PEKANBARU (RIAUPOS.CO) - Kenaikan harga elpiji nonsubsidi yang cukup tinggi membuat pengecer khawatir pelanggan mereka beralih ke elpiji nonsubsidi atau elpiji 3 kilogram (kg). Selain itu, kebijakan ini juga akan berpengaruh terhadap pelaku usaha.
Siswanto (50), pemilik pangkalan elpiji Febri Amanda di Jalan Kutilang Sakti, Kecamatan Tuah Madani, Pekanbaru mengatakan, kenaikan harga elpiji nonsubsisi berdampak langsung pada harga dijual ke konsumen. Ia menyebut harga eceran bisa mencapai Rp245 ribu per tabung, terutama jika disertai layanan antar ke rumah pelanggan.
“Kalau kami ambil dari agen sudah Rp235 ribu, tentu kami sesuaikan lagi saat jual, apalagi kalau diantar,” ujarnya. “Kalau yang nonsubsidi naik, biasanya orang beralih ke yang subsidi. Itu bisa bikin gas 3 kilo jadi langka,” tambahnya.
Baca Juga: Harga LPG Nonsubsidi Juga Naik per 18 April 2026, Berikut Rincian Harga Terbarunya!
Ia menjelaskan, kenaikan harga ini telah diinformasikan sebelumnya oleh pihak agen, ameski baru efektif dalam beberapa hari terakhir, tepatnya sejak malam Sabtu (18/4). Hingga kini, belum ada reaksi signifikan dari konsumen karena kenaikan masih tergolong baru.
Kenaikan harga gas nonsubsidi dipastikan akan dampaknya terhadap sektor usaha di Kabupaten Kepulauan Meranti. Meski penggunaan masih tergolong rendah, pelaku usaha yang bergantung pada gas ukuran 5,5 kg dan 12 kg dipastikan akan merasakan tekanan biaya operasional.
Berdasarkan informasi di lapangan, harga elpiji 12 kg di tingkat agen kini berada di kisaran Rp225 ribu per tabung, atau mengalami kenaikan sekitar Rp36 ribu hingga Rp40 ribu. Sementara itu, 5,5 kg yang sebelumnya berada di harga Rp97 ribu per tabung, kini naik antara Rp17 ribu hingga Rp20 ribu.
Kepala Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) Kepulauan Meranti, Marwan mengungkapkan akan terus melakukan pengawasan terhadap peredaran gas nonsubsidi agar tetap sesuai dengan ketentuan dan terdistribusi secara proporsional.
“Kami akan terus mengawasi agar penyetaraan harga berjalan sesuai aturan, serta memastikan distribusi tetap terkendali di lapangan,” ujarnya, Ahad (19/4).
Baca Juga: Di Kuansing Harga Baru Gas LPG 12 Kg dan 5,5 Kg Sudah Langsung Berlaku
Di sisi lain, Marwan mengakui bahwa kenaikan harga ini tetap berpotensi memberikan dampak, khususnya bagi pelaku usaha kecil dan menengah yang menggunakan gas nonsubsidi sebagai bahan utama operasional.
Namun demikian, ia menilai dampaknya di Kepulauan Meranti tidak akan sebesar daerah lain. “Berbeda dengan kota atau kabupaten besar, penggunaan elpiji nonsubsidi di Meranti masih terbatas. Dari empat agen yang ada, hanya dua agen yang aktif memasok,” jelasnya.
Adapun dua agen tersebut adalah PT Sofia Jaya Meranti dan PT Mutiara Risky. Rata-rata pasokan gas nonsubsidi yang masuk ke Meranti setiap bulan juga masih tergolong kecil. Dengan kondisi tersebut, Disperindag menilai kenaikan harga ini memang akan terasa, namun skalanya masih terbatas.
Kendati demikian, pemerintah daerah tetap mengingatkan agar pelaku usaha mulai melakukan penyesuaian dan efisiensi agar tidak terlalu terbebani. “Kami tetap mendorong pelaku usaha untuk bijak dalam penggunaan energi, serta memastikan tidak terjadi lonjakan harga di tingkat konsumen secara tidak wajar,” tutur Marwan.
Senda diungkapkan, Hendra, pedagang kuliner di Tembilahan, Indragiri Hilir yang selama ini mengandalkan gas 12 kilogram untuk menunjang usahanya. Ia mengaku kenaikan harga tersebut cukup memberatkan. “Katanya harga gas nonsubsidi sudah naik. Mau jual berapa lagi nanti makanan,” keluhnya.
Menurut Hendra, kenaikan berdampak langsung pada biaya operasional usaha. Untuk menyiasatinya, ia mulai mengombinasikan penggunaan gas 12 kg dengan gas subsidi ukuran 3 kilogram. “Kami sekarang diselingkan ke 3 kg supaya tidak terlalu berat. Kalau sudah naik seperti ini, ya terpaksa pakai 3 kg juga,” ucapnya.
Kondisi ini menunjukkan kenaikan harga gas nonsubsidi tidak hanya berdampak pada rumah tangga, tetapi juga mulai menekan pelaku usaha menengah yang bergantung pada gas sebagai kebutuhan utama.
