Riau Pekanbaru Nasional Internasional Hukum Ekonomi Olahraga Berita Hiburan Kesehatan Kriminal Pendidikan Sumatera Politik Perca Liputan Khusus Lingkungan Ladies Kebudayaan Begini Ceritanya Kick Out Hoax Interaktif Gaya Hidup Feature Buku Opini Betuah

Waisak, Umat Buddha Jalani Tradisi Mandi Rupang

Prapti Dwi Lestari • Selasa, 13 Mei 2025 | 11:21 WIB
Umat Buddha melakukan tradisi mandi rupang di Maha Vihara Pusdiklat Bumi Suci Maitreya dalam rangkaian perayaan Hari Tri Suci Waisak 2569 BE, Senin (12/5/2025).
Umat Buddha melakukan tradisi mandi rupang di Maha Vihara Pusdiklat Bumi Suci Maitreya dalam rangkaian perayaan Hari Tri Suci Waisak 2569 BE, Senin (12/5/2025).

KOTA (RIAUPOS.CO) - Ribuan umat Buddha di Pekanbaru menjalani Perayaan Waisak 2569BE dengan melakukan ritual pembersihan patung atau yang dikenal dengan ”Mandi Rupang”. Seluruh rangkaian Waisak ini dilakukan hampir di seluruh vihara di Kota Pekanbaru. Salah satunya di Maha Vihara Pusdiklat Bumi Suci Maitreya (PBSM), Jalan Bukit Barisan, Kecamatan Payung Sekaki, Senin (12/5).

Di Vihara ini, sejak pukul 08.00 WIB, umat Buddha sudah mendatangi vihara untuk menjalankan serangkai perayaan Tri Suci Waisak.

Sejak awal masuk didalam kawasan Vihara mereka sudah disambut dengan banyaknya bunga, dupa dan lilin berkah yang dipasang didalam kawasan Vihara dan ikut melaksanakan sembahyang Waisak.

Setelah sembahyang Waisak bersama selesai dilakukan, satu persatu umat Buddha mulai mendatangi kolom berkah yang berisikan patung Buddha rupang atau dewa-dewi di dalam tradisi masyarakat Tionghoa dalam menyambut perayaan Waisak. 

Mereka memandikan patung Buddha rupang yang memiliki makna simbolis terkait pembersihan batin dan penyucian diri.

Tradisi ini juga diikuti oleh Pembimas Buddha Kemenag Riau, Tarjoko bersama para tokoh Buddhis dan tokoh ormas Tionghoa di Pekanbaru memandikan Buddha rupang.

Menurut Wakil Sekretaris Majelis Pandita Buddha Indonesia (Mapanbumi) Riau, Ket Tjing, bagi umat Buddha Waisak merupakan salah satu perayaan penting bagi para penganut agama Buddha. Hari raya ini menjadi momentum untuk memperingati tiga peristiwa penting sang Buddha Gautama, yaitu kelahiran, pencerahan, dan Parinirvana.

Selain berdoa dan melakukan puja, umat juga memandikan Buddha rupang yang merupakan bagian dalam peringatan Hari Tri Suci Waisak. Ritual merupakan simbol pembrsihan dan penyucian diri lahir batin.

”Memandikan Buddha rupang tujuannya mengenang peristiwa kelahiran pangeran Siddharta Gautama yang kelak akan menjadi Buddha. Setelah mandi Buddha rupang, air bisa dibungkus dan boleh dibawa ke rumah. Dituangkan ke bak mandi dan anggota keluarga bisa mandi secara fisik dan mensucikan diri,” ulas Ket Tjing.

Umat Buddha diharapkan bisa intropeksi diri untuk berusaha dan berjuang membersihkan noda-noda batin yang ada dalam dirinya, seperti keserakahan dan kebencian.

”Umat Buddha juga selalu mendoakan dunia dan Negara Indonesia terbebas dari bencana, bisa hidup rukun, harmonis dan damai. Jauh dari kerusuhan,” sebutnya.(ayi)

Editor : Rindra Yasin
#ritual agama #mandi rupang #umat buddha #waisak #pekanbaru