PEKANBARU (RIAUPOS.CO) - Kabut asap yang menyelimuti Kota Pekanbaru, Kamis (27/8/2026) sejak sore hingga malam ini kembali pekat dan menunjukkan kualitas udara ke kategori Sangat Tidak Sehat.
Berdasarkan pantauan Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), indeks kualitas udara Pekanbaru yang sempat membaik kini terus mengalami lonjakan.
Dimana pemantauan BMKG pada pukul 07.00 WIB, konsentrasi PM2.5 di Pekanbaru tercatat 50,3 mikrogram per meter kubik (µg/m³). Angka tersebut masuk kategori sedang. Kondisi ini bertahan di pukul 10.00 wib dimana kualitas udara di Pekanbaru tercatat 50,9 mikrogram per meter kubik (µg/m³).
Baca Juga: Bakar Ranting Pakai Mancis, Warga Tambang Jadi Tersangka Karhutla 15 Hektare
Kondisi kualitas udara masih terus mengalami perubahan akibat tiupan angin yang masih kencang di wilayah Pekanbaru. Terpantau kualitas udara Pekanbaru pukul 12.00 wib berkisar 75,6 mikrogram per meter kubik (µg/m³) dan masuk kategori tidak sehat.
Kualitas udara di Kota Pekanbaru, Riau, kembali memburuk sejak sore hingga malam ini, tercatat konsentrasi PM2.5 melonjak hingga 172,8 mikrogram per meter kubik (µg/m³) dan berada pada level sangat tidak sehat,
Hingga pukul 19.00 WIB, konsentrasi PM2.5 mencapai 231,5 µg/m³ dengan kategori kualitas udara Sangat Tidak Sehat.
Baca Juga: Kolaborasi Hadapi Karhutla, Personel dan Peralatan di Riau Dimaksimalkan
Kondisi ini menjadi perhatian karena PM2.5 merupakan partikulat berukuran sangat kecil yang dapat masuk jauh ke dalam saluran pernapasan.
Menurut Forecaster on duty BMKG Pekanbaru Sanya Gautami, saat ini hembusan kabut asap masih terus mengelilingi Kota Pekanbaru lantaran arah angin berhembus dari arah selatan.
Diperkirakan kabut asap ini bukan hanya terjadi akibat Karhutla yang terjadi di Kita Pekanbaru sendiri tetapi juga daerah selatan Kota Pekanbaru dan provinsi tetangga.
Baca Juga: Unri dan Ruijie Dorong Transformasi Digital Menuju Ekosistem Smart Campus
"Sampai saat ini jika dilihat dari sebaran asap masih asap dari Selatan Kota Pekanbaru. Kami tetap mengimbau masyarakat, terutama kelompok sensitif, perlu meningkatkan kewaspadaan ketika kualitas udara memburuk. Aktivitas di luar ruangan sebaiknya dikurangi dan penggunaan masker dapat dipertimbangkan jika harus berada di tengah kondisi udara yang berasap,"tuturnya.
Editor : M. Erizal