumat, 9 Oktober 2026 | 10:58 WIB
AHMAD MUHAMMAD. (JPG)
AHMAD MUHAMMAD. (JPG)

Dalam dua bulan terakhir, Agustus-September 2026, kebakaran lahan gambut di Sumatera dan Kalimantan kembali menguat. BMKG mencatat adanya akumulasi hotspots selama tanggal 12-21 September lalu, yaitu mencapai 5.283 di Kalimantan Tengah, 1.485 di Sumatera Selatan, dan 1.357 titik di Kalimantan Barat. 

BMKG juga mencatat, jumlah hotspots di Riau pada tanggal 17 September lalu sempat melonjak mencapai 225, sementara di Jambi mencapai 735 pada tanggal 16 September lalu. Meskipun jumlah ini kemudian menurun, lonjakan ini mengingatkan kita bahwa ancaman kebakaran lahan, teristimewa lahan gambut, belum menjadi masa lalu.  

Angka hotspot memang tidak menyatakan jumlah pasti kasus kebakaran ataupun luas lahan yang terbakar, tetapi angka tersebut memberikan indikasi kuat bahwa potensi bencana ekologis masih sangat laten, baik di Sumatera maupun Kalimantan.

Baca Juga: Koperasi Desa Merah Putih: Solusi Ekonomi atau Sekadar Alat Elite Lokal? 

Kebakaran lahan dan bencana kabut asap sering dibahas dari sisi terganggunya kepentingan manusia, seperti kesehatan, perhubungan, pendidikan, dan perekonomian. Sebenarnya, ada persoalan lain yang tidak kalah serius, tetapi relatif jarang disinggung, yaitu bagaimana kebakaran lahan dan kabut asap berdampak terhadap keanekaragaman hayati. Di balik kobaran api yang melalap vegetasi, kemungkinan ada beraneka spesies flora yang musnah, dan beragam spesies fauna yang mati terbakar atau setidaknya kehilangan habitat.

Beberapa waktu lalu, perasaan kita disayat oleh foto-foto maupun video-video yang beredar tentang orangutan yang terlunta-lunta, berusaha menyelamatkan diri dari habitatnya yang terbakar. Ketika api meluas, beranekaragam fauna seperti orangutan ini tidak hanya kehilangan habitat, melainkan juga sumberdaya vital yang dibutuhkan untuk bertahan hidup, yaitu udara bersih, air, dan pakan. 

Penelitian Erb dkk. (2018) mengungkapkan bahwa hewan-hewan seperti orangutan yang terpapar udara panas yang ditimbulkan oleh kebakaran gambut, sekiranya bisa selamat sering mengalami gangguan perilaku. Fisiologi tubuh mereka mengalami kelainan sebagai akibat peningkatan pemecahan lemak tubuh. Maknanya, setelah api padam dan asap hilang, tidak serta merta potensi mereka untuk bertahan hidup dan melakukan reproduksi terpulihkan.

Baca Juga: Efisiensi Anggaran dan Konsistensi Pemerintah

Satwa besar Sumatera seperti harimau sudah pasti juga terdampak. Bahwa akhir-akhir ini hewan buas ini semakin sering muncul di kawasan-kawasan yang dihuni manusia sulit dipisahkan dari kebakaran lahan dan kabut asap yang menyelimuti Sumatera. 

Hal ini kemungkinan dipicu oleh dua hal. Pertama, secara naluriah hewan-hewan, termasuk harimau beserta mangsa-mangsanya, harus menyingkir dari habitat mereka yang terbakar dan/atau dipengapkan oleh asap. Kedua, perpindahan dan kelangkaan mangsa mau-mau tidak mau memaksa pemangsa puncak ini mencari sumber-sumber pakan alternatif, termasuk ke kawasan-kawasan dimana manusia berada.

Gajah Sumatera menghadirkan persoalan berbeda. Satwa ini sebenarnya bukan penghuni hutan gambut. Meskipun demikian, gajah yang hidup di luar kawasan gambut pun dapat terdampak asap kebakaran gambut menyelimuti habitatnya. Hewan besar ini juga berpotensi mengalami gangguan pernapasan dan fisiologis secara umum, yang mengakibatkan stress dan perubahan perilaku. Keluarnya kawanan gajah dari habitat primernya meningkatkan potensi konfliknya dengan manusia.

Baca Juga: Menjaga Asa Peradilan Bersama Dharmayukti Karini

Dampak kebakaran terhadap keanekaragaman hayati juga dilaporkan Harrison dkk. (2024). Kebakaran hutan merusak struktur hutan pada kawasan terbakar, karena mengurangi kerapatan dan jumlah spesies pohon serta mengubah komposisinya. 

Sekiranya masih bisa dipulihkan, akan dibutuhkan waktu yang tidak sebentar setelah kerusakan yang terjadi. Penurunan keanekaragam spesies pohon pasca kebakaran hutan dan lahan juga dilaporkan Adinugroho dkk. (2022), Volkova dkk. (2023), dan Alhamd dkk. (2024). 

Harisson dkk. (2024) juga mengabarkan bahwa bukan hanya keanekaragaman dan kelimpahan pohon  yang menyusut, capung dan kupu-kupu pun mengalami nasib serupa, dan hal ini mengindikasikan banyaknya fauna invertebrata lain yang kemungkinan mengalami nasib yang sama. Apalagi kalau peristiwa kebakarannya berulang-ulang.  

Baca Juga: Menakar Ditjen Pesantren Melawan Kekerasan Seksual

Penelitian Wasis dkk. (2019) menguakkan hilangnya flora dan fauna tanah serta perubahan sifat alami gambut secara irreversible menyertai hilangnya lapisan gambut yang terkonsumsi api. Hal ini berpotensi melemahkan fungsi-fungsi fundamental ekosistem gambut, seperti daur hara yang menjadi tumpuan penting dalam ekosistem gambut yang miskin hara.

Kepunahan keanekaragaman hayati merupakan sebuah nestapa ekologis. Manusia mungkin tidak merasakannya secara langsung, tetapi secara tidak langsung. Sekitar 87,5 persen hingga 90 persen spesies tumbuhan berbunga (Angiospermae) membutuhkan jasa polinator yang sebagian besar berupa serangga untuk proses penyerbukannya. Hal ini berpotensi mengganggu regenerasi beragam spesies flora yang ada. 

Bila penyerbukan terganggu, produktivitas tanaman-tanaman ekonomi kita, terutama beragam tanaman penghasil biji dan buah, termasuk kelapa sawit, kemungkinan juga akan surut. Oleh karenanya, nestapa ekologis ini bukan kemustahilan dapat berkembang menjadi tambahan nestapa sosial-ekonomi yang sudah dirasakan oleh masyarakat.   

Baca Juga: Sungai Memiliki Wilayah Sempadan

Kebakaran gambut dengan demikian, bukan hanya menghanguskan habitat dan memusnahkan keanekaragaman hayati, tetapi juga menggerogoti fondasi kehidupan manusia. Ketika penyerbukan, regenerasi tumbuhan, dan keseimbangan ekosistem terganggu, nestapa ekologis dapat menjelma menjadi nestapa sosial-ekonomi. Ini pentingnya mensinergikan restorasi gambut dengan upaya menjaga kehidupan, hari ini dan bagi generasi mendatang.***

 

Editor : Arif Oktafian
keanekaragaman hayati kabut Asap kebakaran lahan gambut