Riau Pekanbaru Nasional Internasional Hukum Ekonomi Olahraga Berita Hiburan Kesehatan Kriminal Pendidikan Sumatera Politik Perca Liputan Khusus Lingkungan Ladies Kebudayaan Begini Ceritanya Kick Out Hoax Interaktif Gaya Hidup Feature Buku Opini Betuah

Mandi Balimau Sultan Momentum Memperkuat Persaudaraan

M Amin Amran • Kamis, 27 Februari 2025 | 10:08 WIB

Wakil Bupati Pelalawan H Husni Tamrin SH melakukan penyiraman air kepada Camat Pelalawan Yusman Effendi dalam prosesi adat mandi Balimau Sultan di pinggir Sungai Kampar
Wakil Bupati Pelalawan H Husni Tamrin SH melakukan penyiraman air kepada Camat Pelalawan Yusman Effendi dalam prosesi adat mandi Balimau Sultan di pinggir Sungai Kampar

PANGKALANKERINCI (RIAUPOS.CO)- Menjelang bulan Ramadan 1446 H/2025 M, masyarakat Pelalawan di Kecamatan Pelalawan bersama Lembaga Adat Melayu Riau (LAMR) Kabupaten Pelalawan menggelar kegiatan tradisi menyambut datangnya bulan suci Ramadan yang disebut dengan Mandi Balimau Sultan.

Mandi Balimau Sultan merupakan tradisi turun-temurun dari Kerajaan Pelalawan. Pelaksanaan kegiatan itu, dilaksanakan di Istana Sayap Kerajaan Pelalawan. Di mana masyarakat berkerumun menyaksikan prosesi kegiatan di pinggir Sungai Kampar yang menjadi lokasi Mandi Balimau Sultan, Selasa (25/2).

Biasanya, tradisi ini diiringi dengan Mandi Balimau Kasai bagi masyarakat luas, dikenal Petang Maogang, setelah Sultan Pelalawan ke X, Assyaidis Syarif Kamaruddin Haroen menyiram kepala pada tetua adat ataupun kepala suku.

Balimau Sultan dimulai dari menjemput pewaris Kerajaan Pelalawan oleh sejumlah pengawal berbaju adat. Sultan kemudian diarak untuk melaksanakan salat berjemaah. Sebelum itu, Sultan Pelalawan mengambil wudu di sebuah telaga yang dikhususkan bagi keluarga kerajaan. Tempat air ini dikenal dengan Talago Nago.

Usai salat Zuhur, Sultan Pelalawan memimpin rombongan untuk berziarah ke pemakaman pendahulunya, tak jauh dari masjid bersejarah yakni Masjid Hibah. Kemudian dilanjutkan makan bersama dengan tamu undangan dan masyarakat sekitar.

Puncak acara adalah penyiraman air dari akar dan bunga dicampur jeruk nipis kepada kepala suku ataupun tokoh adat. Penyiraman ini sebagai sirat penyucian diri sebelum memasuki  Ramadan.

Setelah itu, Sultan Pelalawan memberikan pepatah-petitih berisi pesan moral dalam beragama dan bermasyarakat. Sultan mengajak masyarakat rajin berbagi antara sesama.

“Selalu beristigfar dan mengaji, perbanyaklah sedekah dan memberi, senantiasalah menghitung diri, dalam puasa jangan menyalah, serahkan diri kepada Allah, mestilah puasa membawa berkah. Saling menghormati janganlah lupa jaga persatuan sesama kita,” ujar Sultan Pelalawan Assyaidis Syarif Kamaruddin Haroen kepada Riau Pos, Selasa (25/2).

Mandi Belimau Sultan merupakan tradisi yang dilaksanakan menjelang bulan suci Ramadan sebagai simbol penyucian diri, baik secara fisik maupun spiritual. Prosesi ini dimulai dengan doa-doa adat yang dipimpin oleh tetua adat dan tokoh agama setempat. Dalam suasana yang penuh khidmat, para peserta upacara melaksanakan ritual pembersihan diri sebagai tanda kesiapan memasuki bulan penuh berkah.

Wakil Bupati Pelalawan H Husni Tamrin SH mengungkapkan apresiasinya terhadap upacara adat yang telah menjadi bagian dari warisan budaya masyarakat Pelalawan. Untuk itu, dirinya berharap kegiatan ini selalu digelar sebagai pengingat bagi generasi muda.

“Saya mengajak dapat melestarikan adat yang sudah berusia ratusan tahun ini. Pasalnya, upacara adat Mandi Belimau Sultan ini adalah wujud penghormatan kita terhadap adat istiadat leluhur, serta menjadi momentum untuk memperkuat persaudaraan dan menyongsong bulan Ramadan dengan hati yang bersih,” ujarnya.(amn)

Editor : Arif Oktafian
#masyarakat pelalawan #Petang Maogang #Tradisi Mandi Balimau Sultan #Tradisi menyambut ramadan