PEKANBARU (RIAUPOS.CO)- Kasus pembunuhan sadis terhadap sopir truk ekspedisi pengangkut minyak goreng merek Minyakita yang ditemukan tewas di dalam kabin truk di Jalan SM Amin, Kecamatan Payung Sekaki, Pekanbaru, akhirnya berhasil diungkap aparat kepolisian.
Korban diketahui bernama Heri Supriadi (55), warga Jakarta Utara yang sehari-hari bekerja sebagai sopir truk lintas provinsi. Ia ditemukan meninggal dunia dalam kondisi mengenaskan di dalam truk ekspedisi bernomor polisi B 9080 UXQ pada Ahad (3/5) siang.
Tubuh korban terikat rapat menggunakan tali dan lakban. Bagian tangan, tubuh, hingga wajah korban dililit lakban sehingga diduga menyebabkan korban tidak dapat bernapas. Hasil visum juga menemukan adanya kekerasan benda tumpul pada tubuh korban.
Kapolresta Pekanbaru Kombes Pol Muharman Arta menjelaskan, pengungkapan kasus tersebut dilakukan jajaran Polresta Pekanbaru bersama Ditreskrim Polda Riau setelah melakukan penyelidikan intensif.
”Tim langsung melakukan olah tempat kejadian perkara dan penyelidikan mendalam dengan melibatkan laboratorium forensik,” ujar Kombes Pol Muharman Arta saat konferensi pers di Mapolresta Pekanbaru, Ahad (24/5).
Dari hasil penyelidikan, polisi menetapkan empat orang sebagai pelaku pembunuhan berencana tersebut. Tiga orang berhasil ditangkap, masing-masing berinisial FG, ZN, dan AS. Sementara satu pelaku lainnya berinisial AN masih dalam pengejaran dan telah masuk daftar pencarian orang (DPO).
FG diketahui merupakan rekan kerja korban sesama sopir truk dan diduga menjadi otak pelaku pembunuhan.
Kapolresta menjelaskan, kasus tersebut bermula ketika korban membawa truk bermuatan 20 ton minyak goreng merek Minyakita dari Medan menuju Lampung pada 30 April 2026.
Dalam perjalanan, FG diduga mengajak korban untuk menggelapkan muatan minyak goreng dan menjualnya secara ilegal. Namun ajakan tersebut ditolak korban.
”Karena korban tidak bersedia, pelaku kemudian menyusun rencana pembunuhan dengan membuat skenario seolah-olah terjadi perampokan,” jelasnya.
Rencana itu disusun sejak 2 Mei 2026. Dalam pelaksanaannya, para pelaku memiliki peran masing-masing. FG disebut menyusun rencana sekaligus ikut mengikat korban.
ZN dan AN membantu proses pengikatan, sementara AS menyediakan lakban dan airsoft gun untuk memperkuat rekayasa perampokan.
Satu per satu pelaku kemudian bergabung dalam perjalanan truk tersebut. ZN naik di wilayah Kandis Utara, sedangkan AN bergabung di sekitar Tol Pekanbaru–Dumai.
Baca Juga: Respons Cepat TRC 112 Bikin Warga Pekanbaru Makin Percaya
”Para pelaku berpura-pura menumpang di perjalanan. Saat situasi dianggap aman, korban langsung dilumpuhkan,” terangnya.
Di dalam kabin truk yang sempit, korban diikat dan dilakban hingga kesulitan bernapas. Polisi menduga korban meninggal akibat kehabisan oksigen setelah wajah dan kepala dililit lakban.
Setelah korban tewas, truk kemudian dibawa berputar-putar di wilayah Riau untuk menghilangkan jejak.
Terungkap GPS
Kasus tersebut mulai terungkap ketika pihak perusahaan ekspedisi merasa curiga dengan pergerakan GPS kendaraan yang tidak sesuai rute tujuan. Truk yang seharusnya menuju Lampung justru terpantau berputar-putar di wilayah Riau sebelum akhirnya sinyal GPS hilang. ”Kecurigaan perusahaan muncul karena kendaraan keluar dari jalur pengiriman. Setelah GPS hilang, pihak perusahaan melapor ke Polsek Payung Sekaki,” katanya.
Petugas kemudian melakukan pengecekan ke lokasi terakhir sinyal GPS di Jalan SM Amin. Saat tiba di lokasi, polisi menemukan truk parkir di area gudang dan bengkel. Ketika kabin dibuka, korban ditemukan sudah tidak bernyawa.(yls)
Laporan DOFI ISKANDAR, Kota
Editor : Arif Oktafian