PEKANBARU (RIAUPOS.CO) -- Mempercepat elektrifikasi transportasi publik perkotaan di seluruh Indonesia yang dimulai sejak 2023, Institute for Transportation and Development Policy (ITDP) Indonesia, bekerja sama dengan Kementerian Perhubungan, didukung ViriyaENB melakukan studi dan rekomendasi tentang Strategi Reformasi dan Peta Jalan Elektrifikasi Transportasi Publik.
Dimana Kota Pekanbaru, Surabaya dan Surakarta dipilih menjadi tiga kota penting di Indonesia yang dinilai dapat mempercepat elektrifikasi transportasi publik perkotaan.
Pemaparan dan peluncuran studi berupa dokumen diserahkan oleh Direktur Asia Tenggara ITDP Gonggomtua Sitanggang, kepada Sekretaris Direktorat Jenderal Perhubungan Darat, Kementerian Perhubungan Republik Indonesia Ahmad Yani, yang disaksikan oleh Wali Kota Pekanbaru Agung Nugroho, Kepala Dinas Perhubungan Kota Surakarta Taufiq Muhammad, Programme Manager ViriyaENB Cometta S Guritno, di Hotel Aryaduta Pekanbaru, Kamis (19/6/2025).
Direktur Asia Tenggara ITDP, Gonggomtua Sitanggang menjelaskan, langkah ini merupakan bentuk dukungan nyata ITDP Indonesia kepada Kementerian Perhubungan untuk mencapai target 100 persen elektrifikasi transportasi publik pada tahun 2040.
Selain itu, terdapat lima poin penting dari studi ini kenapa ketiga kota tersebut dipilih menjadi lokasi penelitian. Yaitu karena implementasi penuh bus listrik di Kota Pekanbaru, Surabaya dan Surakarta berpotensi menurunkan emisi gas rumah kaca hingga 66,67 persen pada tahun 2040 dibandingkan dengan skenario Business as Usual.
Penggunaan bus listrik yang dikombinasikan dengan perubahan model kontrak di tiga kota tersebut berpotensi menurunkan kebutuhan subsidi per bus hingga 30 persen, dibandingkan dengan penggunaan bus konvensional.
ITDP mengestimasi target elektrifikasi penuh di Pekanbaru, Surabaya dan Surakarta membutuhkan investasi awal yang cukup besar. Kebutuhan pengadaan bus listrik dan infrastuktur pengisian daya di ketiga kota diperkirakan mencapai Rp2,45 triliun hingga 2036.
"Kami berhadap hasil studi ini dapat diimplementasikan oleh Kota Pekanbaru, Surabaya, dan Surakarta dengan dukungan semua pihak, baik itu masyarakat, pemerintah daerah hingga pemerintah pusat. Jadi bukan hanya masyarakat yang mendapatkan layanan transportasi publik ramah lingkungan, tetapi juga dapat berkontribusi terhadap evek Gas Rumah kaca (GRK)," jelasnya.
Sekretaris Direktorat Jenderal Perhubungan Darat, Kementerian Perhubungan Republik Indonesia Ahmad Yani menyampaikan jika saat ini, elektrifikasi transportasi publik telah memasuki babak awal, mulai dikembangkannya berbagai layanan transportasi publik dengan kendaraan listrik baik yang dilaksanakan oleh Kementerian Perhubungan, pemerintah daerah, maupun sektor swasta.
Kini, Kementerian Perhubungan mempunyai beberapa target utama dalam menyelesaikan permasalahan lingkungan sub sektor transportasi darat. Salah satunya mendorong keberlanjutan kerja sama bersama ITDP, ViriyaENB, dan stakeholder lainnya dalam melanjutkan studi-studi yang mendukung pencapaian transportasi hijau. Di antaranya termasuk peta jalan transformasi kawasan perkotaan yang ramah pejalan kaki dan pesepeda atau kota berorientasi transit dan peta jalan elektifikasi kendaraan barang berbasis jalan.
"Dengan semangat kolaborasi dan visi yang sama ini saya yakin kita mampu menciptakan sistem transportasi yang lebih hijau demi bumi kita yang lestari. Setiap langkah kecil kita hari ini menjadi bukti nyata serta menjdi warisan bersih bagi generasi mendatang," tegasnya.
Editor : Rinaldi