PEKANBARU (RIAUPOS.CO) – Pemerintah Kota (Pemko) Pekanbaru kini semakin serius dalam menangani masalah stunting. Hasil sweeping yang dilakukan kader posyandu sejak awal Agustus 2025 menemukan sebanyak 1.224 balita di Pekanbaru mengalami stunting. Angka ini setara dengan 16,6 persen dari total 7.390 balita yang terdata.
Selain itu, sweeping juga mencatat mayoritas balita sudah berada dalam kondisi gizi baik (5.562 anak). Namun, masih ada yang masuk kategori gizi kurang (635 anak atau 8,6 persen) dan gizi buruk (261 anak atau 3,5 persen). Bahkan, kasus gizi lebih dan obesitas turut ditemukan dengan jumlah 932 anak.
Wali Kota (Wako) Pekanbaru, Agung Nugroho, menegaskan bahwa hasil sweeping ini akan menjadi dasar penanganan langsung di lapangan. Ia menekankan, data bukan sekadar angka, tetapi harus segera ditindaklanjuti agar anak-anak yang terindikasi stunting bisa segera mendapat perhatian khusus.
Baca Juga: Efendi dari Partai Nasdem Dilantik Gantikan Muslim sebagai Anggota DPRD Kuansing
“Data ini hasil sweeping yang dijalankan kader posyandu sejak awal Agustus. Angka ini akan menjadi dasar kita untuk melakukan penanganan langsung di lapangan. Penanganan stunting tidak boleh berhenti di pendataan, tetapi harus nyata dan langsung menyentuh anak yang membutuhkan. Program kita tak muluk-muluk, tapi nyata,” tegas Wako Agung Nugroho, Senin (18/8/2025).
Agung Nugroho menjelaskan, sweeping ini melibatkan kader posyandu, kader KB, petugas puskesmas, hingga perangkat kecamatan dan kelurahan. Tidak hanya mendata, petugas juga langsung memberikan makanan tambahan bergizi kepada balita yang terindikasi stunting maupun kurang gizi.
Dengan pola penanganan dari rumah ke rumah, Agung Nugroho optimistis angka stunting di Pekanbaru bisa ditekan secara signifikan. Menurutnya, membangun generasi yang sehat dan kuat adalah investasi penting untuk masa depan kota.
Baca Juga: Penuh Sampah, Jalan Kutilang Sakti Pekanbaru Ditutup Paksa
Setelah menjalankan program sweeping anak putus sekolah, Wako Agung kini memang mengarahkan jajarannya untuk fokus pada sweeping balita stunting dan kurang gizi. Langkah ini diambil agar intervensi bisa lebih tepat sasaran.
“Kalau kemarin kita sweeping anak putus sekolah, sekarang kita sweeping anak-anak stunting. Mereka diberikan makanan tambahan langsung oleh petugas ke rumahnya. Kalau diberi sembako, ada kemungkinan digunakan untuk keperluan lain. Karena itu intervensinya harus langsung ke anak,” ujar Agung.
Dengan gerakan sweeping ini, Pemko Pekanbaru menargetkan bukan hanya penurunan angka stunting, tetapi juga perbaikan nyata kualitas gizi anak.
"Kami akan terus menjaga komitmen agar setiap balita di Pekanbaru mendapat kesempatan tumbuh sehat, cerdas, dan produktif," tutupnya.(ali)
Editor : Edwar Yaman