PEKANBARU (RIAUPOS.CO)- Penjabat Wali Kota (Pj Wako) Pekanbaru Roni Rakhmat meninjau pedagang PKL atau pasar tumpah antara Jalan Ahmad Yani-Jalan Agus Salim. Giat ini sekaligus penertiban para pedagang.
Sekitar pukul 08.00 WIB, Roni Rakhmat sudah tiba di Jalan Ahmad Yani. Dirinya langsung berjalan kaki menyusuri keberadaan pedagang. Pada kesempatan itu dirinya juga berkomunikasi dengan para pedagang. Agar pedagang tidak menggelar lapaknya setelah pukul 08.00 WIB.
Sebab keberadaan pedagang mengganggu pengguna jalan. Lapak pedagang memakan sebagian badan jalan, alhasil ruas jalan menjadi sempit dan arus lalu lintas yang melintasi jalan terganggu. Bahkan sering terjadi kemacetan.
Adapun keberadaan para pedagang disekitar ruas jalan ini, memang sudah ada sejak bertahun-tahun. Pemerintah Kota Pekanbaru sudah berkali-kali melakukan sosialisasi dan penertiban. Namun pedagang masih saja menggelar lapaknya hingga pukul 10.00 WIB
”Bahwa batas jualan pedagang sesuai Perwako dibatasi sampai pukul 08.00 WIB. Persoalannya sekarangkan sampai pukul 10.00 Wib mereka masih berjualan,” ujar Roni usai peninjauan pedagang.
Para pedagang terpaksa menuruti arahan para petugas Satpol PP. Agar segera meninggalkan lokasi tersebut. Para pedagang pun mulai memindahkan dagangannya ke sepeda motor dengan keranjang dan mobil pick up mereka.
Sementara pedagang kaki lima (PKL) di Jalan Ahmad Yani mengeluhkan penertiban yang dilakukan Pemerintah Kota (Pemko) Pekanbaru. Apalagi pemko membatasi waktu mereka berjualan hingga pukul 08.00 WIB.
Menurut para pedagang, pembeli lebih sering bertransaksi dari pukul 07.00 WIB hingga 09.00 WIB.
”Kami juga pernah berdagang di dalam pasar, tapi sepi dari pembeli,” kata salah satu pedagang yang mengaku bermarga Manurung.
Soal penertiban ini, lanjut Manurung, menyangkut perekonomian dan pendidikan anak-anak dirumah.
”Kalau pembeli sepi, makan apa kami di rumah? Dan juga bagaimana pendidikan anak kami,” ucapnya.
Ia meminta kepada pemerintah kota pekanbaru untuk memberikan solusi agar tidak memberatkan para pedagang dalam mencari rejeki.
”Selama berjualan sampah kami kumpulkan, tidak berserak-serak di jalan dan kami pukul 09.00 WIB sudah tidak berdagang di sini lagi,” ujarnya.(ilo/*2/ali)
Editor : Rindra Yasin