Ditengah kebijakan pemerintah menetapkan kewajiban mempelajari Bahasa Inggris mulai tahun pembelajaran 2027/2028 untuk Sekolah Dasar, muncul pertanyaan kenapa pemerintah mewajibkan Bahasa Inggris bagi pelajar dini?Sedangkan dalam penerapannya, Bahasa Inggris bisa dipelajari seiring bersama dengan pembelajaran Bahasa lainnya.
Bahasa lainnya yang bisa familiar untuk bumi Minangkabau adalah Bahasa Arab. Pembelajaran Bahasa Inggris dipertimbangkan untuk menunjang kebutuhan komunikasi internasional dan akses pengetahuan global.
Serta dalam penerapannya, Bahasa Arab sudah digunakan dalam kehidupan keagamaan. Hal ini bisa dilihat melalui Bahasa Arab yang memiliki akses langsung terhadap Al-Qur’an, hadist, dan khazanah keilmuan Islam yang berkaitan erat dengan kehidupan manusia. Hal ini menjadikan Bahasa Inggris dan Bahasa Arab memiliki peluang sebagai bahasa asing yang bisa dipelajari oleh pelajar.
Bahasa Inggris dan Bahasa Arab menjadi bahasa asing yang sudah merakyat ditelinga pembelajar muda di Minangkabau. Bahasa Inggris biasa mereka kenali melalui permainan, game online, lagu, film ataupun media digital. Baik yang secara sadar mereka dapatkan atau bahkan secara tidak sadar disuguhkan oleh lingkungan sekitarnya.
Sedangkan Bahasa Arab lebih sering mereka dapatkan dari Al-Qur’an dan aktifitas keagamaan yang sudah menjadi darah daging dalam kehidupan kita seperti shalat 5 waktu. Walaupun belum bisa dipastikan mereka sepenuhnya mengerjakan dari hati mereka sendiri. Tetapi lingkungan seperti keluarga dan tetangga sekitar membuat Bahasa Arab yang digunakan menjadi familiar juga ditelinga bagi pembelajar ini.
Bahkan mereka terbiasa mengikuti banyaknya acara dilingkungan masyarakat yang melibatkan Islam seperti acara Maulid nabi dan acara serupa lainnya. Hal ini diperkuat melalui Minangkabau yang menerapkan “Adat basandi syarak, syarak basandi Kitabullah.” Dengan artian, adat Minangkabau berlandaskan syariat Islam, dan syariat Islam berlandaskan Al-Qur’an.
Baca Juga: Enam Bakal Calon Penghulu Lulus Tes Mengaji Ulang, PMK Silakan Tempuh PTUN Bagi yang Keberatan
Al-Qur’an memberikan landasan nilai bagi pentingnya pendidikan, pencarian ilmu, dan interaksi antar manusia. QS. Al-’Alaq ayat 1-5 menekankan pentingnya membaca dan memperoleh pengetahuan, sedangkan QS Al-Hujurat ayat 13 menjelaskan keberagaman bangsa dan suku sebagai sarana untuk saling mengenal.
Meskipun Al-Qur’an tidak secara khusus memerintahkan umat Islam untuk mempelajari Bahasa Inggris, kedua ayat tersebut dapat dijadikan landasan nilai untuk memahami relevansi pembelajaran Bahasa Inggris dalam pendidikan modern. Tentunya hal ini bertujuan untuk mewujudkan tujuan dari pendidikan itu sendiri.
UNESCO (1996) menjelaskan empat pilar pendidikan yang mengarahkan tujuan dari pendidikan. Melalui pendidikan diharapkan agar pelajar bisa belajar untuk mengetahui, belajar untuk melakukan, belajar hidup bersama, serta belajar menjadi diri sendiri. Selaras dengan penjabaran ini, salah satu tujuan nasional Indonesia juga memperkuat dukungan akan kecerdasan kehidupan bangsa Indonesia.
Hal ini tercantum dalam Pembukaan Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia tahun 1945 alinea ke empat. Hal ini mendasari ketentuan untuk setiap warga negara yang berusia 6 tahun dapat mengikuti program wajib belajar.
Krashen (1981) menjelaskan dalam bukunya, bahwa setiap pelajar dapat berbeda dalam cara mereka menggunakan bahasa dan seberapa sering mereka menggunakan bahasa. Hal ini diketahui dari bagaimana mereka menggunakan pengetahuan tata bahasa yang dipelajari secara sadar untuk memeriksa bahasa yang mereka hasilkan.
Artinya, meskipun dua siswa mempelajari aturan bahasa inggris yang sama dari guru, mereka belum tentu menggunakannya dengan cara yang sama ketika berbicara atau menulis. Krashen menyarankan pelajar untuk menjadi Optimal Monitor users, yaitu pelajar yang menggunakan “Monitor” secara proporsional.
