PEKANBARU (RIAUPOS.CO) - Antrean pengendara yang akan mengisi Bahan Bakar Minyak (BBM) di Stasiun Pengisian Bahan Bakar Umum (SPBU) sudah berkurang di Pekanbaru sejak dua hari terakhir. Namun, di beberapa daerah antrean masih terjadi, Rabu (6/5).
Di Kuantan Singingi (Kuansing), truk, mobil pribadi maupun kendaraan roda dua terlihat kembali ramai antre di SPBU Sungai Jering Jalan Proklamasi, Telukkuantan Kecamatan Kuantan Tengah, Kuantan Singingi (Kuansing). Antrean truk coldiesel kembali berjejer hingga ke simpang MR DIY Telukkuantan.
Begitu juga kendaraan pribadi roda empat dan roda dua. Lumayan panjang hingga di depan Toko Damai Telukkuantan. Padahal, hujan lebat sempat mengguyur Telukkuantan.
Di sisi lain, personel Polres Kuansing terlihat tetap berpatroli melakukan pengecekan dan kembali membantu pengaturan kendaraan yang antrean di ruas jalan lintas itu. Administrasi SPBU Sungai Jering, Mega Wahyuna mengaku antrean kendaraan sudah berkurang.
“Kalau pasokan lancar, sesuai kuota, Mudah-mudahan antrean tidak akan panjang. Tetapi kalau ada BBM yang tidak masuk, maka pengendarapasti mencari ke SPBU terdekat. Akibatnya, antrean akan panjang,” kata Mega.
Pemkab Siak Minta Diizinkan Pelangsir Keranjang
Pemkab Siak meminta Pertamina dan BPH Migas mengizinkan pelangsir keranjang memperoleh BBM di SPBU, namun dengan pengawasan ketat untuk mencegah kecurangan, berupa penimbunan dan lainnya.
Baca Juga: JPU Dalami Pergeseran Anggaran Rp271 Miliar ke PUPR Sidang Wahid Dilanjutkan Hari Ini
Diketahui, dari 131 kampung dan kelurahan di 14 kecamatan di Kabupaten Siak, 50 persen berada di pelosok dan masyarakatnya tidak bisa datang langsung ke SPBU dikarenakan jarak tempuh 30 sampai 50 kilometer (km).
Pemkab Siak mengambil langkah strategis untuk memastikan distribusi BBM tetap berjalan, khususnya ke wilayah tertinggal, terdepan dan terluar (3T). Salah satunya, dengan menggunakan jasa kelompok pelangsir keranjang.
Hal ini dilakukan sebagai langkah cepat dalam menyikapi kelangkaan BBM yang mulai terjadi di sejumlah wilayah. Pemkab Siak pun melakukan koordinasi bersama seluruh unsur Forkopimda dan pemangku kepentingan di Ruang Zamrud, Kompleks Rumah Rakyat, Jalan Raja Kexik, Siak Kota. “Rapat kami lakukan sebagai respons atas keluhan masyarakat yang kesulitan mendapatkan BBM, setelah kenaikan harga dan terbatasnya pasokan,” kata Bupati Siak Afni, Rabu (6/5) siang.
Selama ini, masyarakat di pelosok bergantung pada distribusi BBM melalui kelompok pelangsir keranjang. “Kelompok pelangsir keranjang ini merupakan penolong, mereka mendistribusikan BBM ke daerah-daerah yang sulit dijangkau,” terang Bupati Afni.
‘’Jangan lihat mereka dari sisi untuk mendapatkan keuntungan yang setara dengan perjuangan dan pengorbanan mereka. Atas pertimbangan itu kami meminta solusi dari Pertamina agar mengizinkan mereka mendapatkan BBM, untuk disalurkan ke daerah-daerah pelosok, dengan catatan bila terbukti menimbun BBM atau menyalahgunakannya, silakan berlakukan aturan hukum,” tegasnya.
Perwakilan BPH Migas, Liza yang hadir dalam rapat tersebut menjelaskan bahwa secara regulasi distribusi BBM seharusnya dilakukan melalui sub penyalur resmi, sehingga keberadaan pelangsir perlu disesuaikan dengan ketentuan yang berlaku.
Baca Juga: 173 Pelajar dari Tiga Negara Ikuti Pertukaran Internasional di Kampar
Nelayan di Meranti Terpaksa Beli Mahal
Nelayan di Kabupaten Kepulauan Meranti masih mengeluhkan sulitnya mendapatkan BBM subsidi. Keluhan tersebut disampaikan Rafiq, nelayan asal Kecamatan Tebingtinggi Barat.
Ia mengaku hingga saat ini masih bisa melaut seperti biasa, namun harus bergantung pada BBM dari pengecer dengan harga yang lebih tinggi.“Masalahnya bukan hanya harga, tapi akses BBM subsidi yang sulit. Kami sering tidak kebagian,” ujarnya, Rabu (6/5).
