PEKANBARU (RIAUPOS.CO) - Sebuah terobosan dalam bidang pembelajaran baca Kitab Kuning (KK) kembali dihadirkan oleh Program Studi (Prodi) Pendidikan Bahasa Arab (PBA) Universitas Islam Riau (UIR) dalam kegiatan pengabdian kepada masyarakat (PKM). Kali ini, kegiatan PKM PBA-UIR berbentuk workshop yang berfokus pada pelatihan pembelajaran baca KK bagi tenaga pengajar KK di Pondok Pesantren (Ponpes) Nurul Azhar yang berada di Rumbai Pekanbaru, belum lni.
Kegiatan ini bertujuan untuk memberikan pengetahuan tentang teknik pembelajaran baca KK yang tepat kepada para santri, sehingga proses dan hasil dari pembelajarannya berhasil sesuai dengan harapan. ‘’Kami ingin menyadarkan para pengajar Kitab Kuning, bahwa ada perbedaan yang mendasar antara teknik mengajar Kitab Kuning (M-KK) dengan teknik mengajar baca Kitab Kuning (MB-KK). metode M-KK bersifat teacher oriented, sedangkan metode MB-KK membuat pembelajaran menjadi student oriented. Jika ingin santrinya pintar membaca KK, maka pengajar Kitab Kuning mesti menggunakan teknik MB-KK,’’ ujar dosen sekaligus Ketua Tim PKM PBA-UIR Ustad Alfitri Lc MPd pada kegiatan ini.
Di antara kelebihan dan kekuatan pelatihan ini, para peserta diajarkan bagaimana tahapan-tahapan praktik pembelajaran KK dengan menggunakan teknik MC-KK, mulai dari aspek tujuan, strategi hingga evaluasi pembelajarannya. Para guru yang mengajarkan KK diharapkan tidak lagi sekadar membacakan teks KK dan menjelaskan maksudnya, tanpa melibatkan peran peserta didik dalam membaca, menerjemahkan dan memahami teks KK. ‘’Dengan teknik ini, kami berharap pembelajaran KK di kelas tidak lagi berpusat pada ustad pengajarnya, tapi berpindah pada para santri. Pembelajaran KK seperti ini akan melahirkan peserta didik yang aktif dan mahir dalam membaca teks KK,’’ ungkap Pimpinan Ponpes Nurul Azhar Kiyai Dr Muhammad Hanafi Lc MA.
Teknik MB-KK yang diperkenalkan oleh tim PkM PBA-UIR kepada para peserta pelatihan, mencakup pembahasan tentang dua level pembelajaran, yaitu pemula dan lanjutan. Di level pemula, kegiatan pembelajaran baca KK dengan metode MC-KK menggunakan strategi read-translate-explain (RTE) yang lebih berpusat pada guru, tanpa mengabaikan peran santri sebagai peserta didik. Sedangkan di level lanjutan, proses pembelajaran juga menggunakan strategi RTE, tapi pembelajaran sudah dominan berpusat pada guru.
Tim PKM PBA-UIR juga memperkenalkan teknik penerjemahan teks Arab pada KK, yang akan membantu guru dan peserta didik dalam proses baca KK di level pemula. Teknik yang dimaksud diberi nama dengan istilah al-Muhakah, karena peserta didik di level ini terfokus pada kegiatan menyimak terjemahan guru, lalu meniru dan menerapkannya kembali pada teks Arab KK. Teknik ini tentunya tidak efektif diterapkan pada level lanjutan, sehingga memerlukan teknik penerjemahan yang berbeda agar pembelajaran baca KK di level ini bisa berjalan secara baik dan sukses.(nto/c)
Editor : Arif Oktafian