PEKANBARU (RIAUPOS.CO) - Dinas Peternakan dan Kesehatan Hewan (PKH) Provinsi Riau menegaskan kesiapannya dalam mendukung implementasi Sistem Integrasi Sapi dan Kelapa Sawit (Siska) di Riau. Langkah strategis ini dinilai sangat realistis mengingat integrasi antara sektor perkebunan dan peternakan sebenarnya sudah lama ada dalam praktik keseharian masyarakat petani di berbagai wilayah Riau.
Kepala Dinas PKH Riau, Mimi Yuliani Nazir, mengatakan bahwa potensi besar yang dimiliki Riau, baik dari sisi luas lahan perkebunan maupun ketersediaan sumber daya manusia, menjadi modal utama. Menurutnya, konsep Siska bukan lagi hal yang asing bagi para petani, karena sebagian besar pekebun kelapa sawit secara alamiah juga telah memelihara ternak sapi di sekitar lahan mereka.
”Sektor peternakan di Provinsi Riau sangat siap untuk mendukung implementasi Siska. Kondisi ini diperkuat dengan fakta bahwa sebagian petani kelapa sawit kita telah memelihara ternak sapi, sehingga konsep integrasi ini sebenarnya sudah menjadi bagian dari kehidupan masyarakat,” ujar Mimi Yuliani Nazir, Ahad (19/4).
Untuk memberikan arah yang lebih terstruktur, demikian Mimi, Dinas PKH Riau kini telah membentuk tujuh klaster Siska yang tersebar di lima kabupaten sebagai pilot project. Klaster-klaster ini dirancang sebagai model percontohan yang nantinya dapat dievaluasi efektivitasnya sebelum diperluas ke wilayah lain. Di Kabupaten Rokan Hulu, terdapat dua titik utama yaitu Klaster Sangkir Jaya di Desa Sangkir Indah dan Klaster Ternak Barokah di Desa Tandun.
Baca Juga: BBM Naik, Sopir hingga Pengguna Dexlite Mengeluh
”Untuk di wilayah pesisir dan tengah, di Kabupaten Pelalawan terdapat Klaster Ternak Maju Bersama di Desa Rawang Sari, sementara Kabupaten Kampar memiliki Klaster Jaya Abadi di Desa Tapung Lestari. Di Kabupaten Siak, terdapat dua klaster strategis yakni Klaster Talago Samsam di Kandis dan Klaster Mutiara Indah di Tualang. Sedangkan untuk wilayah selatan, Klaster Sinar Bakti berdiri di Desa Pontian Mekar, Kabupaten Indragiri Hulu,” sebutnya.
Mimi menjelaskan, keberadaan klaster percontohan ini sangat krusial sebagai langkah awal membangun model bisnis yang lebih modern. Melalui pilot project ini, pemerintah daerah dapat menyempurnakan pola integrasi yang paling efektif, sehingga produktivitas dan nilai tambah bagi sektor perkebunan maupun peternakan dapat dirasakan secara nyata oleh para pelaku usaha.
Ambisi besar di balik program ini adalah mengoptimalkan daya tampung lahan perkebunan sawit Riau yang sangat luas. Berdasarkan data terkini, populasi ternak sapi di Riau saat ini di angka 206.205 ekor. Namun, angka ini dinilai masih kecil jika dibandingkan dengan total kapasitas lahan sawit yang diproyeksikan mampu menampung hingga 500.000 ekor sapi jika sistem SISKA dijalankan optimal.(yls)
Laporan SOLEH SAPUTRA
Editor : Arif Oktafian