PEKANBARU (RIAUPOS.CO) - Kota Pekanbaru mencatat sejarah baru Ahad (7/12) pagi. Nikah Massal Gratis Pemerintah Kota Pekanbaru yang diikuti 71 pasang pengantin bukan hanya menjadi perayaan budaya Melayu terbesar dalam beberapa tahun terakhir, tetapi juga resmi memecahkan Rekor Museum Rekor Indonesia (MURI) untuk kategori Prosesi Tepuk Tepung Tawar Terbanyak.
Di momentum yang sama, Wali Kota (Wako) Pekanbaru H Agung Nugroho SE MM menunjukkan sisi lain dari penyelenggaraan acara megah ini yaitu kepedulian untuk sesama. Di hadapan puluhan ribu warga, ia menyerahkan bantuan kemanusiaan Rp3 miliar untuk korban banjir dan tanah longsor di Sumatera Barat, Sumatera Utara, dan Aceh.
Sejak pukul 03.00 WIB, halaman Mal Pelayanan Publik (MPP) Pekanbaru sudah berubah menjadi pusat kegiatan budaya dan kemanusiaan. Para perias berjalan cepat, pasangan pengantin berdandan lengkap dengan suntiang emas, dan ribuan undangan mulai memadati jalan di depan MPP.
Lebih dari 10.000 masyarakat turun ke lokasi menyaksikan rangkaian Nikah Massal yang digelar dengan nuansa adat Melayu yang megah. Tepat pukul 07.00 WIB, arak-arakan pengantin dimulai dari Masjid Agung Ar-Rahman menuju MPP.
Suara rebana menggema, pembawa manggar melangkah anggun, sementara pembawa tepak berjalan di barisan depan sebagai simbol pemersatu. Pawai ini menjadi tontonan yang sangat memukau masyarakat, pakaian adat Melayu, musik tradisional, payung kuning, hingga prosesi berbalas pantun yang menghidupkan suasana penuh makna.
Di sepanjang rute pawai, masyarakat menyambut meriah. Banyak yang berdiri di bahu jalan, merekam, dan memberikan ucapan selamat kepada para pengantin yang melintas. Wako Agung Nugroho bersama sang istri yang juga Ketua TP PKK Pekanbaru Sulastri Agung didampingi Wakil Wali Kota (Wawako) Pekanbaru Markarius Anwar bersama sang istri yang juga Ketua I TP PKK Pekanbaru Sari Rahmawati dan unsur Forkopimda memimpin langsung pawai budaya ini.
Wako Agung tak bisa menyembunyikan rasa bangga atas terselenggaranya kegiatan ini. “Alhamdulillah, hari ini (kemarin, red) kita menyaksikan kebahagiaan 71 pasangan pengantin dalam prosesi adat Melayu yang megah dan penuh makna. Ini bukan sekadar pernikahan massal, tetapi perayaan budaya yang menguatkan identitas Melayu Pekanbaru,” ujar Agung.
Ia menegaskan, pemerintah tidak hanya hadir untuk membantu administrasi warganya, tetapi juga memajukan budaya agar warisan Melayu tetap hidup lintas generasi. Kemeriahan acara semakin lengkap dengan kehadiran Ustaz Das’ad Latif.
Dalam tausiyahnya yang tegas dan jenaka, ia menekankan bahwa menikah adalah ibadah yang menuntut kejujuran, kesabaran, dan niat yang lurus. “Pengantin harus bersyukur. Nikah itu ibadah. Maka luruskan niat,” pesannya. Ia mengaku kagum karena belum pernah melihat nikah massal dengan peserta sebanyak 71 pasang.
Puncak kemeriahan terjadi saat perwakilan MURI menyerahkan penghargaan kepada Pemerintah Kota Pekanbaru atas pemecahan rekor Prosesi Tepuk Tepung Tawar Terbanyak. Prosesi adat yang menjadi simbol doa restu dan keberkahan itu diikuti seluruh pasangan secara serentak.
Dengan rekor ini, Pekanbaru menegaskan diri sebagai barometer budaya Melayu di Indonesia. “Ini apresiasi yang membuat kami semakin bersemangat menghadirkan program yang langsung bersentuhan dengan masyarakat,” ungkap Wako Pekanbaru Agung Nugroho.
Setelah prosesi ijab kabul yang dimulai sejak pukul 08.45 WIB, Wako Agung dan istri serta Wawako Markarius Anwar dan istri naik ke panggung untuk mencabut undian hadiah honeymoon. Beberapa pasangan berdiri sambil menggenggam tangan erat, sebagian lagi tak henti-hentinya berdoa.
Pasangan pengantin pertama yang beruntung adalah Budi-Ahni. Keduanya langsung menutup mulut, tak percaya. Mereka memenangkan hadiah honeymoon ke Malaysia selama tiga hari dua malam. “Terima kasih Pak Wali Kota Agung Nugroho,” ucap mereka hampir bersamaan, mata berkaca-kaca.