Sejumlah warga di Rokan Hulu (Rohul) terutama kalangan ibu rumah tangga dan pelaku usaha kecil juga mengaku kenaikan ini sangat memberatkan, lebih harganya lebih mahal ketika dijual di agen.
Tak hanya itu, di minimarket dan warung di ibukota Kabupaten Rohul stoknya kosong, Ahad (19/4). Gas 12 Kg dan 5,5 Kg hanya bisa didapatkan di agen dan SPBU Pasirpengaraian.
Warga Desa Pematang Berangan Kecamatan Rambah Meri mengaku kesulitan untuk mendapat gas 5,5 kg dalam sebulan terakhir. Ia mengatakan kenaikan harga ini terasa cukup drastis dan berdampak langsung pada pe ngeluaran harian keluarga.
Dirinya memilih gas 5,5 kg karena dianggap lebih aman ketimbang elpiji 3 kg. ‘’Tapi dengan naiknya harga sekarang, ditambah sulitnya mendapatkangas 5,5k, saya akan beralih ke penggunaan gas 3 kg (subsidi, red). Kebijakan Pertamina ini, memberatkan dan tidak berpihak kepada masyarakat yang sudah mau menggunakan gas nonsubsidi,’’ sebutnya.
Warga lainnuya Firmansyah mengaku belum mendapatkan informasi adanya kenaikan gas karena istrinya belum membeli isi ulang gas. Namun, dia kecewa kenaikan terjadi di tengah kondisi ekonomi masyarakat yang saat ini sangat sulit.
Ia berharap ada solusi atau kebijakan yang bisa meringankan beban masyarakat. ‘’Masyarakat berharap pemerintah dapat mengambil langkah antisipasi dan kebijakan yang tidak memberatkan ekonomi masyarakat. ‘‘Kenaikan gas nonsubsidi jelas semakin membebani ekonomi rumah tangga, dan berdampak pada langkanya gas 3 kg subsidi akibat peralihan dari gas nonsubsidi,’’ sebutnya.
Pantauan Riau Pos di lapangan, warung waralaba seperti Indomaret dan Alfamart yang ada di Pasirpengaraoan, biasanya menjual isi ulang gas nonsubsidi dalam sebulan terakhir kosong. Dengan alasan tidak ada agen masuk.
‘’Sebelumnya isi ulang gas 12 kg dijual seharga Rp220 ribu dan ukuran 5,5 kg seharga 107.500,’’ ujar Lily, salah seorang kasir Indomaret Simpang Tulang Gajah, Desa Pematangan Berangan Kecamatan Rambah menjawab Riau Pos, Ahad (19/4).
Sementara di SPBU Pasirpengaraian, menjual gas 5,5 kg dengan harga Rp145.00 dan gas 12 kg Rp270 Ribu. ‘’Benar ada kenaikan nonsubsidi. Itu harga jual isi ulang terbaru diumumkan di pintu Kantor SPBU,’’ ujar Amrizal, Karyawan SPBU Pasirpengaraian kepada Riau Pos, Ahad (19/4).
Menjaga Daya Beli Masyarakat
Menanggapi adanya kenaikan harga BBM dan gas yang berpotensi mempengaruhi harga sejumlah komoditas, Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Siak akan menyiapkan beberapa langkah strategis guna menjaga stabilitas ekonomi dan melindungi daya beli masyarakat.
Bupati Siak Afni Z didampingi Kepala Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Kadisperindag) Kabupaten Siak Tengku Musa SE MH mengatakan, pihaknya akan memperkuat pengawasan distribusi BBM dan elpiji 3 kilogram bersubsidi agar lebih tepat sasaran serta mencegah terjadinya penimbunan dan penyalahgunaan atau pemindahan isi dari gas tabung 3 kilogram ke tabung 12 kilogram secara ilegal.
Pemerintah Kabupaten Siak melalui Dinas terkait juga akan melakukan operasi pasar dan pasar murah untuk menekan lonjakan harga bahan pokok di masyarakat. “Kami mengikutsertakan petani tempatan untuk dapat secara langsung berpartisipasi dengan menjual hasil perkebunan/pertaniannya pada kegiatan operasi pasar atau pasar murah tersebut,” terangnya, Ahad (19/4) malam.
Pemkab Siak juga berkoordinasi dengan PT Pertamina Patra Niaga, Pemkab Siak untuk tetap menjaga distribusi baik BBM maupun elpiji di wilayah Kabupaten Siak.
Tak hanya dengan PT Pertamina, juga berkoordinasi dengan distributor, pelaku usaha penyedia bahan pokok dan bahan penting lainnya untuk dapat memastikan kelancaran distribusi dari daerah penghasil, sampai ke seluruh wilayah Siak.
“Kami mengajak dan mengimbau seluruh masyarakat untuk tetap tenang, tidak melakukan pembelian berlebihan (panic buying), serta bersama-sama menjaga stabilitas ekonomi daerah,” kata Bupati Afni.(ilo/ayi/wir/*2/mng)
Editor : Arif Oktafian