PEKANBARU (RIAUPOS.CO) – Tahun 2026, program Makan Bergizi Gratis (MBG) dimulai, Senin (12/1). Ditargetkan, 104 dapur MBG akan beroperasi penuh awal tahun ini.
Hal ini disampaikan Wakil Wali Kota (Wawako) Pekanbaru Markarius Anwar saat hadir dalam pemberian MBG di TK Negeri 6, Simpang Baru, Kecamatan Binawidya, Senin (12/1). Kehadiran Wawako ini menjadi penanda dimulainya MBG tahun ini di Kota Pekanbaru.
”Desember lalu baru sekitar 60 dapur yang berjalan. Mudah-mudahan bulan ini semuanya aktif (104 dapur, red). Peserta didik kita hampir 300 ribu, yang baru terlayani sekitar 120 ribu. Harapannya, tahun 2026 seluruh anak bisa mendapatkan Makan Bergizi Gratis,” jelas Markarius.
Di TK Negeri 6, Markarius menyapa anak-anak, menggendong beberapa di antaranya, lalu duduk bersama mereka saat ompreng makan mulai dibuka. Percakapan kecil pun mengalir, tentang lauk yang disukai, tentang nasi yang habis, dan tentang perut kecil yang kenyang.
”Ini penyaluran perdana untuk TK Negeri 6, Simpang Baru, Binawidya. Di awal tahun ini saya memang sengaja turun langsung ke beberapa sekolah, untuk memastikan program Makan Bergizi Gratis benar-benar berjalan baik di Kota Pekanbaru, baik dari sisi porsi maupun kualitas makanannya,” ujar Markarius.
Ia mengaku lega setelah mendengar langsung respons dari para penerima utama program itu. “Anak-anak yang kita tanya suka dengan lauknya, porsinya juga pas. Mudah-mudahan seluruh SPPG yang melayani peserta didik di Pekanbaru terus memberikan pelayanan terbaik, baik penyajian maupun kualitas masakan,” katanya.
Yuliarni, Kepala TK Negeri 6, menyebut program ini sebagai angin segar bagi anak didiknya. ”Ini program yang sangat baik dari Bapak Presiden Prabowo. Walaupun sekolah kami sedikit terlambat menerima MBG, kami tetap optimis. Alhamdulillah, hari ini akhirnya terwujud,” ucapnya.
Ia berharap program ini tak berhenti di hari pertama.
”Mudah-mudahan terus berjalan lancar dan dapurnya tetap beroperasi,” tambahnya penuh harap.
Dari sisi orang tua, dukungan pun mengalir. Rahmat, salah seorang wali murid, menilai MBG bukan hanya soal gizi, tetapi juga soal rasa keadilan sosial. ”Kalau anak bawa bekal dari rumah, kadang ada yang minder. Dengan MBG ini, semua anak makannya sama. Tidak ada perbedaan, ada kesetaraan ekonomi,” tuturnya.(ilo)
Editor : Arif Oktafian