Riau Pekanbaru Nasional Internasional Hukum Ekonomi Olahraga Berita Hiburan Kesehatan Kriminal Pendidikan Sumatera Politik Perca Liputan Khusus Lingkungan Ladies Kebudayaan Begini Ceritanya Kick Out Hoax Interaktif Gaya Hidup Feature Buku Opini Betuah

Riau Memiliki Silika yang Melimpah Ruah

Herianto Baserah • Kamis, 21 Agustus 2025 | 09:04 WIB

Prof. Dr. Yelmida Azis, M.Si. - Guru Besar UNRI
Prof. Dr. Yelmida Azis, M.Si. - Guru Besar UNRI

PEKANBARU (RIAUPOS.CO) – Prof. Dr. Yelmida Azis, M.Si., adalah salah satu dosen senior Fakultas Teknik (FT) Universitas Riau (Unri). Namanya menambah deretan guru besar di universitas tersebut. Setelah menghabiskan lebih dari separuh usianya—yakni 35 tahun mengabdi dengan berbagai kegiatan dan penelitian—pada puncak kariernya ia akhirnya memperoleh gelar Guru Besar dalam bidang Kimia Material.

Penetapan guru besar tersebut berlaku per 1 April 2025 oleh Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi RI. Prof. Dr. Yelmida yang bersuamikan Emsidarta, S.E., dan memiliki dua orang putra, menempuh pendidikan SD, SMP, hingga SMA di tanah kelahirannya, Bukittinggi.

Tahun 1982, ia kuliah di Jurusan Kimia FMIPA Universitas Andalas (Unand) Padang. Selesai tahun 1987 dengan judul skripsi Isolasi dan Penentuan Struktur Amida dari Spilanthes ocimifolia. Tahun 1990 ia menjadi dosen Unri di Fakultas Non Gelar Teknik (FNGT). Pada tahun 1991 diangkat menjadi PNS. Ia melanjutkan pendidikan Magister (S2) Kimia di ITB Bandung pada tahun 1993 melalui beasiswa TMPD dan lulus tahun 1995 dengan judul tesis Beberapa Senyawa Metabolit Sekunder dari Daun Morus macroura Miq. Setelah menyelesaikan S2, ia kembali ke Program Studi Diploma 3 Teknik Kimia (yang telah terpisah dari FNGT) dan mengajar berbagai mata kuliah sesuai keahliannya, seperti kimia organik, kimia fisik, peralatan industri kimia, dan lain sebagainya.

Tahun 2011, pada usia 48 tahun, ia melanjutkan studi S3 di Jurusan Kimia Unand melalui beasiswa BDN dan selesai tahun 2015 dengan judul disertasi Sintesis, Karakterisasi, dan Aplikasi Hidroksiapatit dari Kulit Kerang Darah (Anadara granosa) sebagai Sumber Kalsium dengan Proses Hidrotermal.

Sejak 2016 hingga 2024, ia dipercaya menjadi Koordinator Prodi D3 Teknik Kimia selama dua periode. Menurutnya, tugas sebagai kaprodi tidak mengurangi kesibukannya dalam membimbing tugas akhir mahasiswa D3, S1, dan S2 Teknik Kimia, bahkan juga menjadi pembimbing pendamping mahasiswa dari fakultas lain, seperti Biologi atau Perikanan. Di tingkat nasional, ia sering terlibat sebagai dosen pembimbing mahasiswa pada kegiatan PKM. Tahun 2013, ia mengantarkan mahasiswa Teknik Kimia Unri untuk pertama kali lolos ke ajang PIMNAS di Lombok, Nusa Tenggara Barat.

Ia juga dikenal sebagai Auditor AMI, asesor BKD FT, serta asesor BKD eksternal di Politeknik Kampar dan FT UMRI sejak 2011. Sering dipercaya menjadi reviewer artikel jurnal nasional maupun internasional. Terkait penelitian hidroksiapatit, ia beberapa kali mendapatkan hibah penelitian, di antaranya Hibah Penelitian Fundamental dari Dirjen Dikti melalui Hibah Penelitian Desentralisasi (2014–2015), Hibah Bersaing (2015–2016), dan Hibah Penelitian Berbasis Kompetensi (2018). Selain itu, dana penelitian DIPA Unri hampir setiap tahun ia peroleh.

Artikel penelitiannya telah diterbitkan di jurnal internasional bereputasi Q1, Q2, Q3, book chapter internasional, serta jurnal nasional terakreditasi Sinta. Atas pengabdiannya lebih dari 30 tahun, ia menerima Penghargaan Satyalancana 20 tahun dan 30 tahun dari Presiden RI. Beberapa penghargaan sebagai presenter terbaik pada seminar nasional maupun internasional juga pernah ia raih.

Kepada Riau Pos, Selasa (19/–) di kantornya, ia menyampaikan bahwa sesuai bidang keahliannya yang kerap meneliti tentang hidroksiapatit berbasis bahan alam, dirinya semakin penasaran menggali potensi sumber daya alam Riau.

Salah satu bahan bentukan alam yang digunakannya dalam penelitian menuju gelar Guru Besar adalah pasir laut dari Pantai Selat Baru, Bengkalis. Setelah diteliti di Laboratorium Kimia, pasir tersebut diketahui mengandung silika sebanyak 90 persen, yang kemudian dimurnikan menjadi 93 persen, sisanya unsur kimia lain.

“Coba kita bayangkan betapa kayanya kita dengan sumber mineral yang melimpah dan tidak akan habis-habisnya. Pasir silika atau SiO₂ ini merupakan bahan baku utama industri kaca, pembuatan keramik, bahkan untuk perawatan kesehatan manusia,” ujarnya.(nto/c)

Editor : Rindra Yasin
#Kimia Material #Yelmida Azis #Unri #guru besar #pendidikan tinggi #pasir silika #penelitian #universitas riau