PEKANBARU (RIAUPOS.CO) — Berdasarkan pantauan radar citra satelit BMKG Pekanbaru Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), hari ini, Selasa (25/8/2026), jumlah titik panas mencapai 2.787.
Jumlah titik panas ini berada hampir di seluruh provinsi di Pulau Sumatera diantaranya Provinsi Sumatera Selatan yang masih mendominasi total titik panas di Sumatera sebanyak 1.551 .
Dari keterangan Forecaster On Duty Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) Pekanbaru, Bella R. Adelia, sejak pukul 23.00 wib, total titik panas (hotspot) wilayah Sumatera terus mengalami peningkatan yang cukup signifikan.
Baca Juga: Udara Pekanbaru Berbahaya, Aktivitas di Luar Ruangan Tidak Diperbolehkan
Provinsi Riau menjadi penyumbang kedua jumlah titik panas terbanyak di Sumatera dengan 447 titik, Provinsi Jambi juga tidak mau ketingalan ikut menyumbang hotspot sebanyak 361, Provinsi Lampung 172, Provinsi Bangka Belitung 109 titik panas.
Daerah lainnya adalah Provinsi Aceh 11, Bengkulu 26, Sumatera Utara 24, dan Sumatera Barat 15, serta Kepulauan Riau 71.
Sedangkan untuk titik di Provinsi Riau, masih didominasi Kabupaten Pelalawan dengan 174 titik panas. Disusul Kabupaten Indragiri Hilir 159 titik panas, Kabupaten Bengkalis 40, Kabupaten Kepulauan Meranti 3.
Baca Juga: Kualitas Udara Pekanbaru Sejak Tengah Malam hingga Pagi Ini Berbahaya
Kabupaten Kampar 14, Kabupaten Kuantan Singingi 1, Kabupaten Rokan Hilir 9, Kabupaten Rokan Hulu 7, Kabupaten Siak 6, Kabupaten Indragiri Hulu 29, dan Kota Pekanbaru 5.
Akibat banyakvya titik panas, kualitas udara Kota Pekanbaru berada dalam kondisi berbahaya sejak tengah malam hingga Selasa (25/8/2026) pagi. Konsentrasi partikulat halus atau PM2.5 tercatat sangat tinggi dan bertahan pada level yang berisiko bagi kesehatan masyarakat.
Berdasarkan data pemantauan resmi BMKG, konsentrasi PM2.5 di Pekanbaru pada pukul 03.00 WIB mencapai 420,1 mikrogram per meter kubik (µg/m³). Kemudian, pada pukul 06.00 WIB, konsentrasinya masih tercatat 328,9 µg/m³ dengan kategori 'berbahaya'.
Baca Juga: 5 Cara Sederhana Memilih Buah dan Sayuran agar Tak Salah Membeli
Data tersebut menunjukkan bahwa kondisi udara buruk bukan baru terjadi pada pagi hari. Sejak tengah malam hingga dini hari, konsentrasi PM2.5 sudah berada pada level sangat tinggi dan kemudian masih bertahan di atas ambang kategori berbahaya hingga pagi.
Grafik riwayat pemantauan yang ditampilkan pada Selasa pagi memperlihatkan konsentrasi PM2.5 berada pada kisaran 400–500 µg/m³ pada periode sekitar pukul 00.00 hingga 03.00 WIB. Level tertinggi terjadi sekitar pukul 01.00 WIB, ketika konsentrasi PM2.5 menembus lebih dari 500 µg/m³.
Memasuki pukul 04.00 hingga 06.00 WIB, konsentrasi mulai mengalami penurunan. Namun, angkanya masih berada di kisaran 300–350 µg/m³, sehingga status kualitas udara tetap berada dalam kategori berbahaya.
Baca Juga: Nanas Memiliki Manfaat yang Tak Terduga, Mulai dari Mencegah Kanker hingga Penghilang Stres
Kondisi tersebut kemudian juga tergambar dalam pemantauan IQAir. Pada sekitar pukul 06.00 WIB, indeks kualitas udara atau US AQI Pekanbaru tercatat sangat tinggi dan masuk kategori Hazardous (Berbahaya), dengan PM2.5 sebagai polutan utama.
