Riau Pekanbaru Nasional Internasional Hukum Ekonomi Olahraga Berita Hiburan Kesehatan Kriminal Pendidikan Sumatera Politik Perca Liputan Khusus Lingkungan Ladies Kebudayaan Begini Ceritanya Kick Out Hoax Interaktif Gaya Hidup Feature Buku Opini Betuah

Harga Elpiji Nonsubsidi Naik, Warga Mulai Beralih ke ‘’Tabung Melon’’

Tim Redaksi • Selasa, 21 April 2026 | 10:22 WIB
Elpiji nonsubsidi 12 kg dan 5,5 kg tampak tersusun di depan salah satu kedai di Jalan Delima Pekanbaru, Ahad (19/4/2026). (EVAN GUNANZAR)
Elpiji nonsubsidi 12 kg dan 5,5 kg tampak tersusun di depan salah satu kedai di Jalan Delima Pekanbaru, Ahad (19/4/2026). (EVAN GUNANZAR)

 
PEKANBARU (RIAUPOS.CO) - Kenaikan harga elpiji nonsubsidi berdampak langsung terhadap daya beli masyarakat. Sejumlah warga mengaku mulai mengurangi penggunaan gas nonsubsidi dan beralih ke elpiji 3 kilogram (kg) yang dinilai lebih terjangkau untuk kebutuhan sehari-hari.

Di tingkat pedagang, kenaikan harga ini juga memengaruhi penjualan. Wasista, seorang pedagang gas di Pekanbaru, mengatakan permintaan gas nonsubsidi mengalami penurunan sejak harga mengalami kenaikan.

“Sekarang harga 12 kilogram sudah Rp260 ribu, Bright Gas 5,5 kilogram sekitar Rp125 ribu. Pembeli jadi berkurang, banyak yang beralih ke gas 3 kilogram,” ujar Wasista, Senin (20/4).

Baca Juga: Jarak Pandang Berkabut dari Flyover SKA Pekanbaru Selasa Pagi, BMKG: Bukan Asap

Menurutnya, kondisi tersebut sudah berlangsung dalam beberapa hari terakhir. Pelanggan yang sebelumnya rutin membeli gas nonsubsidi kini lebih memilih opsi yang lebih murah demi menekan pengeluaran.

Hal senada disampaikan oleh Irawan, salah seorang warga. Ia mengaku kenaikan harga gas nonsubsidi cukup memberatkan sehingga dirinya tetap menggunakan elpiji ‘’tabung melon’’ atau bersubsidi. “Harga sekarang cukup tinggi, jadi kami tetap pakai gas 3 kilogram. Lebih hemat untuk kebutuhan rumah tangga,” ujarnya.

Kenaikan harga gas di Pekanbaru, masih terdapat perbedaan harga jual oleh pangkalan gas. Pantauan Riau Pos, Senin (20/4) di sejumlah pangkalan gas terdapat perbedaan harga sebesar Rp10.000 untuk gas ukuran 12 kg dan Rp5.000 untuk gas ukuran 5,5 kg.

Febriani (41) salah seorang pemilik pangkalan gas di Jalan Delima Kecamatan Bina Widya mengaku saat ini harga gas 12 kilogram dari agen yang sebelumnya sekitar Rp200 ribu per tabung, kini naik menjadi sekitar Rp235 ribu. 

Baca Juga: Niat Bantu Kawan Berobat Ibunya, Pria di Pekanbaru Jual Motor Curian, Bebas Lewat Mekanisme RJ

Harga tersebut tetap disesuaikan olehnya kepada konsumen. Ia menyebutkan harga eceran bisa mencapai Rp245 ribu per tabung, terutama jika disertai layanan antar ke rumah pelanggan.

Kenaikan harga ini sebelumnya memang sudah diinformasikan oleh pihak agen, namun karena sosialisasi yang tidak efektif sehingga membuat banyak konsumen yang kaget dan mengeluh dengan kenaikan harga yang terjadi selama dua hari terakhir ini.

“Kami kan menyesuaikan harga yang sudah ditentukan. Kalau dari agen sudah dikasih Rp235 ribu, tentu kami sesuaikan lagi saat jual, apalagi kalau diantar tentu harganya beda lagi,” ujarnya.

Ia pun menghawatirkan dampak dari kenaikan gas nonsubsidi ini akan berpengaruh pada penjualan gas subsidi 3 kg yang harganya lebih murah. 

Hal ini sudah terlihat dari beberapa konsumennya yang sebelumnya menggunakan gas nonsubsidi kini mulai beralih ke gas subsidi. 

Baca Juga: Wako Agung Bakal Lepas Kloter Perdana Jemaah Haji Pekanbaru, 438 Orang Siap Menuju Tanah Suci

“Sudah pastilah akan banyak yang beralih ke subsidi. Harga gas nonsubsidi sudah terasa mencekik, apalagi sembako juga naik, tentu pindah semuanya. Pemerintah harusnya bisa mengantisipasi hal ini jangan nanti stok gas subsidi pula yang susah didapat. Kasihan masyarakat,” ungkapnya.

Seorang konsumen gas nonsubsidi Ramadhan (26), warga Jalan Tengku Bey Kecamatan Bukit Raya mengaku kaget dengan kenaikan tanpa adanya sosialisasi terlebih dahulu. “Kaget pas beli sudah naik saja. Ini luar biasa naiknya. Seharusnya pemerintah melakukan sosialisasi bukan dalam semalam langsung melakukan kenaikan harga gas. Kalau seperti ini mending kembali ke gas subsidi lagi,” ucapnya.

Dampak kenaikan gas nonsubsidi dirasakan Tedy, pelaku usaha gas di Jalan Proklamasi Telukkuantan Kecamatan Kuantan Tengah, Kuantan (Singingi Kuansing).  Sejak kenaikan harga 18 April 2026 lalu, outlet atau kedainya masih sepi dari pembeli. 

‘’Sejak masuk Ahad (19/4) lalu dari agen Pekanbaru, gas 12 kg baru terjual tiga tabung dari 20 tabung pasokan per pekan,’’ jelasnya. ‘’Sementara yang ukuran 5,5 kg belum ada terjual. Penjualan turun. Biasanya, ini rata-rata sudah habis lebih separo,” kata Tedy, Senin (20/4). 

Di Kepulauan Meranti, harga elpiji 12 kg di tingkat agen sebelum kenaikan berkisar Rp225 ribu per tabung, naik menjadi Rp262 sampai Rp 265 per tabung. Sementara itu, ukuran 5,5 kg yang sebelumnya di harga Rp97 ribu per tabung, kini naik menjadi Rp 117 ribu.

Kepala Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) Kepulauan Meranti, Marwan mengakui bahwa kenaikan harga ini tetap berpotensi memberikan dampak, khususnya bagi pelaku usaha kecil dan menengah yang menggunakan gas nonsubsidi sebagai bahan utama operasional.

Pemerintah daerah tetap mengingatkan agar pelaku usaha mulai melakukan penyesuaian dan efisiensi agar tidak terlalu terbebani. “Kami tetap mendorong pelaku usaha untuk bijak dalam penggunaan energi, serta memastikan tidak terjadi lonjakan harga di tingkat konsumen secara tidak wajar,” tutur Marwan.(ayi/ilo/wir)

 

 

 

Editor : Arif Oktafian
#gas nonsubsidi #kenaikan harga #Elpiji