PEKANBARU (RIAUPOS.CO) - Best Planter Indonesia (BPI) menyenggarakan pelatihan gelombang 3 pada tanggal 30 Juni-3 Juli 2026 di Provinsi Riau untuk modul pembuatan dan aplikasi pupuk organik.
Peserta pelatihan yang berjumlah 201 orang berasal dari Kabupaten Kuantan Singingi dan Bengkalis. Pelatihan ini merupakan program pengembangan sumberdaya manusia perkebunan tahun 2026 yang didanani sepenuhnya oleh BPDP dan mendapat dukungan teknis dari Ditjenbun.
Pembukaan pelatihan dilakukan di Ballroom Hotel Bono, Pekanbaru. Dalam sambutannya, Direktur Operasional Best Planter Indonesia (BPI), Friyandito SP MM menyampaikan, pelatihan pupuk organik ini diusulkan oleh BPI di proposal pelatihan sejak tahun 2023, 2024 dan 2025.
‘’Alhamdulillah di tahun 2025 pelatihan pupuk organik diakomodir dalam Kepdirjenbun No.40/Kpts./KB.020/E/05/2025 dan diperbaharui dengan Kepdirjenbun No.43/Kpts./KB.330/E/03/2026 untuk penyelenggaraan di tahun 2026,’’ ujar Friyandito.
Baca Juga: Pekanbaru Bakal Setara Kota Besar Nasional Pemko Teken MoU dengan Pemkot Bandung
BPI memberanikan diri mengajukan pelatihan pupuk organik ini dengan dukungan penuh dari holding perusahaan BPI yaitu Mitra Agrindo Group (MAG). Salah satu unit kerja di bawah MAG yaitu PT Mitra Sukses Agrindo adalah produsen produk berbasis bio termasuk pupuk organik.
Dalam sambutannya, Direktur Operasional BPI menyampaikan, pemupukan organik tidak bisa lepas dari pemupukuan kimia pabrikan, keduanya saling melengkapi. Rekomendasinya adalah penggunaan 50 persen pupuk organik dan 50 persen pupuk kimia.
Kadisbunnak Kabupaten Kuantan Singingi, Andi Yama Putra SHut MSi menyampaikan kepada peserta, agar kesempatan ikut pelatihan pupuk organik ini jangan disia-siakan. ‘’Ilmu dan pengalaman yang didapat di-share ke teman-teman lain yang belum berkesempatan ikut pelatihan,’’ ujar Andi.
Baca Juga: Hari Ini, Abdul Wahid Dijadwalkan Hadapi Tuntutan
Dia berharap, kesempatan pekebun Kuansing untuk bisa ikut pelatihan di tahun 2027 nanti bisa lebih banyak lagi. ‘’Terima kasih kepada Dinas Perkebunan Provinsi Riau atas dukungannya ke pekebun Kuansing untuk bisa ikut pelatihan dalam 2 tahun ini,’’ sebutya.
Sekretaris Dinas Kabupaten Bengkalis, Dahen Tawakal SSos MSi menyampaikan apresiasi kepada BPI dan Disbun Provinsi Riau atas kesempatan pekebun dari Bengkalis untuk mengikuti pelatihan SDM perkebunan tahun 2026 ini. Harapannya di tahun 2027 depan jumlahnya semakin meningkat, dan BPI dapat setiap tahun menjadi penyelenggara pelatihan di Provinsi Riau.
Dia juga menyampaikan, pelatihan pupuk ini sangat menarik, bisa mengurangi biaya mengelola kebun sawit. Pupuk organik dikombinasi dengan pupuk kimia pabrikan agar hasil produksi sawit semakin hari semakin meningkat. Per 1 Juli 2026, pemerintah meluncurkan program B50 (pencampuran 50 persen minyak sawit dalam bahan bakar solar), dimana produksi sawit diharapkan terus meningkat dan impor solar bisa menurun.
Baca Juga: Audisi Umum PB Djarum di Pekanbaru Diramaikan 306 Peserta
Kepala Dinas Perkebunan Provinsi Riau, Supriadi SHut MT yang membuka pelatihan pembuatan dan aplikasi pupuk organik menyampaikan, luas sawit di Provinsi Riau hampir 1/4 luas sawit di Indonesia, yaitu 3 juta hektare dari 14 juta hektare sawit Indonesia. Berapa pupuk yang dibutuhkan pekebun Riau? Jika dikali 8 Kg per pokok per tahun, diperlukan 3.5 juta ton pupuk. Berapa omset pupuk jika dikalikan harga satuan? Yang paling besar nilainya dalam mengelola kebun sawit adalah biaya pupuk. Biaya pupuk ini bisa dikurangi dengan pemakaian pupuk organik, yang dibuat sendiri oleh pekebun.
‘’Bapak ibu peserta pelatihan adalah orang terpilih di Provinsi Riau, kita wajib bersyukur dan beruntung bisa ikut pelatihan ini,’’ ujar Supriadi.
Dia juga berpesan kepada peserta pelatihan, jika ingin berkebun sawit secara berkelanjutan, buat dan aplikasikanlah pupuk organik.(ifr)
Editor : Arif Oktafian