Monitor ini bisa diartikan sebagai kemampuan seseorang menggunakan pengetahuan tata bahasa yang dipelajari secara sadar untuk memeriksa atau meperbaiki bahasa yang digunakan. Sehingga bisa menyampaikan pesan sesuai dengan sasaran.
Baca Juga: Realisasi Pangan Beras Capai 4.115.014 Ton, Bulog Rengat Gelar Syukuran
Jika pelajar sudah diperkenalkan secara sadar bagaimana berbahasa menggunakan Bahasa Inggris, tentunya pelajar juga bisa dengan mudah secara sadar menggunakan Bahasa Arab yang sudah familiar di dengar pelajar melalui Al-Qur’an dan pemahaman agama.
Dalam bukunya yang berjudul Second language Acquisiton and Second Language Learning (1981), Krashen juga menjelaskan pentingnya paparan bahasa yang dapat dipahami (comprehensible input) dalam pemerolehan bahasa.
Teori ini membantu menjelaskan bagaiamana anak dapat belajar Bahasa Indonesia, Inggris dan Arab melalui pengalaman yang bermakna, bukan hanya melalui hafalan saja. Contohnya dalam Bahasa Indonesia, pelajar membaca cerita, mendengarkan penjelasan guru, dan berdiskusi tentang lingkungan sekitar.
Baca Juga: Kunjungi Panti Asuhan Putri Aisyiyah, Kajari Pastikan Hak Dasar Anak Panti Dipenuhi
Melalui Bahasa Inggris, pelajar mempelajari kosa kata melalui gambar, lagu, cerita pendek, dan percakapan sederhana. Dengan Bahasa Arab, pelajar mengenali kosakata yang digunakan dalam konteks ibadah, mempelajari maknanya, dan menggunakannya dalam aktivitas belajar yang sesuai dengan usianya.
Beberapa sekolah di bumi Minangkabau sudah mulai menggunakan campuran penggunaan Bahasa Indonesia, Bahasa Inggris, dan Bahasa Arab pada media di sekolah. Contohnya sekolah memakai spanduk penyambutan murid di gerbang sekolah menggunakan Selamat Datang - Welcome - أَهْلًا وَسَهْلًا . papan nama ruangan di lingkungan sekolah menggunakan 3 bahasa, seperti Perpustakaan - Library - مَكْتَبَةٌ . poster pelajaran tentang benda di kelas menggunakan 3 bahasa seperti Buku - book - كِتَابٌ .
Serta banyak lagi contoh lagi contoh yang bisa dilihat. Hal ini menarik minat siswa dalam belajar apalagi ditambahkan dengan gambar yang dapat memancing kreatif anak.
Dalam konteks pendidikan dasar di Minangkabau, pembelajaran Bahasa Inggris dan Bahasa Arab juga dapat diarahkan untuk membantu pelajar memperkenalakan budaya lokal kepada masyarakat global tanpa mengabaikan Bahasa Indonesia, bahasa Minangkabau, maupun nilai-nilai keislaman.
Oleh karena itu, pendidikan Bahasa Inggris dan Bahasa Arab perlu dipahami bukan semata-mata sebagi proses penguasaan bahasa asing, melainkan sebagai bagian dari pengembangan pengetahuan, kemampuan komunikasi, penghargaan terhadap keberagaman, dan pembentukan karakter peserta didik. Apabila masa golden anak diasah dengan hal yang sejala, tidak hanya keunggulan dalam berkomunikasi berbahasa Inggris yang didapatkan. Jika memungkinkan anak juga bisa master dalam berkomunikasi menggunakan Bahasa Arab.
Apalagi saat ini, kemampuan berkomunikasi berbahasa asing menjadi modal emas untuk anak dimasa depan kelak.
Anak-anak di Minangkabau dapat mempelajari Bahasa Indonesia, Bahasa Inggris, dan Bahasa Arab karena ketiga bahasa tersebut memiliki fungsi pendidikan, sosial, dan budaya yang berbeda. Bahasa Indonesia mendukung pembelajaran di sekolah dan komunikasi nasional.
Baca Juga: Buya Karim: Pelita Dakwah, Suluh Kebaikan dan Perintis Pelalawan
Bahasa Inggris membuka akses terhadap komunikasi global dan sumber pengetahuan internasional. Serta bahasa Arab memiliki peran penting dalam pembelajaran agama Islam, khususnya untuk memahami Al-Qur’an dan tradisi keislaman. Dengan artian penguasaan ketiga bahasa memberikan semua dapak positif.
Oleh: Hasnah Syaidatunnisa
(Mahasiswa Magister Tadris Bahasa Inggris UIN Sjech M Djamil Djambek Bukittinggi)