Berdasarkan data yang menjadi bahan pemantauan pagi tersebut, AQI mencapai 529 pada pukul 06.00 WIB dengan konsentrasi PM2.5 sekitar 339,9 µg/m³. Angka ini memperlihatkan betapa buruknya kualitas udara yang dihirup masyarakat Pekanbaru pada pagi hari.
Prakiraan per jam IQAir menunjukkan indeks tersebut memang diperkirakan menurun sepanjang pagi. AQI diprakirakan berada di angka 494 pada pukul 07.00 WIB, kemudian 460 pada pukul 08.00 WIB, 425 pada pukul 09.00 WIB, dan 391 pada pukul 10.00 WIB.
Baca Juga: 6 Makanan yang Mengandung Vitamin K, Berfungsi Pembekuan Darah dan Kesehatan Tulang
Namun, penurunan tersebut belum berarti kualitas udara langsung kembali aman. Bahkan dengan tren menurun, indeks masih berada pada level yang sangat tinggi sehingga masyarakat tetap perlu membatasi paparan udara luar ruangan.
Kondisi ini menjadi perhatian karena paparan PM2.5 dalam konsentrasi tinggi dapat berdampak terhadap kesehatan, terutama bagi kelompok rentan. Anak-anak, lanjut usia, ibu hamil, serta masyarakat yang memiliki gangguan pernapasan perlu lebih membatasi aktivitas di luar rumah.
"Hampir seluruh daerah di Provinsi masih terdeteksi titik panas, BMKG Pekanbaru mengimbau masyarakat untuk waspada potensi Karhutla dan kurangi aktivitas di luar ruangan, konsumen air putih yang banyak ,"tegas Bella R. Adelia.
Baca Juga: 4 Makanan Ini Kaya Vitamin E, Membantu Lindungi Sel dan Mendukung Fungsi Kekebalan Tubuh
Selain itu, berdasarkan informasi Dinamika Atmosfer SOI : -19.7 (signifikan > +7) tidak berpengaruh terhadap peningkatan pola konvektif di sebagian wilayah Indonesia bagian tengah dan timur.
Indeks ENSO di NINO 3.4 : +2.3 (signifikan < ±0.8 )tidak berpengaruh terhadap peningkatan pola konvektif di sebagian wilayah Indonesia.
DMI : +0.18 (normal ±0.4)tidak berpengaruh terhadap peningkatan aktivitas/pola konvektif di wilayah Indonesia bagian barat.
Baca Juga: Atasi Sembelit dengan 8 Makanan yang Kaya Serat Ini, Kaya Serat dan Baik untuk Pencernaan
MJO : Fase 7 (Netral) tidak berkontribusi terhadap proses pembentukan awan hujan di wilayah Indonesia; Secara spasial diprediksi aktif di wilayah Pesisir utara Aceh.
Gelombang Atmosfer Kelvinbl berada di Sumut, Sumbar, Riau, Jambi, Kalbar, Kaltara.
Sedangkan untuk gelombang Rossby Ekuatorial terpantau nihil. Namun Indeks Surge +4.6 (signifikan > +10) Aliran massa udara dingin tidak signifikan terhadap wil. Indonesia (update 00.00UTC 2026/08/25).
Baca Juga: Atlet Panglimo Rimbo Piako Dikawal Polres Inhu dari Kuansing, Disambut Ratusan Warga Pekan Heran
Belokan angin dan konvergensi Daerah potensi pertumbuhan awan hujan di Aceh, Sumut, Sumbar, Riau, Kepri, Jambi, Kalbar, Kaltim, Kalteng, Kaltara, Sulbar, Gorontalo, Sulut, Maluku Utara, Papua Barat Daya, Papua Barat, Papua Tengah, Papua, dan Papua Pegunungan.
SST anomali : -3.0 s/d +3.4 °C: Potensi penguapan (penambahan massa uap air) di Samudra Hindia barat dan utara Sumatra, Selat Malaka, Perairan timur Aceh-Sumsel, Laut Natuna bag. utara, Selat Sunda, Pesisir utara P. Jawa, Pesisir selatan Banten, Teluk Tomini, Teluk Bone, Laut Sulawesi, Teluk Cendrawasih, Samudra Pasifik utara Papua.
Editor : M. Erizal