PEKANBARU (RIAUPOS.CO) - Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam (BBKSDA) Riau belum berhasil mengidentifikasi harimau yang diduga memangsa dua warga dalam kawasan Perizinan Berusaha Pemanfaatan Hutan (PBPH)-Hutan Tanaman Industri (HTI) di Kabupaten Pelalawan.
Hingga Rabu (15/7), baik kamera jebak maupan perangkap yang dipasang di dua lokasi dua korban dimangsa tersebut belum membuahkan hasil apa-apa. Namun, BBKSDA Riau memastikan, Tim Gabung Wildlife Rescue Unit BKSDA Riau masih bersiaga di lokasi.
‘’Teman-teman masih melakukan pemantauan di lapangan,’’ sebut Kepala Bidang Teknis BBKSDA Riau, Ujang Holisidin, Rabu (15/7) sore. Ujang belum bias berkomentar terkait tindakan yang akan diambil bila harimau masuk perangkap. Saat ini pihaknya fokus untuk memastikan keamanan di lokasi.
Baca Juga: Tingkatkan Keterampilan Guru dalam Mempersiapkan Media Belajar STEM Berbasis Robotik
Berdasarkan pemeriksaan terhadap dua lokasi peristiwa berdarah terkaman harimau itu, BBKSDA Riau menemukan ada kesamaan. Hal ini dalam hal ukuran jejak kaki harimau. Berdasarkan identifikasi Tim BBSKDA Riau di dua lokasi tersebut, baik di lokasi pertama di Desa Sungai Ara dan lokasi kedua yang berjarak sekitar 6,5 km, ditemui ukuran jejak kaki harimau sama yakni sekitar 16×15 cm.
Disinggung soal kesamaan jejak kaki, Ujang membenarkannya. Namun karena hingga sore kemarin belum ada seekor harimau pun terdeteksi, BBKSDA Riau belum menyimpulkan apapun. ‘’Belum bisa dipastikan apakah itu harimau yang sama atau berbeda, terutama kalau dari ukuran jejak kakinya saja,’’ ucap Ujang.
Baca Juga: BBKSDA Intensif Pantau Pergerakan Harimau di Pelalawan
Seperti diberitakan sebelumnya, seorang remaja bernama Jerlin Zalukhu (12) ditemukan tewas di area konsesi diantara Sungai Ara dan Pengkalan Terap, Kecamatan Pelalawan, Selasa (7/7). Beberapa hari kemudian, tepatnya Jumat (10/7), giliran pekerja kawasan konsesi bernama Eko Prastio (29), ditemukan tewas diterkam harimau. Jarak lokasi mayat Eko ditemukan dengan Jerlin sekitar 6,5 km.(das)
Laporan HendraWAN Kariman, Pekanbaru
Editor : Arif Oktafian