Menurut Rafiq, terpaksa membeli solar dari pengecer dengan harga mahal. Untuk satu gallon berkapasitas sekitar 35 liter, ia mengaku harus merogoh kocek hingga Rp270 ribu. Padahal, jika bisa membeli langsung dari Agen Penyalur Minyak Solar (APMS), harga satu drum di APMS hanya sekitar Rp1.360.000. “Kalau bisa akses langsung ke APMS, tentu lebih ringan bagi kami. Tapi kenyataannya sulit,” katanya.
Ia menjelaskan, meskipun telah mengantongi rekomendasi dari Dinas Perikanan, nelayan tetap kesulitan mendapatkan BBM subsidi. Alasan yang kerap diterima adalah keterbatasan kuota. “Rekomendasi sudah ada, tapi saat ke APMS selalu dibilang kuota habis. Ini yang jadi kendala utama kami,” ungkapnya.
Stok BBM di Tempuling Terjaga
Ketersediaan BBM di Kecamatan Tempuling, Kabupaten Indragiri Hilir (Inhil) dipastikan dalam kondisi aman dan mencukupi. Aktivitas pengisian di SPBU Putra Sindo, Jalan Provinsi terpantau normal tanpa antrean panjang kendaraan, Rabu (6/5).
Baca Juga: Diguyur Hujan Deras, Ruas Jalan Proklamasi Banjir
Di lapangan menunjukkan distribusi BBM berjalan lancar dengan stok yang masih tersedia. Pertalite tercatat 46.525 liter dengan penyaluran harian. Sementara bio solar juga disalurkan sesuai kebutuhan masyarakat. Untuk BBM nonsubsidi, pertamax tersedia 13.054 liter, dexlite 8.630 liter, pertamax turbo 11.766 liter, serta pertamina dex 17.620 liter.
Ketersediaan tersebut dinilai cukup untuk memenuhi kebutuhan masyarakat. Penyesuaian harga BBM non subsidi sejak 5 Mei 2026 tidak berdampak terhadap lonjakan konsumsi. Aktivitas pengisian tetap berlangsung tertib tanpa adanya pembelian berlebihan maupun penumpukan kendaraan di SPBU.
Kondisi ini turut dipastikan melalui monitoring yang dilakukan jajaran Polsek Tempuling di lokasi. Petugas melakukan pengecekan stok, memantau antrean, serta berkoordinasi dengan pengelola SPBU guna mencegah penyalahgunaan BBM bersubsidi.
“Tidak ditemukan antrean panjang maupun pembelian berlebihan. Situasi aman dan kondusif,” ujar Kapolres Inhil AKBP Farouk Oktora melalui Kapolsek Tempuling Iptu Delni Atma. “Situasi masih normal dan terkendali. Kami terus melakukan monitoring untuk menjaga kelancaran distribusi serta kondusivitas kamtibmas,” tambahnya.
Baca Juga: Sekdaprov Riau Ajak Sinergi Lintas Sektor DBH Sawit Jadi Penggerak Ekonomi Daerah
Pertamina Belum Mau Buka Data
Executive General Manager Pertamina Patra Niaga Regional Sumbagut Sunardi sempat mengatakan, stok BBM di Riau masih sangat cukup. Bahkan mulai 1 Mei pihaknya sudah menambah pasokan khusus untuk pertalite dari 20 persen naik menjadi 50 persen dari kebutuhan normal.
Namun, tidak disebutkan secara rinci berapa liter penambahan kouta tersebut. “Mulai tanggal 1 Mei kami sudah menambah pasokan, khususnya pertalite itu dari 20 persen naik 30 persen. Bahkan dua hari ini, tanggal 3 Mei dan 4 Mei, kita naikkan sampai 50 persen dari kebutuhan normal,” paparnya.
Ia menjelaskan bahwa Pertamina Patra Niaga terus mengoptimalkan distribusi energi melalui langkah-langkah antisipatif, di antaranya dengan melakukan build up stock di atas kondisi normal, penambahan armada mobil tangki, serta percepatan penyaluran ke SPBU.
Namun saat Riau Pos mencoba menanyakan angka persis penambahan kuota 50 persen tersebut, belum ada jawaban dari Pertamina Patra Niaga Regional Sumbagut.
Dinas Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Riau juga menyebutkan belum mendapatkan data tersebut dari pihak BPH Migas. “Data resmi terkait kuota BBM di Riau juga belum ada dari BPH Migas. Kami belum tahu juga kapan akan diberikan datanya,” kata Baharufahmi selaku Kepala Bidang Energi dan Energi Baru Terbarukan Dinas ESDM Riau.(sol/azr/dac/mng/*2)
Editor : Arif Oktafian