Namun tepuk tangan paling panjang terjadi ketika undian terakhir diumumkan, Rahmad-Sindi, pemenang hadiah utama honeymoon plus ibadah umrah ke Tanah Suci. Sindi langsung menangis haru, sementara Rahmad merangkul bahunya. “Tidak menyangka, alhamdulillah dapat nikah gratis dan umrah,” kata mereka berdua tergetar.
Di balik panggung yang penuh tawa dan cinta, Pemko Pekanbaru menunjukkan sisi kepedulian yang besar. Dalam rangkaian acara, Wako Agung menyerahkan bantuan Rp3 miliar untuk korban banjir dan longsor di Sumbar, Sumut, dan Aceh. Masing-masing provinsi menerima Rp1 miliar, bersumber dari APBD Pekanbaru 2025 yang mengalami surplus.
“Bantuan ini bukan hanya membuat saudara kita yang menerima merasa senang, tetapi juga membawa kebahagiaan bagi kita yang memberi. Setiap kebaikan akan kembali menjadi ketenangan dan keberkahan,” ujarnya di hadapan ribuan masyarakat.
Dengan melibatkan ribuan warga, menampilkan prosesi adat terbesar, memecahkan Rekor MURI, serta berbagi untuk korban bencana Sumatera, Pekanbaru kembali menunjukkan karakternya sebagai kota yang tumbuh, peduli, dan berbudaya.
Nikah Massal ini menjadi bukti bahwa pembangunan uga dapat hadir dalam bentuk kebahagiaan masyarakat, pelestarian adat, dan kepedulian terhadap sesama.
Agung menegaskan Pekanbaru Green City bukan hanya berfokus pada pembangunan fisik, tetapi juga memiliki komitmen kemanusiaan yang kuat. “Pekanbaru yang sebelumnya defisit kini menuju surplus. Dengan kondisi keuangan yang semakin baik, hari ini kita bisa berbagi,” katanya.
Wako Agung Ucapkan Terima Kasih kepada Semua Pihak
Agung Nugroho juga menyampaikan rasa syukur dan apresiasi mendalam kepada seluruh pihak yang telah berpartisipasi dalam menyukseskan rangkaian kegiatan nikah massal ini. Program tersebut merupakan agenda yang sudah dirancang sejak awal tahun dan menjadi salah satu catatan penting Pemko dalam pelayanan langsung kepada masyarakat.
Agung menjelaskan diawali dengan pelaksanaan sidang isbat bagi warga yang sudah menikah namun belum memiliki dokumen resmi pernikahan dari negara, Jumat (5/12) lalu. Dari lebih 100 peserta yang mendaftar, sebanyak 60 pasangan dinyatakan lulus verifikasi dan diakomodasi dalam sidang isbat tersebut.
“Artinya kita juga mengurusi masyarakat yang sudah menikah tapi belum melaksanakan nikah secara negara,” ujar Agung. Selanjutnya, pagi kemarin digelar nikah massal di Kota Pekanbaru. Program ini menyasar warga yang tidak memiliki biaya menggelar resepsi maupun mengurus administrasi pernikahan, termasuk biaya negara, sewa baju, hingga kebutuhan teknis lainnya.
Dukungan datang dari berbagai pihak. Mulai dari komunitas fotografer yang menyediakan sesi pre-wedding gratis hingga akhir acara, Kemenag yang menyiapkan 26 penghulu, organisasi dekor pelaminan, penyedia perjalanan umroh yang memberi hadiah umrah, hingga hotel-hotel yang menyediakan kamar gratis untuk bulan madu para pasangan.
Menjawab pertanyaan mengenai rencana keberlanjutan kegiatan, Agung menegaskan pemko lebih memilih menggelar acara yang membawa manfaat nyata bagi masyarakat. Menurutnya, kegiatan seperti nikah massal jauh lebih relevan dibanding pesta seremonial semata. “Lebih bagus seperti ini menurut saya. Jadi pesta rakyat yang ada manfaatnya untuk rakyat itu sendiri,” ujarnya.
Kegiatan megah ini juga dirangkai dengan agenda lain. Ahad malam harinya lokasi yang sama digunakan untuk puncak perayaan Hari Guru sekaligus Welcome Dinner bagi lebih dari 5.000 guru se-Kota Pekanbaru. Agung berharap rangkaian acara ini menjadi budaya baru di Pekanbaru, budaya saling bantu, saling menguatkan, dan menghidupkan tradisi berbalas pantun.
Seluruh 71 pasangan pengantin tampil mengenakan pakaian khas Melayu, selaras dengan visi-misi Pemko Pekanbaru yaitu Pekanbaru Berbudaya, Maju, dan Sejahtera. “Berbudaya tidak hanya tentang baju, tapi juga tentang kehidupan sehari-hari,” tegas Agung.
Di akhir pernyataannya, Agung menyampaikan terima kasih kepada Kemenag, seluruh pasangan pengantin, panitia, para sponsor, dan seluruh masyarakat Pekanbaru yang telah hadir, mendukung, dan mendoakan kelancaran acara. “Kami ucapkan terima kasih banyak kepada semua pihak yang menyukseskan kegiatan ini,” tuturnya.(ali)
Editor : Rindra Yasin